Home / Artikel / Catatan Iptek; Kanker Paru

Catatan Iptek; Kanker Paru

Walter Elias Disney, populer sebagai Walt Disney (1901-1966), adalah pewujud mimpi indah anak-anak. Ia menciptakan Mickey, Donald, Snow White and The Seven Dwarfs yang legendaris, dan membangun taman bermain Disneyland yang terus dikunjungi orang sampai kini. Namun, umur 65 tahun, Disney tutup usia direnggut kanker paru.

Hingga hari ini, kanker paru masih menjadi pembunuh utama laki-laki dan perempuan. Dari setiap lima kematian akibat kanker, salah satunya adalah kanker paru. Bisa dikatakan, kanker paru lebih menyebabkan kematian dibandingkan kombinasi kanker payudara, usus besar, dan prostat sekaligus (The International Association for the Study of Lung Cancer, IASLC, 2015).

Untuk meningkatkan kewaspadaan, sejak tahun 2011 dunia memperingati 1 Agustus sebagai Hari Kanker Paru. Berbeda dengan hari-hari lain yang umumnya ditetapkan organisasi global, inisiatif peringatan Hari Kanker Paru merupakan gerakan akar rumput: berasal dari pasien kanker paru yang bertahan hidup dengan dukungan komunitas kanker paru. Intinya adalah ”mengingat mereka yang sudah tiada, merayakan yang selamat, dan meningkatkan kewaspadaan publik terhadap gejala dan dampak kanker paru”.

Bisa dipahami, inilah salah satu kanker dengan prevalensi terbanyak, dengan lebih dari 1,8 juta kasus kanker baru setiap tahun di dunia. Maka, sejak pekan lalu, hari-hari ini masih berlangsung pembahasan tentang kanker paru, cara mencegah, dan cara mengobatinya jika sudah terkena.

Di Indonesia, menurut ahli paru Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP (K) yang juga Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, dari data otopsi verbal diketahui bahwa tumor ganas adalah penyebab kematian ketujuh di Indonesia. ”Meski demikian, data penelitian Sistem Registrasi Sampel di Indonesia memperlihatkan bahwa tumor ganas tak termasuk 10 besar penyebab kematian,” katanya.

Terminologi kanker paru mendeskripsikan pertumbuhan sel yang abnormal—artinya membelah dan berkembang lebih cepat dari sel normal—dalam paru. Apabila sel-sel kanker di paru lepas dan terbawa aliran darah, bisa jadi sel-sel itu tersangkut di organ lain, antara lain tulang, dan akhirnya menumbuhkan area kanker baru. Inilah yang sering disebut sebagai metastasis.

Namun, mengenali kanker paru secara dini tidaklah mudah. Gejala-gejalanya yang muncul sering kali sama dengan gejala-gejala penyakit lain, termasuk yang ringan sekalipun. Contohnya, batuk yang terus memburuk hingga berminggu-minggu, dahak berdarah atau berwarna gelap, napas pendek, nyeri di dada, punggung, dan tulang, serta sulit menelan.

Pemicu utama kanker paru adalah kebiasaan merokok: terkait dengan 70 persen kematian akibat kanker paru. Padahal, di sisi lain, Riset Kesehatan Dasar menunjukkan bahwa perokokpemula usia remaja (10-14 tahun) naik dua kali lipat dalam 10 tahun. Jika tahun 2001 hanya 5,9 persen, tahun 2010menjadi 17,5 persen. Namun, pada perokok pemula dengan usia lebih tua (15-19 tahun), terjadi penurunan dari 58,9 persen menjadi 43,3 persen. Artinya, perokok pemula menjadi semakin muda.

Masyarakat Indonesia makin berpotensi terkena kanker paru karena sejak 2013 Indonesia menempati peringkat ketiga perokok. Hanya kalah dengan Tiongkok dan India yang

penduduknya memang jauh lebih banyak. Makin memprihatinkan lagi, penelitian Abdullah Ahsan dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia menunjukkan, porsi belanja rokok pada kalangan menengah ke bawah, di atas belanja bahan makanan sehat, pendidikan, dan hanya kalah dengan belanja beras.

Selain rokok, faktor lain adalah paparan bahan kimia, seperti radon, asbestos, arsenik, berilium, uranium, dan ada riwayat radiasi. ”Adanya penyakit paru lain, di antaranya emfisema, bronkitis kronik, penyakit paru kronik dan tuberkulosis, juga meningkatkan risiko terkena kanker paru,” papar Tjandra.

Riwayat keluarga yang pernah terkena kanker juga berperan dan risiko ini meningkat seiring pertambahan usia. Statistik menunjukkan, hanya 10 persen kasus kanker paru terjadi pada pasien berusia kurang dari 50 tahun. Penyakit ini juga lebih sering muncul pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

Maka, menurunkan prevalensi kanker paru memerlukan kerja keras karena harus komprehensif dari hulu sampai hilir.–AGNES ARISTIARINI
—————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Agustus 2015, di halaman 14 dengan judul “Kanker Paru”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: