Home / Artikel / Di Balik Terpuruknya Peringkat PT

Di Balik Terpuruknya Peringkat PT

Awal Oktober lalu Times Higher Education kembali mengumumkan ranking universitas sedunia yang masuk dalam kelompok World Class University. Tak satu pun universitas dari Indonesia terlihat dalam daftar universitas kelas dunia tersebut.

Salah satu yang paling menarik dari daftar tersebut adalah beberapa universitas yang masuk dalam jajaran World Class University (WCU) ini usianya baru 20 tahun, seperti Nanyang Technological University (NTU, Singapura), Yuan Ze University (Taiwan), dan Koc University (Turki). Padahal tidak sedikit universitas di Indonesia yang berusia di atas setengah abad. Pertanyaannya, mengapa tiga universitas muda itu mampu, sementara universitas kita tidak?

Pertanyaan ini menjadi penting karena di tengah keyakinan negara-negara maju tentang peran universitas sebagai ”mesin pertumbuhan ekonomi”, Indonesia tampak kurang semangat terhadap perkembangan dan masa depan universitasnya. Tidak terlihat adanya wacana, apalagi kebijakan yang jelas dan fokus tentang arah perkembangan universitas ke depan di tengah persaingan antarbangsa yang tampak serius dalam membangun universitas masing-masing.

Apa sebenarnya yang dilakukan NTU, Yuan Ze University, dan Koc University dalam membangun universitasnya sehingga mampu masuk di jajaran kelas dunia dalam waktu relatif singkat? Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, Times Higher Education bermitra dengan NTU menyelenggarakan World Academic Summit. Perhelatan dihadiri 210 peserta dari 39 negara, terdiri atas pimpinan universitas terkemuka dan perwakilan industri, seperti BMW dan Volvo.

Menurut Prof Arnoud De Meyer, President Singapore Management University, membangun WCU perlu kerja ekstra keras dan cerdas. Sudah menjadi hal biasa bagi universitas terkemuka di Singapura merekrut para profesor Barat untuk diangkat sebagai pimpinan universitas ataupun profesor. Rektor NTU Bertil Andersson, misalnya, adalah guru besar berasal dari Barat. Rektor Koc University adalah profesor yang sudah cukup lama berkecimpung di sebuah kampus sangat terkemuka di Amerika walaupun ia berkebangsaan Turki.

Keterbukaan
”Keterbukaan dengan demikian salah satu kata kunci menuju universitas kelas dunia,” kata Prof Oh Yeon-Ceon, President Seoul National University (SNU). Oleh karena itu, SNU tak ragu merekrut 200 dosen internasional untuk memperkuat jajaran para dosennya. Perekrutan dosen internasional ini sangat vital karena membantu mempercepat pengalihan budaya akademik dari Barat ke Timur.

Saat ini universitas di Asia mustahil menutup diri dari pengaruh Barat. Universitas-universitas di China, Singapura, Abu Dhabi, Dubai, dan Arab Saudi berlomba-lomba membuka branch campus dari universitas-universitas terkemuka di Barat. Bahkan, King Abdullah University of Science and Technology, Arab Saudi (yang dikenal sebagai negara sangat konservatif), saat ini dipimpin Dr Jean-Lou Chameo berkebangsaan Perancis.

Dunia perguruan tinggi di Asia sesungguhnya telah mengalami perubahan drastis. Mereka berlomba menambah jumlah mata kuliah yang diajarkan dalam bahasa Inggris sebagai tanggapan atas pergeseran ekonomi dari Barat ke Timur. Dalam tiga tahun terakhir, China, India, Vietnam, Arab Saudi, dan Turki telah menjadi pasar mahasiswa internasional yang terus berkembang

NTU, Koc University, dan Yuan Ze University telah lama melakukan perubahan strategis sehingga mereka siap bersaing dengan universitas-universitas Barat dalam merebut pasar mahasiswa yang sebagian besar berasal dari kawasan Asia Timur ataupun Barat. Ketiga universitas kelas dunia ini juga menjadikan kerja sama internasional dengan perguruan tinggi di berbagai belahan dunia sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi mengembangkan diri tanpa batas.

Untuk perguruan tinggi negeri seperti NTU, persoalannya terletak pada kemauan Pemerintah Singapura yang sangat antusias membangun universitas kelas dunia. NTU mendapatkan dana sangat besar dari Pemerintah Singapura sehingga dalam waktu 20 tahun berubah dari universitas baru menjadi universitas kelas dunia.

Visi
Mengapa Indonesia tak mampu memasuki jajaran universitas kelas dunia? Dengan memperhatikan usia ketiga universitas di atas jelas bahwa universitas-universitas di Indonesia sesungguhnya mampu bersaing menuju universitas kelas dunia. Yang sangat dibutuhkan adalah visi yang sangat kuat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertanggung jawab atas masa depan pendidikan tinggi (PT) di Indonesia.

PTN di Indonesia sudah puluhan tahun hidup dalam ketidakpastian masa depan dan sering menjadi korban perubahan kebijakan yang tidak berorientasi ke depan. Nasib PT sering diserahkan kepada lembaga yang tak memahami sama sekali tentang PT. Bagaimana mungkin Mahkamah Konstitusi menyelesaikan urusan PT pada saat negara-negara Asia sangat serius mendukung dan mendongkrak status dan perkembangan PT mereka menuju kelas dunia dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kita justru mengebiri otonomi PT dan membiarkan universitas di Indonesia keleleran dan menjadi makhluk asing dikancah persaingan global menuju WCU.

Apakah dengan tidak masuknya universitas kita ke dalam jajaran kelas dunia masih belum cukup untuk mengentak kesadaran para pemimpin kita? Apakah diperlukan gerakan reformasi 1998 bidang pendidikan tinggi? Seribu pertanyaan pun tak akan cukup kecuali dengan satu jawaban: segera lakukan perubahan strategis dan inovatif. Sebab hanya dengan inovasi tiada henti sebuah universitas akan terus berkembang.  Kita mungkin ragu apakah mungkin universitas kita akan mampu mencapai derajat WCU. Pikiran ini wajar, tetapi coba perhatikan bahwa Facebook lahir tahun 2004 dan Youtube lahir tahun 2005. Usia kedua perusahaan maya ini amat belia, tetapi mereka benar-benar sangat mengglobal saat ini. Mereka juga tak dibentuk oleh profesor atau pemerintah tertentu, sebaliknya mereka dibuat orang- orang muda kreatif dan produktif dalam menciptakan produk dan pelayanan yang smart.

Inovasi adalah bahasa menuju puncak kejayaan. Kerja keras penuh inovasi adalah jawaban untuk keraguan membangun WCU bagi universitas di Indonesia.

Bambang Cipto, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Sumber: Kompas, 14 November 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: