Home / Berita / Dilema Pemakaian Kantong Plastik dan Rasa Aman Saat Pandemi

Dilema Pemakaian Kantong Plastik dan Rasa Aman Saat Pandemi

Larangan penggunaan kantong plastik di Jakarta muncul pada saat yang sulit. Sebagian warga justru menambah penggunaan kantong plastik untuk mencegah penularan Covid-19.

Sejak Rabu (1/7/2020), pedagang pasar dihebohkan dengan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Di sejumlah pasar dan pusat perbelanjaan, kini mulai terpasang informasi bertuliskan ”Stop penggunaan kantong plastik!”.

Larangan itu tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan, dan Pasar Rakyat. Pergub yang diundangkan pada 31 Desember 2019 ini mulai berlaku 1 Juli 2020.

Walakin, kondisi di pasar dan pusat perbelanjaan tampak berbeda. Pada hari kedua berlakunya pergub ini, Kamis (2/7/2020), pedagang sejumlah pasar di Jakarta belum sepenuhnya menerapkan pengurangan kantong plastik.

Gunawan (23), pedagang di Pasar Senen, Jakarta Pusat, masih membungkus penjualan sayur dari pelanggan dengan kantong plastik sekali pakai. Pada masa pandemi Covid-19, dia malah membungkus dagangannya dengan dua kantong plastik.

Bungkusan kantong plastik itu diminta untuk pengiriman kepada pembeli langganan di rumah. ”Belakangan memang pembeli minta bungkus plastiknya dibanyakin. Katanya buat jaga-jaga, biar enggak kena Covid-19,” ucap Gunawan.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO—Sosialisasi pelarangan penggunakan kantong plastik sekali pakai terpasang di meja kasir Foodmart, Plaza Semanggi, Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2020). Pemprov DKI Jakarta melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat mulai 1 Juli 2020.

Hal serupa dilakukan Sinem (55), penjual daging ikan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Membungkus daging pada masa pandemi Covid-19 justru butuh tiga sampai empat kantong plastik. ”Ada perasaan aman kalau kantong plastiknya dilebihkan, dan sekarang pembeli juga minta begitu, sih,” kata Sinem.

Baik Sinem maupun Gunawan merasa, kebijakan melarang kantong plastik menjadi dilematik. Mereka mengakui, penggunaan kantong plastik semakin banyak dan sering pada masa pandemi. Mereka pun bingung bagaimana bereaksi saat pelanggan meminta kantong plastik. ”Apa harus menolak?” ujar Sinem.

Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta selama pandemi Covid-19 memang ada kenaikan penggunaan plastik meski jumlah total sampah per hari menurun. Selama periode 1-15 Maret 2020, sampah yang dihasilkan rata-rata 9.300 ton per hari. Kemudian setelah ada Seruan Gubernur untuk beraktivitas di rumah pada 16 Maret-9 April 2020, jumlah sampah menjadi 8.400 ton per hari.

Lalu, pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) periode 10 April-4 Juni 2020, jumlah sampah turun menjadi 6.300 ton per hari. Meski turun, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Edy Mulyanto menuturkan, komposisi sampah plastik meningkat. Dia tidak merinci secara pasti berapa persentasi sampah plastik di sana.

Dilematik
Edy mengakui, kondisi penerapan pergub larang kantong plastik memang dilematik saat ini. Dia melihat tren pemakaian kantong dan pelapis plastik meningkat di mana-mana, terutama pula pada penjualan lewat teknologi daring.

Survei dari Tim Teliti Sampah bersama Pusat Penelitian Oseonografi dan Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) turut mengungkap tren pemakaian kantong plastik selama pandemi Covid-19. Survei melibatkan 715 responden dari wilayah Jabodetabek selama 20 April hingga 5 Mei 2020.

Hasilnya, 62 persen responden cenderung berbelanja secara daring. Sementara sekitar 96 persen belanjaan responden dibungkus dengan bahan-bahan dari plastik.

Seorang anggota tim peneliti dari LIPI, Intan Suci Nurhati, mengatakan kenaikan penggunaan plastik menjadi keniscayaan pada masa Covid-19. ”Hal ini tampaknya terjadi di beberapa negara lain seiring aktivitas daur ulang plastik juga menurun. Namun, beban sampah plastik ini juga tidak bisa terus dibiarkan,” ucapnya.

Intan menyampaikan, penggunaan plastik yang semakin banyak tidak lantas membuat paket pengiriman barang menjadi aman dari virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Kabar baiknya, 60 persen reponden survei percaya bahwa kemasan plastik tidak menjamin keamanan barang dari Covid-19.

”Sebagian responden memilih untuk menyemprot cairan disinfektan saat membuka bungkus plastik. Ada pula cara yang lain, yakni mendiamkan paket selama beberapa jam hingga virus diyakini telah mati,” ucap Intan.

Kepercayaan responden itu menjadi potensi untuk menanamkan pola diet plastik selama pandemi Covid-19. Diet plastik harus tetap dilakukan untuk mengurangi beban sampah kota yang terus menggunung setiap hari.

Intan Suci Nurhati bersama Muhammad Reza Cordova sebelumnya menerbitkan jurnal internasional berjudul Major Sources and Monthly Variations in the Release of Land-derived marine debris from the Greater Jakarta Area, Indonesia. Riset ini untuk pertama kali menghasilkan data bersumber dari lapangan terkait jumlah, jenis, dan bobot sampah asal sungai-sungai yang bermuara ke teluk Jakarta.

Riset ini mengonfirmasi bahwa plastik adalah jenis sampah terbanyak yang mencemari perairan di Jakarta, yakni sebanyak 59 persen. Riset juga menghasilkan estimasi bahwa setiap hari, rata-rata 97.098 sampah masuk dengan bobot rata-rata 23 ton per hari dari sembilan sungai. Sungai tersebut meliputi 1 sungai di Kabupaten Tangerang (Sungai Dadap), 7 sungai di DKI (Sungai Angke, Pluit, Ciliwung, Kali Item, Koja, Cilincing, dan Marunda), serta Sungai Bekasi di Kabupaten Bekasi.

Dari jumlah itu, Intan dan Reza mengestimasi rata-rata ada 57.668 sampah berjenis plastik per hari dengan bobot rata-rata 8,32 ton per hari. Porsi sampah berjenis plastik, dengan demikian, sekitar 59 persen terhadap semua jumlah sampah.

Peraturan bertahap
Agar tidak memperparah permasalahan sampah, Pemprov DKI Jakarta tetap melarang penggunaan kantong plastik dengan menerbitkan pergub. Edy Mulyanto menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta berusaha konsisten dengan aturan yang telah dikeluarkan. Pergub akan tetap dijalankan secara bertahap hingga beberapa bulan mendatang. Sesuai dengan ketentuan, ada sanksi administratif yang berlaku ketika melanggar nantinya.

”Sesuai instruksi Gubernur, saat ini kita terapkan imbauan-imbauan dan menanamkan kebiasaan warga membawa tas belanja sendiri. Hal ini yang ditekankan kepada warga agar pemakaian kantong plastik semakin jarang,” ucap Edy.

Edy meyakini, menanamkan kebiasaan baru kepada warga akan lebih efektif. Selagi mengimbau kebiasaan baru dengan peraturan, Pemprov juga mengimbau pengelola dan produsen untuk mulai mengurangi pemakaian kantong plastik.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri juga berharap pemerintah menyediakan alternatif pengganti bagi kantong plastik. ”Selain sosialisasi, perlu juga alternatif yang jelas. Tidak hanya berhenti di sosialisasi dan surat edaran,” tuturnya.

Oleh ADITYA DIVERANTA

Sumber: Kompas, 2 Juli 2020

Share
x

Check Also

Aplikasi Kelas Digital Makin Interaktif

Layanan kelas digital kini ditopang dengan berbagai aplikasi pembelajaran daring. Aplikasi yang disediakan kian interaktif ...

%d blogger menyukai ini: