Home / Berita / Cuaca dan Gawai di Tangan

Cuaca dan Gawai di Tangan

Seperti ritual pagi, Fitria Afriani (23) rutin memelototi prakiraan cuaca di layar telepon pintarnya, apalagi saat musim hujan. Prediksi cuaca akan menentukan perlu tidaknya membawa payung, bahkan pakaian yang akan ia kenakan.


Awalnya, Fitria iseng saja dengan fitur prediksi cuaca di telepon pintarnya. Hanya ingin tahu kondisi cuaca di kota lain. Lalu, ia mulai mencocokkan prakiraan itu dengan lokasi ia berada. ”Ternyata ngefek. Perkiraannya sering tepat. Akhirnya jadi patokan kalau mau pergi,” katanya.

Fitria, mahasiswa di Jakarta itu, kini rajin melihat ramalan cuaca sebelum pergi. ”Kalau mau hujan dan suhu dingin, pakai lengan panjang. Ada efek buruknya juga, kalau misalnya siang panas, jadinya malas keluar. Malam saja, adem.”

Nanang (36) melakukan hal sama. Aplikasi Yahoo Weather pada Iphone-nya rajin ia akses. ”Setidaknya, sehari sekali saya memantau cuaca lewat aplikasi ini,” kata pekerja media itu.

Sebagai pewarta foto, ia sangat bergantung pada prediksi cuaca. Perangkat kameranya harus diamankan betul. Jika ada prediksi hujan, misalnya, ia memilih mengendarai mobil.

Nanang memercayai prediksi-prediksi di gawainya meskipun terkadang meleset. ”Paling sering, prediksinya besok hujan, ternyata tidak,” ujarnya.

Informasi Peringatan Dini CuacaAplikasi cuaca sangat membantu dengan fitur prediksi menurut lokasi dan hari, termasuk hingga seminggu ke depan. Membuka aplikasi cuaca juga ia lakukan ketika di luar negeri.

Kebiasaan mengakses aplikasi cuaca tak hanya di Jakarta dan sekitarnya. Benito Dira (15), siswa SMA di Kota Yogyakarta, juga rajin mengintip informasi cuaca di telepon berbasis Android buatan Korea miliknya. Dua tahun lalu, ia unduh aplikasi gratis Go Weather dari Play Store.

”Mulanya sering tak pas, tetapi kemudian sering cocok,” katanya. Setidaknya, sepekan tiga kali dia buka aplikasi itu, baik sekadar ingin tahu maupun bekal informasi sebelum bepergian.

Bagi siapa pun yang hendak memiliki aplikasi cuaca, banyak disediakan di AppStore, mulai dari yang berbayar hingga gratis. Namun, di tengah kemudahan teknologi gawai dan tumbuhnya pengakses aplikasi cuaca, ada saja yang enggan memanfaatkan.

Estu Putri (24) salah satunya. Mahasiswi di Jakarta itu tak pernah melihat ramalan cuaca di telepon pintar Android-nya. ”Hasilnya aneh,” katanya. ”Masak di Depok saat ini disebut kabut asap, padahal jelas mendung mau hujan. Pernah juga disebut ada badai hujan, kan, enggak mungkin banget.”

Barangkali, dasar prediksi cuaca di telepon Estu tak terkait prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Namun, soal ketidakakuratan masih terjadi pada prakiraan cuaca BMKG.

Soal itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Edvin Aldrian mengatakan, Indonesia punya tantangan besar. Penyebab utamanya, kondisi geografis Indonesia sebagai negara maritim tropis dengan dua pertiga wilayahnya laut. Faktor skala lokal lebih dominan.

Terkait pengabaian prediksi cuaca, sikap lebih ekstrem ditunjukkan Eka Pratiwi (25). Tak sekali pun ia longok fitur ramalan cuaca di Iphone 5S miliknya. Bahkan, ia tak tahu fitur itu. ”Oh, ada, ya? Untuk apa?” kata pemilik toko daring barang-barang luar ruang itu. ”Pakai Iphone agar bisa pasang Instagram guna majang dagangan. Selain itu, paling untuk menonton Youtube.”

Bagi Eka, prakiraan cuaca tak terlalu penting. Ia juga malas bawa jas hujan. ”Jok sepeda motor kecil, tidak muat. Di motor sering hilang,” ujarnya. ”Kalau hujan, berteduh, gampang.”

Barangkali, sikap seperti itulah yang turut membuat kolong jembatan layang dijejali pengendara sepeda motor saat hujan. Di Jakarta, macet panjang yang berujung di lorong jembatan saat hujan seperti kelaziman.

Merespons alam
Masalah ”sedia jas hujan atau payung sebelum hujan” itu sebenarnya mencerminkan ekspresi kebudayaan manusia dalam merespons alam. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, fenomena alam tak perlu disiasati. Cuaca, misalnya, kerap dijadikan alasan terlambat datang. Bahkan, membatalkan janji.

Cuaca pula ”kambing hitam” jika banjir melanda. Padahal, dalam kasus Jakarta, misalnya, banjir ada sejak Jan Pieterszoon Coen mendirikan Batavia dengan menguruk rawa-rawa pada 1619. Tiga tahun sejak dibangun, 1621, Batavia kebanjiran. Banjir juga terjadi 1654 dan terus membesar hingga kini.

Bahkan, Istana Kepresidenan pun kebanjiran. Banjir Jakarta takkan bisa diselesaikan dengan sistem kanal saja. Perlu diubah perilaku sosial merespons alam.

Seperti didefinisikan Kroeber dan Kluckhohn (1952), manusia dibagi tiga kelompok berdasarkan cara pandang pada alam. Pertama, kelompok tradisional yang ditandai sikap tunduk dan pasrah pada alam. Kedua, kelompok transformasi yang berusaha mencari keselarasan dengan alam. Ketiga, manusia modern yang berhasrat menguasai alam.

Atas dasar tipologi itu, Koentjaraningrat (1987) memasukkan orang Indonesia dalam kelompok tradisional, sebagian transformasi. Jadi, sekalipun mengantongi telepon terbaru dan mahal dengan fasilitas prediksi cuaca, banyak yang cenderung pasrah pada alam. (GSA)

Oleh: AHMAD ARIF dan J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas, 12 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: