Home / Berita / Binatang Cenderung Berevolusi Membesar

Binatang Cenderung Berevolusi Membesar

Suatu ketika, Bumi barangkali akan dihuni kembali binatang-binatang berdimensi raksasa, seperti era dinosaurus. Hasil riset sejumlah ahli paleo-biologis dari Stanford’s School of Earth, Energy & Environmental Sciences menguatkan bukti bahwa hewan-hewan di Bumi berevolusi membesar.


Studi yang dipublikasikan jurnal Science edisi 20 Februari menyebut, dalam kurun 542 juta tahun, rata-rata ukuran tubuh hewan di laut bertambah besar 150 kali. Riset itu menguatkan rintisan yang dilakukan paleontolog Edward Cope pada akhir abad ke-19 yang menemukan ukuran tubuh mamalia darat, seperti kuda umumnya membesar. Para ilmuwan berusaha menguji teori Cope, tetapi kesimpulannya beragam. Dinosaurus dan mamalia mengikuti teori Cope, namun burung dan serangga tak sesuai teori itu. Akibatnya, beberapa ilmuwan meragukan pola pada beberapa mamalia darat adalah evolusi atau hanya kasus statistik acak. ”Kemungkinan sebagai hasil evolusi, ada preferensi menjadi lebih besar atau lebih kecil,” kata Noel Heim, salah satu peneliti. Untuk menguji apa aturan Cope berlaku bagi semua hewan laut, mereka menyusun data 17.000 marga hewan laut mencakup lima filum. (SCIENCEDAILY/AIK)
—————
Hiu Putih Besar Lambat Dewasa

Hiu putih besar pejantan butuh waktu 26 tahun untuk mencapai kematangan seksual. Hiu betina bahkan memerlukan waktu 33 tahun untuk siap memiliki bayi. Hasil riset terbaru itu menunjukkan waktu dewasa hiu jauh lebih lama dari estimasi sebelumnya, yakni 7-13 tahun bagi betina dan 4-10 tahun bagi pejantan. Temuan itu menyadarkan bahwa perkembangan populasi hiu amat lambat sehingga rentan terhadap ancaman. Hiu putih besar sulit dipelajari. Ilmuwan umumnya mempelajari fauna itu dari hiu mati dan pengamatan di laut. Sejak 1920, ilmuwan biologi kelautan memperkirakan usia hiu putih besar dengan menghitung lingkaran-lingkaran di tulang belakangnya, tetapi pengukuran itu terkendala tak jelasnya lingkaran. Sejumlah teori menyebut populasi hiu turun karena makanan dan migrasi. ”(Sampai saat itu) kita tak tahu penyebab penurunan populasi hiu,” kata Lisa Natanson, peneliti hiu pada National Oceanic and Atmospheric Administration Northeast Fisheries Science Center, Jumat (20/2). Riset Natanson dan tim, dalam jurnal PLOS One, memakai dokumentasi tes nuklir pada 1950-an dan 1960-an, serta menganalisis isotop radioaktif carbon-14 pada makhluk laut. (LIVESCIENCE/ICH)

Sumber: Kompas, 24 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: