Home / Berita / Catatan Akhir Tahun; Inovasi Jalan di Tempat

Catatan Akhir Tahun; Inovasi Jalan di Tempat

DARI tahun ke tahun, paten yang didaftarkan di Indonesia didominasi paten luar negeri. Jumlah paten dalam negeri sedikit. Itu pun kebanyakan didaftarkan dosen atau peneliti institusi pemerintah hanya untuk mengejar poin kredit kenaikan pangkat. Akibatnya, inovasi jalan di tempat.

Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Ahmad M Ramli membenarkan hal itu, Selasa (10/12), di Jakarta. Untuk mendongkrak pendaftaran paten atau jenis kekayaan intelektual lain, diberikan insentif pendaftaran hak kekayaan intelektual selama dua tahun terakhir secara gratis.

Ada perubahan penting lain. Sistem pengelolaan kekayaan intelektual diubah dengan mengadopsi Industrial Property Automation System (IPAS) yang digunakan Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (World Intellectual Property Organization/WIPO) sejak tahun 2000.

Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dibantu WIPO membangun aplikasi sistem informasi IPAS sejak 2011. Pada akhir tahun 2013 IPAS dinyatakan selesai dan beroperasi di situs internet www.dgip.go.id.

IPAS mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam pengurusan hak kekayaan intelektual. Sebelum IPAS digunakan, banyak kendala dihadapi petugas ataupun pihak yang mengajukan permohonan sehingga pengelolaan kekayaan intelektual tidak efektif.

Pengalaman peneliti Balai Besar Teknologi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Herliyani Suharta, menarik. Herliyani mengajukan paten kompor tenaga surya pada tahun 1998. Ini termasuk hasil riset unggulan BPPT. Ekspose hasil riset sudah dilakukan di beberapa negara, terutama Amerika Serikat yang membantu diseminasi produk energi ramah lingkungan ini di beberapa daerah marjinal seperti Nusa Tenggara.

Pada tahun 2008, Herliyanti kaget ketika diminta kembali oleh petugas Ditjen Hak Kekayaan Intelektual untuk mengajukan berkas pengajuan paten yang pernah disampaikan pada tahun 1998. Ia menduga berkas yang diajukan 10 tahun sebelumnya itu hilang di Ditjen Hak Kekayaan Intelektual. Untung, Herliyani masih menyimpan salinan berkas dengan baik.

Hari Kebangkitan Teknologi NasionalSetelah mengurus ulang, dalam waktu sangat cepat pada tahun yang sama, Herliyanti memperoleh paten kompor itu.

Indikasi inovasi
Sistem informasi IPAS di Ditjen Hak Kekayaan Intelektual masih menyajikan data terakhir Laporan Tahunan 2011. Data paten menjadi salah satu indikasi inovasi. Sepanjang tahun itu pendaftaran paten dari dalam negeri ada 533 permohonan. Adapun paten luar negeri yang didaftarkan lembaga Patent Cooperation Treaty (PCT) dari berbagai negara mencapai 4.839 permohonan.

Data paten luar negeri tanpa melalui PCT ada 459 permohonan. Untuk paten sederhana, diajukan dari dalam negeri sebanyak 236 permohonan dan 56 permohonan dari luar negeri.

Dari data itu disimpulkan, permohonan paten di Indonesia didominasi paten luar negeri. Tahun 2011 ada 87 persen.

Hal itu, menurut Direktur Kerja Sama dan Promosi pada Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Timbul Sinaga, tidak terlalu berubah untuk beberapa tahun terakhir. Termasuk persentase permohonan paten pada 2013. Hanya 13 persen paten dari dalam negeri. Itu pun hanya sedikit yang bisa diterapkan dan dikembangkan industri.

Ahmad M Ramli menyebutkan, paten dan keseluruhan sistem kekayaan intelektual dapat mendorong produktivitas serta meningkatkan perekonomian bangsa. Amerika Serikat memiliki produk domestik bruto (PDB) 70 persen dari mekanisme kekayaan intelektual ini.

Sulit mengukur mekanisme kekayaan intelektual Indonesia. Mekanisme, menurut Ramli, tergolong sangat sedikit dalam menyumbang PDB. Perekonomian Indonesia masih didominasi eksploitasi bahan mentah, termasuk tambang.

Masyarakat Indonesia kini menjadi konsumen produk asing. Padahal, masyarakat Indonesia dikenal kreatif. Kreativitas banyak dihasilkan mulai dari remaja, bahkan anak-anak. Seperti akhir tahun ini pada lomba kegiatan ilmiah yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ada temuan helm yang otomatis menyalakan lampu penanda akan berbelok lewat gelengan pengemudi. Namun, penerapan di dunia industri belum menampakkan harapan meski peluang pasar cukup besar.

Masyarakat profesi peneliti pada akhir 2013 berhimpun ke dalam organisasi Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo). Menurut Ketua Himpenindo Bambang Subiyanto, salah satu tujuan untuk mengarahkan temuan para peneliti bisa bermanfaat bagi masyarakat dan meningkatkan perekonomian.

Penerapan paten menjadi inovasi yang dapat membangkitkan sistem ekonomi baru bukan hal sulit. Namun, dibutuhkan mekanisme tepat dan realistis.

Candra N Darusman, Wakil Direktur WIPO untuk Bidang Peningkatan Pemanfaatan Kekayaan Intelektual di ASEAN yang berkantor di Singapura, beberapa waktu lalu, mengemukakan hal sama. Masyarakat Indonesia sangat kreatif. Namun, kreativitas itu tidak ditunjang pemanfaatan mekanisme kekayaan intelektual menghasilkan inovasi yang dapat menggerakkan sistem ekonomi baru.

Mengacu kebijakan di negara lain untuk meningkatkan penerapan hasil riset para peneliti, menurut Candra, dibutuhkan terobosan kebijakan di Indonesia. Para peneliti dapat magang di industri dan melakukan riset untuk inovasi produk industri.

Oleh: Nawa Tunggal

Sumber: Kompas, 24 Desember 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: