Home / Berita / Bijak Hidup di Negeri Cincin Api

Bijak Hidup di Negeri Cincin Api

?Soal waktu selama ini yang menjadi titik lemah kita dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi. Minimnya catatan sejarah kegempaan di masa lalu seringkali membuat masyarakat beranggapan daerah nyaman dari gempa. Kondisi ini terutama terjadi di daerah-daerah yang lama tak mengalami gempa bumi besar.Kita tentu ingat, sebelum gempa dan tsunami Aceh 2004, nyaris tak seorang pun di negeri ini yang menyadari risiko bencana di kawasan paling barat negeri ini. Kita juga terkejut misalnya dengan gempa yang mengguncang Pidie Jaya, Aceh pada 2016 lalu dan para ahli kemudian menyatakan adanya sumber sesar baru.

?Demikian halnya, nyaris tak ada yang memperkirakan bahwa gempa besar berikut ternyata terjadi di Pulau Lombok pada 29 Juli 2018 dengan kekuatan M 6,4 dan berikutnya pada 5 Agustus 2018 dengan kekuatan M 7.

?Dampak gempa ini, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Rabu (15/8/2018) tercatat 460 orang meninggal dunia, yaitu di Kabupaten Lombok Utara 396 orang, Lombok Barat 39 orang, Lombok Timur 12 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Denpasar 2 orang. Jumlah ini kemungkinan masih akan bertambah karena proses evakuasi masih terus dilakukan.

KOMPAS/HARRY SUSILO–Warga beraktivitas di lahan bekas rumahnya yang ambruk akibat gempa berkekuatan Magnitudo 7,0, di Dusun Montong Gempa, Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Minggu (12/8/2018).

?Sekalipun zona rentan gempa di Indonesia baru-baru ini sudah dipetakan, termasuk juga sumber gempa sesar naik di busur belakang (back arc thrust) di utara Nusa Tenggara Timur hingga Bali, namun gempa Lombok kali ini tetap saja mengejutkan, termasuk juga bagi para ahli gempa bumi di negeri ini.

?“Dulu potensi gempa di utara Nusa Tenggara Barat ini cenderung tidak banyak dibicarakan. Kebanyakan kita hanya khawatir gempa di zona subduksi barat Sumatera hingga selatan Jawa dan Nusa Tenggara. Untuk sumber gempa di back arc hanya yang utara Flores saja, itu pun karena pernah ada gempa dan tsunami 1992,” kata ahli gempa bumi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja.

?Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono menyebutkan, secara tektonik sesar naik busur belakang di utara Nusa Tenggara ini terbentuk sebagai reaksi terhadap tekanan yang timbul akibat tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Jalur sesar aktif yang popular disebut Flores Back Arc Thrust ini berada di dasar laut.

?Orang yang pertama meneliti fenomena ini adalah Warren B Hamilton, pakar geologi-tektonik Amerika Serikat. Dalam bukunya Tectonic of The Indonesia Region tahun 1979, Hamilton mengungkap keberadaan sesar di utara Sumbawa hingga Flores ini.

Berikutnya, Eli A Silver dari University of California Santa Cruz melakukan ekspedisi bahari untuk mendapatkan profil refleksi busur belakang Flores. ?“Silver sebenarnya telah memperkirakan bahwa sesar busur belakang Flores ini berlanjut hingga Cekungan Bali di Laut Bali. Hasil riset yang dipublikasikan pada 1986 berjudul Multibeam Study of the Flores Back Arc Thrust Belt,” kata dia.

?Penelitian Robert McCaffrey dan John L Nabelek pada 1987 terhadap beberapa gempa signifikan di utara Bali menunjukkan adanya jejak aktivitas busur belakang Flores ini hingga Bali. Studi gempa lokal dan mekanisme pusat gempa menggunakan jaringan seismik digital pertama kali dilakukan Masturyono (1994) dan Daryono (2000). Hasil studi ini juga memberi petunjuk adanya aktivitas gempa dan bidang sesar yang memiliki kemiripan dengan Sesar Naik Flores.

?“Indikasi kuat kehadiran Sesar Naik Flores di utara Bali diduga yang menyebabkan gempa Seririt (Bali) berkekuatan M 6,6 pada 14 Juli 1976,” kata Daryono.

?Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang dimutakhirkan Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2017 sebenarnya telah menyebutkan tentang tingginya aktivitas patahan di busur belakang dari Nusa Tenggara Timur hingga Bali ini. Untuk Segmen Lombok-Sumbawa laju pergeserannya 9,9 mm/tahun dengan magnitudo maksimum M 8,0.

?“Namun, di peta itu lokasi patahannya lebih ke utara dari sumber gempa kali ini. Selain itu, kami juga belum melakukan pembagian subsegmennya secara lebih rinci. Gempa kali ini telah memperbarui pemahaman kami tentang sumber gempa di busur belakang ini,” kata Danny, yang turut membuat peta gempa tahun 2017 ini.

DANNY HILMAN NATAWIDJAJA, 2018–Usulan revisi lokasi dan segmen patahan busur belakang di utara Lombok berdasarkan dua gempa terakhir.

?Ahli gempa Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano mengatakan, pengetahuan kita tentang sumber gempa bumi di negeri ini memang harus terus diperbarui. Dibandingkan sebelum gempa Aceh 2004, saat ini sudah semakin banyak peneliti dan kajian kegempaan, namun masih banyak kawasan yang belum dipahami dengan baik.

?“Untuk utara Nusa Tenggara, sejauh ini kita baru punya gambaran regionalnya. Kita belum tentukan rinci batas segmentasinya. Setelah gempa kali ini, baru diketahui minimal ada tiga sampai empat subsegmen gempa bumi di utara Lombok dan posisinya lebih dekat ke daratan,” kata dia.

Belum bisa diprediksi
?Dengan masih terbatasnya data, Irwan mengaku belum berani menyimpulkan, apakah gempa Lombok kali ini masih akan disusul gempa berikutnya atau memang sudah berakhir. “Kita memiliki sedemikian banyak sumber gempa yang sebagian besar di antaranya belum diketahui rinci karakteristik maupun periode keberulangannya. Ini yang membuat para ilmuwan perlu hati-hati menyampaikan informasi ke publik,” kata dia.

?Masalahnya, kesenjangan informasi ini kerap dimanfaatkan penyebar hoax sehingga membingungkan masyarakat yang mayoritas tunaliterasi kegempaan. Setelah gempa Lombok kali ini, beredar pesan berantai di Whatsapp bahwa akan terjadi gempa dengan kekuatan skala besar, salah satunya yang menyebutkan prediksi di selatan Pulau Jawa.

?Disebutkan bahwa kondisi ini akibat meningkatnya aktivitas seismik dengan seringnya terjadi subduksi atau pergerakan lempeng selatan mulai dari Selat Sunda hingga timur Pulau Jawa. Pesan tersebut menyertakan tautan Youtube dengan sepotong pernyataan Danny Hilman beberapa bulan lalu yang disebarkan ulang.

?“Ada pihak yang mengemas dan membumbui pesan ilmiah tersebut sehingga diinterpretasikan sebagai ramalan. Perlu kami tegaskan kembali bahwa hingga saat ini belum ada satupun teknologi yang mampu memprediksi gempa bumi secara presisi mengenai kapan dan berapa kekuatannya,” ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menanggapi video itu.

?Sekalipun kajian tentang precursoratau tanda awal gempa bumi telah banyak dilakukan di berbagai negara, termasuk di Indonesia oleh BMKG, namun hingga saat ini gempa bumi tidak bisa diramalkan atau diprediksi kapan dan di mana persisnya. Oleh karena itu, Irwan meminta masyarakat agar tidak mudah terperdaya dengan sebaran informasi yang mengaitkan tentang prediksi atau ramalan tentang akan terjadinya gempa bumi.

?Kita tentu ingat, dulu banyak yang khawatir bahwa gempa berikut akan terjadi di Kepulauan Mentawai, namun kemudian terjadi di banyak tempat lain. Setelah diketahui datanya, zona megathrust di Mentawai memang berpotensi gempa besar, namun, banyak daerah lain di Indonesia yang juga rawan gempa tanpa diketahui karena datanya masih minim.

“Gempa berikut bisa terjadi di mana saja, mulai dari Aceh, Jawa, Bali, Ambon, hingga Papua,” kata Irwan.

?Kesadaran bahwa kita hidup di negara yang dilingkari “Cincin Api” sehingga rentan gempa bumi harus sudah tertanam di benak seluruh masyarakat, bahkan juga kalangan birokrat di negeri ini. Pengetahuan ini tidak harus memicu kepanikan sesaat, namun harus diikuti dengan perubahan sikap untuk meningkatkan kesiapsiagaan, mulai dari tata ruang yang memperhitungkan risiko gempa bumi hingga penerapan bangunan tahan gempa.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 16 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: