Home / Berita / Covid-19 di Indonesia seperti Gunung Es

Covid-19 di Indonesia seperti Gunung Es

Penambahan kasus positif Covid-19 terus terjadi, tetapi kapasitas tes dan pelacakan masih belum maksimal. Ini bisa memperparah kondisi karena membuat sistem kesehatan kewalahan menghadapinya.
Lemahnya surveilans, terutama dalam melakukan pemeriksaan, membuat situasi Covid-19 di Indonesia seperti fenomena gunung es. Penularan virus SARS-CoV-2 di komunitas dikhawatirkan sangat tinggi, sementara banyak warga abai terhadap protokol kesehatan karena tidak menyadari risikonya.

Tanpa langkah progresif dalam pemeriksaan, pelacakan, dan isolasi orang yang terinfeksi, kasus Covid-19 dikahwatirkan terus membesar dan membuat sistem kesehatan kewalahan. Saat ini, fasilitas kesehatan di beberapa kota juga sudah kembali penuh dengan pasien Covid-19, sementara para tenaga kesehatan yang gugur terus bertambah.

Kekhawatiran itu disampaikan Ketua Satuan Tugas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban dalam diskusi di Jakarta, Jumat (21/8/2020). ”Kita berhadapan dengan fenomena gunung es karena tes yang terbatas ini. Presiden Joko Widodo sudah meminta ada peningkatan tes menjadi 30.000 per hari, tetapi sampai sekarang realitasnya masih jauh dari itu,” katanya.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, terjadi penambahan kasus baru sebanyak 2.197 orang sehingga total menjadi 149.408 orang. Penambahan kasus ini didapatkan dengan memeriksa 13.534 orang dalam sehari, sedangkan secara akumulatif jumlah orang yang diperiksa sampai saat ini sebanyak 1.21.602 orang.

Jika dirata-rata, dalam seminggu ini jumlah orang yang diperiksa per hari hanya sekitar 10.000 orang per hari. Jumlah terendah orang yang diperiksa tercatat pada 17 Agustus, hanya 7.224 orang, dan terbanyak pada 19 Agustus, yaitu 14.940 orang.

”Penambahan kasus rata-rata di atas 1.500 per hari kita masih jauh mencapai puncak wabah, apalagi landai dan turun. Dengan kondisi ini, seharusnya kita minimal melakukan tes 50.000-100.000 per hari,” kata Zubairi.

Kegagalan pengendalian wabah ini salah satunya karena kapasitas tes masih sangat sedikit sehingga tidak diketahui skala penularan sesungguhnya di masyarakat. ”Tes sangat penting untuk mengetahui siapa yang sudah tertular dan berikutnya semua kontak yang positif harus diisolasi,” katanya.

Sebagai perbandingan, menurut data Worldometers.info, dari tiga negara dengan kasus terbanyak, Amerika Serikat telah memeriksa 222 per 1.000 penduduk, Brasil memeriksa 64 per 1.000 penduduk, dan India 24 per 1.000 penduduk. Sementara Indonesia baru memeriksa 7,2 per 1.000 penduduk. Secara global, jumlah pemeriksaan di Indonesia per 1.000 populasi ini berada di urutan ke-163 di dunia, satu peringkat di bawah Uganda.

Selain kapasitas yang terbatas, sebaran tes juga masih terkonsentrasi di Jakarta. Hingga 16 Agustus, total orang yang dites di Jakarta sebanyak 504.075 orang, sedangkan tes di 23 provinsi lain di seluruh Indonesia hanya menjangkau 557.646 orang. Ini menunjukkan, Jakarta melakukan tes sebanyak 47 persen, padahal proporsi penduduknya hanya 4 persen dari populasi nasional.

Hingga saat ini, jumlah korban jiwa di Indonesia telah mencapai 6.500 orang atau bertambah 82 orang dalam sehari, yang merupakan tertinggi di Asia Tenggara dan merupakan peringkat ke-19 tertinggi di dunia. Dengan data ini, tingkat kematian Covid-19 di Indonesia mencapai 4,35 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 3,4 persen.

Zubairi juga menyoroti tingginya kematian tenaga kesehatan, yang menurut dia tidak hanya disebabkan oleh persoalan ketersediaan dan cara pemakaian alat pelindung diri (APD), tetapi juga menandai kelelahan. Data IDI, jumlah dokter yang meninggal sudah mencapai 86 orang dan perawat yang meninggal sebanyak 82 orang.

Perkembangan Vaksin
Di tengah situasi wabah yang masih berkembang, vaksin menjadi harapan dan menunjukkan adanya progres. Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kusnandi Rusmil mengatakan sudah memberikan vaksin kepada 110 orang. ”Sejauh ini belum ada laporan efek samping yang signifikan,” katanya.

Menurut Kusnandi, antusiasme masyarakat untuk mengikuti uji klinis cukup tinggi. Dari target 1.620 orang yang akan diuji, yang mendaftar sebanyak 2.200 orang. ”Kami akan memberikan vaksin sesuai urutan yang mendaftar, selain yang memang memenuhi syarat, seperti tidak pernah sakit parah dan punya alergi,” ujarnya.

Dengan target 240 orang yang diberi vaksin per minggu, lanjutnya, diperkirakan proses uji klinis bisa selesai pada awal 2021. ”Kita mungkin bisa analisis dari 520 orang pertama yang diberi vaksin untuk melihat imunitas dan efek sampingnya. Semoga efektivitasnya tinggi, seperti didapatkan dari uji klinis fase pertama dan kedua,” katanya.

Sekalipun uji klinis vaksin menunjukkan progres menjanjikan, ujar Kusnandi, untuk saat ini masyarakat harus menaati protokol kesehatan untuk mengurangi risiko penularan. ”Saat ini, saya lihat orang sudah ramai di jalan-jalan dan pasar, sebagian tanpa masker. Akhir pekan juga banyak orang dari Jakarta ke Bandung,” ucapnya.

Zubairi berharap masyarakat menyadari bahwa risiko penularan saat ini masih sangat tinggi sehingga harus menaati protokol kesehatan. Ini karena rumah sakit mulai penuh dengan pasien Covid-19, sebagaimana terjadi pada Maret-April 2020 lalu.
Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit di Jakarta terus meningkat sejak 8 Juli 2020. Kini, jumlah yang dirawat di rumah sakit, di luar Wisma Atlet, mencapai 2.500 orang. Adapun jumlah pasien di Wisma Atlet, yang diperuntukkan bagi pasien dengan gejala ringan hingga menengah, mencapai 1.377 orang.

Oleh AHMAD ARIF

Editor:ICHWAN SUSANTO

SUMBER: KOMPAS, 22 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: