Home / Berita / Cemas Melihat Arah Kurva Pandemi Indonesia ke Depan

Cemas Melihat Arah Kurva Pandemi Indonesia ke Depan

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat telah berjalan hampir dua minggu tapi kasus Covid-19 masih tinggi. Seberapa besar korban dan dampak sosial ekonomi ke depan sangat tergantung langkah kita saat ini.

Penambahan kasus Covid-19 harian di Indonesia kembali mencapai rekor tertinggi dengan penambahan 40.427 kasus pada Senin (12/7/2021). Dengan penambahan ini jumlah kasus aktif secara nasional mencapai 380.797. Sedangkan korban jiwa bertambah 891 orang sehingga total menjadi 67.355 orang.

Data resmi jumlah kasus dan korban jiwa ini jauh lebih kecil dari kondisi sesungguhnya. Survei serologi oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia pada 15-31 Maret 2021 menunjukkan, sebanyak 44,5 persen penduduk di Ibukota pernah terinfeksi SARS-CoV-2, virus penyabab Covid-19.

Survei juga menemukan, sebanyak 81,6 persen orang yang pernah terinfeksi tidak terdeteksi, terutama mereka yang tak bergejala. “Ini menunjukkan sistem tes dan lacak belum bisa periksa orang tak bergejala,” kata Epidemiolog FKM UI Pandu Riono.

Temuan ini juga menunjukkan, tingginya kasus sebenarnya dibandingkan yang ditemukan. Dengan total penduduk Jakarta sebesar 10,6 juta dengan prevelensi infeksi pada Maret 44,5 persen, maka jumlah penduduk yang pernah terinfeksi sebesar 4.717.000 orang. Namun, dari kasus yang telah terlaporkan pada 31 Maret hanya 382.000 orang.

“Jadi, sistem di Jakarta hanya mampu mendeteksi 8,19 persen kasus dan yang tidak terdeteksi lebih dari 90 persen. Padahal angka pemeriksaan di Jakarta paling tinggi,” ujarnya.

Mengacu laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Juni, di Pulau Jawa hanya Jakarta dan Yogyakarta yang memenuhi jumlah tes minimal, sedangkan daerah lain masih di bawah ambang.

Fenomena pelaporan yang jauh lebih rendah juga terjadi pada angka kematian. Data yang dikumpulkan KawalCOVID19 berbasis laporan pemerintah kabupaten/kota menunjukkan, jumlah korban jiwa karena Covid-19 secara nasional sudah mencapai 83.556 orang atau 16.201 lebih banyak dari laporan Kementerian Kesehatan.

Praktisi kesehatan yang juga relawan data di KawalCOVID19, Septian Hartono menunjukkan, banyak daerah sengaja tidak melaporkan kasus dan kematian, agar dianggap sukses menangani pandemi. Dia mencontohkan, pada 11 Juli angka kematian di Kota Surabaya yang dilaporkan hanya satu orang. “Ini jelas tidak mungkin, informasi yang kami dapatkan, kematian di Kota Surabaya sudah mencapai 120 -180 orang per hari,” kata Ilham Ikhsanu Ridha, dosen FKM Universitas Airlangga.

Sedangkan penelusuran oleh LaporCovid-19 menunjukkan semakin banyaknya pasien Covid-19 yang meninggal di perjalanan atau terpaksa menjalani isolasi mandiri karena ditolak rumah sakit yang penuh. Hingga Senin pukul 19.00, angka pasien isoman yang meninggal ini telah mencapai 453 orang, terutama terjadi di Pulau Jawa, dan belakangan juga terjadi di Sumatera, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara Timur.

Temuan kematian pasien isolasi mandiri ini juga masih berupa fenomena gunung es, karena tidak semua keluarga melaporkan. Survei oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives di 100 wilayah pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di 12 kabupaten/kota di Jawa Barat menemukan 446 orang meninggal dunia ketika isolasi mandiri dalam rentang 30 Juni-6 Juli 2021.

Mengacu pada kajian Institute for Health Metrics and Evaluation, University of Washington dan (WHO, tingkat kematian karena Covid-19 di Indonesia pada Desember 2020 bisa mencapai 2,5 kali lipat lebih banyak dari laporan resmi. Faktor pembilang tesebut kini pasti lebih tinggi lagi, jika melihat banyaknya pasien meninggal di luar fasilitas kesehatan.

Tragedi Berkepanjangan
Diakui atau tidak, tingkat kematian karena Covid-19 di Indonesia pasti jauh lebih besar dari yang dilaporkan. Selain karena buruknya pencatatan, fenomena ini juga bisa jadi indikator lemahnya tes dan lacak.

Pada 12 Juli 2021 dilaporkan 40.427 kasus baru dari 123.317 orang yang di periksa dengan angka kepositifan (positivity rate) 32,7 persen. Kalau kita bandingkan dengan angka di hari pertama PPKM Darurat 3 Juli 2021, ada penambahan 14.138 kasus baru dari 110.983 orang yang di periksa dengan angka kepositifan 25,2 persen dan yang meninggal 493 orang.

Ini berarti ada peningkatan kasus baru sebesar 185,9 persen antara tanggal 3 dan 11 Juli 2021. “Ini tinggi sekali,” kata Prof Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Fakultas Kedokteran UI yang juga mantan Direktur WHO Asia Tenggara.

Peningkatan kasus baru lebih dari 280 persen ini tidak dapat diterangkan dengan peningkatan jumlah orang yang diperiksa, karena dari ke dua tanggal ini jumlahnya hanya meningkat 11,1 persen. “Artinya, peningkatan kasus memang terjadi karena masih besarnya penularan di masyarakat. Hal ini ditunjang dengan angka kepositifan tetap tinggi, bahkan meningkat tinggi,” ucapnya.

Dibandingkan negara tetangga, sebagian besar angka kepositifannya sudah kecil. Vietnam misalnya angkanya 1,2 persen, Kamboja 3,6 persen, Laos 2,4 persen, Filipina 11,7 persen, sementara Malaysia yang masih dalam lockdown atau “Movement Control Order (MCO)” angkanya kini 8,5 persen. “India, angka kepositifan pernah juga di atas 20 persen pada waktu kasus sedang tinggi-tingginya Mei 2021, tetapi sekarang hanya 2,3 persen saja. Jadi angka kepositifan kita memang masih sangat tinggi, dan harus segera diturunkan,” kata dia.

Untuk menurunkan angka kepositifan ini, menurut Tjandra, jumlah tes harus meningkat tinggi. Dengan tes yang tinggi dan telusur yang masif maka kasus akan dapat ditemukan dan ditangani serta diisolasi dan di karantina. Janji, Kementerian Kesehatan untuk memeriksa 400.000 per hari harus direalisasikan.

Selain meningkatkan tes dan lacak, faktor lain untuk menekan penularan adalah pembatasan yang ketat. Epidemiolog FKM UI Iwan Ariawan mengatakan, mengacu data Tim Mahadata UI yang didukung oleh Facebook for Good, pergerakan penduduk di Jabodetabek dan Pulau Jawa pada 1 – 9 Juli masih fluktuatif. “Belum turun signifikan, kecenderungan turun di hari libur, tetapi kembali naik di hari kerja,” paparnya.

Iwan mengatakan, berdasar data proyeksi survei serologi dan kurang efektifnya PPKM Mikro saat ini, kasus Covid-19 di Indonesia akan terus melaju hingga memuncak di bulan Agustus 2021 dan baru akan turun setelahnya. Namun, jika PPKM Darurat bahkan lebih longgar lagi, puncak kasus baru akan terjadi pada bulan Oktober 2021.

Dengan prediksi ini, kurva pandemi di Indonesia sebelum mencapai puncak dan kemudian menurun bisa lebih panjang dibandingkan India, yang berhasil menurunkan kasus sekitar dua minggu. Kita sudah melihat bagaimana tragedi kematian di India saat itu, dan kita juga bisa melihat tragedi kematian di Indonesia saat ini.

Bahkan, dengan kasus yang belum mencapai puncaknya saja, fasilitas kesehatan di Pulau Jawa sudah kewalahan, yang menyebabkan banyak orang meninggal di rumah, di jalan, hingga di selasar rumah sakit. Pada saat yang sama, rumah sakit sudah kesulitan oksigen medis, pun terjadi warga yang isolasi mandiri kesulitan tabung oksigen. Demikian juga, obat-obatan mulai langka dan mahal.

Butuh berapa banyak saudara dan rekan-rekan kita yang harus kita kuburkan lagi, hingga menyadarkan pentingnya tindakan lebih nyata menekan laju penularan? Ini hanya bisa dilakukan dengan pembatasan mobilitas lebih ketat disertai tes, lacak, isolasi. Selebihnya, fasilitas kesehatan dan tempat isolasi terpusat harus terus diperkuat untuk menekan tingkat kematian.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 13 Juli 2021

Share
%d blogger menyukai ini: