Home / Tokoh / Dimas Iqbal dan Tunggul Puji; Membagi Ilmu secara Cuma-cuma

Dimas Iqbal dan Tunggul Puji; Membagi Ilmu secara Cuma-cuma

Pengalaman pernah disuruh pulang lantaran belum membayar biaya kursus waktu SMA tidak membuat Dimas Iqbal Romadhon (25) patah arang. Beberapa tahun kemudian, bersama sang istri, Tunggul Puji Lestari (26), ia memiliki keinginan membagikan ilmu kepada masyarakat luas secara cuma-cuma. Baginya, pendidikan tidak bisa dikapitalisasi.

Keinginan itu terwujud. Kini lebih dari 100 anak telah mengenal bahasa asing melalui Sekolah Alam Ngelmu Pring yang ia rintis. Di tempat seluas 300 meter persegi yang ia sebut sebagai pedepokan itulah 30-40 anak menimba ilmu setiap Sabtu sore dan Minggu pagi. Pedepokan Ngelmu Pring berada tepat di bibir tebing anak Sungai Brantas di Jalan Patimura III, Batu, Jawa Timur.

Kondisi kelasnya lesehan dan sederhana. Sebuah rak berisi buku dan televisi terpampang berseberangan dengan papan tulis yang saat itu masih dipenuhi goresan syair lagu berbahasa Perancis, ”Mon Petit Lapin”. Beberapa lukisan karya siswa terpajang di satu sisi yang sekaligus menjadi dinding kelas. Suasana ruang semiterbuka itu makin nyaman oleh beberapa bunga dalam pot yang juga ditanam oleh siswa.

Sementara di salah satu sudut, gambar pasangan calon gubernur Jatim saat bertarung dalam pemilihan kepala daerah tahun lalu belum juga dilepas. Ya, pedepokan Ngelmu Pring memang tidak hanya dipakai untuk belajar. Tempat itu juga digunakan untuk mendukung kegiatan warga, salah satunya menjadi tempat pemungutan suara.

Dimas menuturkan, pedepokan yang berada 200 meter dari jalan raya itu berdiri pada Januari 2013. Sebelumnya, kegiatan belajar dilakukan dengan meminjam gedung SD Temas yang ada di seberang jalan. Di gedung SD itulah, Dimas dan Puji dibantu sejumlah rekan satu almamater mulai memperkenalkan bahasa asing melalui kegiatan yang dinamai Kampung Inggris, Perancis, dan Jepang.

”Tiga bahasa itu dipilih karena pengajarnya saat itu memang menguasai tiga bahasa. Kegiatan itu sendiri dilakukan penuh selama dua pekan,” ujarnya. Lantaran ingin agar gaungnya bertambah besar, alumnus Sastra Inggris Universitas Brawijaya, Malang, ini kemudian menghubungi pemerintah daerah melalui dinas terkait. Tujuannya agar dinas menindaklanjuti apa yang telah ia rintis, tetapi hal itu tidak membuahkan hasil.

Patungan dana
Kebuntuan tidak menjadikan Dimas menyerah. Bersama rekan-rekannya, mereka patungan mengumpulkan dana hingga akhirnya bisa mendirikan pedepokan dengan memanfaatkan lahan milik orangtua istri yang tidak terpakai. Lahan bekas kandang ayam itu pun disulap menjadi sekolah alam yang menyenangkan. ”Saat pedepokan berdiri, saya sempat mengajukan proposal ke almamater, bermaksud mengajak para dosen ikut. Namun, upaya itu gagal. Lalu, kami mengajak para mahasiswa ikut serta dan berhasil sampai sekarang,” ujarnya.

Nama Ngelmu Pring sendiri disematkan karena tempat belajar ada di bawah rumpun bambu. Pring merupakan bahasa Jawa dari bambu. Jadi, makna harfiah ”Ngelmu Pring” adalah menuntut ilmu di bawah rumpun bambu. Adapun filosofisnya bahwa bambu merupakan tanaman yang paling dekat dengan manusia. Sejak lahir, hidup, sampai mati dan dikubur, orang selalu menggunakan bambu.

Hingga kini ada sekitar 40 pengajar yang terlibat di Ngelmu Pring. Mereka berasal dari sejumlah universitas di Malang dengan latar belakang profesi yang berbeda. Ada dosen, mahasiswa, dan swasta. Seperti halnya para siswa, para pengajar juga tidak dibayar. Mereka adalah orang-orang yang siap kehilangan waktu, tenaga, dan biaya, termasuk rela patungan untuk biaya operasional sekolah.

Selain lokal, ada pula sejumlah orang asing yang sempat membantu mengajar. Akhir Agustus sampai pertengahan September lalu, misalnya, ada 15 orang asing dari sejumlah negara, seperti Portugal, Jerman, Taiwan, Mesir, Tunisia, Tiongkok, dan Jepang, yang tergabung dalam lembaga pertukaran pemuda antarnegara ikut berpartisipasi.

Dalam perkembangannya, Ngelmu Pring memang tidak hanya memperkenalkan bahasa asing. Dengan pembagian dua kelompok besar, yakni kelas A untuk anak usia kurang dari 12 tahun dan kelas B untuk anak SMP- SMA, Ngelmu Pring juga mengajarkan berwiraswasta. Para siswa diajarkan bagaimana memanfaatkan potensi lokal yang ada sehingga bisa dikembangkan untuk mendukung taraf hidup.

”Fokus pendidikannya memang meningkatkan kualitas taraf hidup masyarakat. Jadi, kami melakukan apa pun berbasis lokal yang bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Siswa kami kenalkan kewirausahaan. Batu dikenal sebagai kota wisata, jadi kita juga siapkan mereka bisa menjadi pelaku wisata. Dengan demikian, mereka tidak hanya menikmati kemacetan lalu lintas, tetapi juga memperoleh hal positif lain,” ujar Dimas.

Memperkenalkan bahasa asing kepada anak-anak tidaklah mudah. Salah satu kendalanya adalah meyakinkan para orangtua siswa. Hal ini terjadi karena metode yang digunakan dalam Ngelmu Pring berbeda dengan sekolah formal. Di sini anak-anak diperkenalkan bahasa dalam suasana gembira, melalui nyanyi dan drama. Dalam teori linguistik program, belajar sesuatu yang dibungkus dengan kegiatan lain akan lebih mengena dibandingkan duduk dan mendengar.

Dimas Iqbal Romadhon dan Tunggul Puji Lestari”Mengapa saya termotivasi membuat tempat belajar gratis dan bisa dijangkau masyarakat luas dari berbagai status ekonomi? Pertama, karena pengalaman saya dulu yang harus membayar agar bisa ikut kursus. Kedua, kemampuan berbahasa asing menjadi faktor penting bagi masyarakat setempat untuk terlibat aktif dalam pengembangan Batu sebagai kota wisata,” ujarnya.

Ke depan Dimas mempunyai keinginan untuk membuat sebuah akademi bahasa. Seperti Ngelmu Pring, akademi bahasa itu nantinya juga diharapkan bisa diakses masyarakat luas secara cuma-cuma. Jika akademi ini terwujud nantinya, akan menjadi akademi pertama di Indonesia yang menerapkan cara seperti itu.

”November besok saya ke Filipina. Saya diundang ke konferensi dan berbicara di salah satu radio di sana. Tidak ada salahnya, saya berharap bisa merangkul banyak orang sebagai donasi untuk mewujudkan (akademi) nantinya,” kata Dimas. Dia berharap kepada para mantan pengajar yang telah keluar dan pindah ke tempat lain untuk bisa membuat tempat belajar gratis semacam Ngelmu Pring.

—————————————————————————
BIODATA
? Nama: Dimas Iqbal Romadhon
? Lahir: Bangkalan, 18 April 1989
? Istri: Tunggul Puji Lestari (26)
? Pendidikan:
– SDN Pejagan 5 Bangkalan
– SMPN 1 Bangkalan
– SMAN 1 Bangkalan
– Sastra Inggris Universitas Brawijaya (Lulus 2011)
? Jabatan:
– Kepala Lembaga Inkubator Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat
– Dosen luar biasa Universitas Muhammadiyah Malang
– Ketua BKPK Dekopindo Kota Batu
– Direktur CV Jaya Mandiri Kota Batu
– Sekarang sedang mengikuti Program S-2 Pendidikan Bahasa Inggris

Oleh: Defri Werdiono

Sumber: Kompas, 20 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: