Home / Berita / Daya Rusak Gempa Kebumen Rendah

Daya Rusak Gempa Kebumen Rendah

Pusat gempa bumi yang terjadi di barat daya Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (25/1), berada di zona subduksi atau tumbukan lempeng bumi eurasia dan indoaustralia. Kekuatannya lebih tinggi dibandingkan gempa Yogyakarta 2006, tetapi daya rusaknya jauh lebih rendah.

”Gempa di zona subduksi lebih banyak memengaruhi blok atau patahan yang ada di sekitarnya. Tetapi, hingga sekarang belum ada teknologi yang mampu digunakan untuk memprediksi gempa berikutnya,” kata Pelaksana Tugas Deputi Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Suharjono, Minggu (26/1), di Jakarta.

Gempa bumi dilaporkan empat menit setelah kejadian, berkekuatan 6,5 skala Richter terjadi Sabtu pekan lalu pukul 12.14 di koordinat 8,48 Lintang Selatan dan 109,17 Bujur Timur. Pusat gempa di Samudra Hindia dengan kedalaman 48 kilometer, berjarak 104 kilometer barat daya Kebumen, Jawa Tengah.

Dalam waktu sekitar 15 menit setelah gempa, semua data masuk dan dinyatakan ada perubahan. Koordinat pusat gempa tidak jauh berubah, tetapi kedalamannya diubah menjadi 80 kilometer. Kekuatan gempa juga berkurang menjadi 6,3 skala Richter.

Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa tersebut menimbulkan kerusakan bangunan di beberapa kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Belum ditemukan korban meninggal.

Dibandingkan gempa di Yogyakarta pada 27 Mei 2006 dengan kekuatan 6,2 skala Richter menimbulkan 6.000 orang lebih meninggal. Pusat gempa pada koordinat 8,03 Lintang Selatan dan 110,32 Bujur Timur. Lokasinya di Samudra Hindia dengan kedalaman 11,3 kilometer.

”Gempa Yogya ada di punggung lempeng bumi sehingga daya rusaknya jauh lebih tinggi dibandingkan gempa Kebumen,” kata Suharjono.

Getaran akibat gempa Kebumen pada zona subduksi berdampak lebih luas, bisa dirasakan hingga di Jakarta. Patahan yang terpengaruh dan kemungkinan akan melepas energi kesetimbangannya menjadi gempa yang lebih dangkal belum dapat diprediksi.

”Kewaspadaan terhadap dampak gempa perlu lebih ditingkatkan,” kata Suharjono.

Sistem informasi gempa yang bisa melampaui efek penjalarannya sangat dibutuhkan untuk sistem peringatan dini gempa. Di Jepang, sistem informasi gempa yang cepat dikembangkan untuk mematikan fungsi kereta api cepat. Setidaknya, metode itu akan mengurangi risiko jumlah korban gempa.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho sebelumnya menyatakan, pusat gempa Kebumen di luar zona subduksi lempeng eurasia dan indoaustralia. Namun, ada di lempeng eurasia. (NAW)

Sumber: Kompas, 27 Januari 2014
—————-
Gempa Kebumen, Mengapa Hampir Seluruh Jawa Merasakannya?
Sabtu, 25 Januari 2014 | 18:56 WIB

Gempa bermagnitud 6,5 mengguncang Kebumen pada Sabtu (25/1/2014) 12.14 WIB. Gempa dirasakan di hampir seluruh wilayah Jawa.

Dengan megnitud gempa 6,5, gempa Kebumen sebenarnya belum apa-apa dibandingkan gempa Aceh pada tahun 2004 yang bermagnitud 9,2 atau gempa Mentawai pada tahun 2010 yang bermagnitud 7,7. Tapi, mengapa gempa kali ini dirasakan hingga hampir seluruh Jawa?

Pakar tektonik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengungkapkan bahwa hal tersebut terkait dengan kedalaman pusat gempa. Irwan mencatat, pusat gempa berada pada 40 km dari garis pantai dan pada kedalaman 88 km.

“Berdasarkan kedalamannya, gempa berada pada bidang Benioff,” kata Irwan kepada Kompas.com, hari ini.

Bidang Benioff, lengkapnya disebut Wadati Benioff, adalah zona seismik aktif yang berada di dekat zona subduksi yang aktivitasnya bisa menimbulkan gempa. Zona subduksi sendiri adalah zona pertemuan dua lempeng, dalam konteks gempa Kebumen, adalah Australia dan Indo-Australia.

Publikasi Bigman Marihat Hutapea di Jurnal Teknik Sipil ITB pada Desember 2009 menyebutkan bahwa zona Benioff di selatan Jawa menimbulkan kejadian 234 gempa dalam 40 tahun terkahir dengan gempa terbesar pada 9 Agustus 2007, bermagnitud 7,5.

“Karena lokasi gempanya cukup dalam, maka goncangan dirasakan di wilayah yang cukup luas, bahkan sampai pantai utara Jawa,” kata Irwan.

Berdasarkan laporan dari beberapa kontributor Kompas.com, gempa dirasakan hingga wilayah Bandung dan Sukabumi di sebelah barat, Solo, Yogyakarta, dan Malang di sebelah timur, serta Brebes dan Tegal di sebelah utara.

Menurut peta goncangan yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hari ini, goncangan yang lebih kuat dirasakan di Kebumen, Yogyakarta, dan Solo sebesar IV MMI serta Cirebon dan Bandung sebesra II-III MMI.

Berdasarkan skala MMI, bila gempa dirasakan II-III MMI, maka warga akan merasa seperti ada truk berlalu di jarak dekat. Dengan skala IV MMI, gempa bisa dirasakan banyak orang, gerabah bisa pecah, serta pintu dan dinding berderik.

Penulis    : Yunanto Wiji Utomo
Editor     : Yunanto Wiji Utomo
————-
Gempa Kebumen, Suara dari Segmen yang Pendiam
Minggu, 26 Januari 2014 | 21:44 WIB

1316494gempa-kebumen780x390Segmen dimana pusat gempa Kebumen pada Sabtu (25/1/2014) terjadi sebenarnya segmen pendiam. Namun, kemarin, segmen itu seolah bersuara, menunjukkan bahwa dirinya “hidup”.

Gempa mengguncang Kebumen kemarin pada pukul 12.14 WIB. Magnitud yang dihasilkan oleh si segmen pendiam sebesar 6,5. Dengan pusat gempa 40 km dari garis pantai dan pada kedalaman 88 km, gempa dirasakan oleh hampir seluruh warga Jawa.

Widjo Kongko, peneliti gempa dan tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengungkapkan, dalam radius 100 km dari pusat gempa kemarin, cuma ada 10 gempa bermagnitud lebih dari 5 dalam 4 dekade. Suara dari segmen pendiam itu adalah sinyal adanya bahaya.

“Gempa kemarin menunjukkan bahwa subduksi selatan Jawa masih aktif dan perlu selalu diwaspadai,” ungkap Widjo kepada Kompas.com, Minggu (26/1/2014).

Subduksi, atau pertemuan antar dua lempeng, Jawa selama ini tak seaktif subduksi Sumatera. Namun, bukan berarti subduksi itu mati dan tak mampu menghasilkan gempa dan tsunami yang mematikan.

Selain kemarin, subduksi Jawa pernah bergejolak pada tahun 1994 mengakibatkan gempa dan tsunami di Pacitan. Sementara, pada tahun 2006, tak lama setelah gempa Yogyakarta, subduksi Jawa juga memicu gempa dan tsunami di Pangandaran.

Irwan Meilano, pakar tektonik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengungkapkan bahwa ancaman dari selatan Jawa tidak main-main.

Selama ini, pakar tektonik membagi subduksi di selatan Jawa menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama dari selat Sunda hingga selatan Jawa Barat. Bagian kedua adalah di selatan Jawa Tengah. Sementara, bagian ketiga adalah di selatan Jawa Timur hingga Bali.

Kajian para ilmuwan menunjukkan bahwa masing-masing bagian bisa memicu gempa serta tsunami yang dapat berdampak merusak. “Masing-masing bisa menghasilkan gempa dengan magnitud 8,5,” kata Irwan.

Ancaman nyata dari selatan Jawa harus ditindaklanjuti oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.

“Jawa selatan masih gelap. Makanya perlu kajian lebih lanjut. Kita selama ini baru memetakan klustering gempa 2006 dan 1994 yang menimbulkan tsunami,” kata Widjo. “Berbeda dengan Sumatera, kajian di wilayah ini masih jarang,” imbuhnya.

Edukasi kepada masyarakat harus ditingkatkan. Publik sendiri bisa berupaya membentengi diri dengan membangun rumah tahan gempa serta tidak berlokasi di dekat pantai untuk mengurangi risiko tsunami.

Penulis    : Yunanto Wiji Utomo
Editor     : Yunanto Wiji Utomo

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: