Home / Berita / Bibit Vaksin Covid-19 dari Eijkman Mendekati Tahap Akhir

Bibit Vaksin Covid-19 dari Eijkman Mendekati Tahap Akhir

Riset vaksin Covid-19 di dalam negeri selangkah lebih maju. Lembaga Biologi Molekuler Eijkamn berencana menyerahkan bibit vaksin Merah Putih tersebut ke Biofarma untuk diuji preklinik dan uji klinik.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman berhasil mendapatkan protein rekombinan yang menjadi bibit vaksin Covid-19. Bibit vaksin Merah Putih ini, menurut rencana, diserahkan kepada Biofarma pada akhir Mei 2021 untuk kemudian menjalani uji preklinik dan uji klinik.

”Kita sudah mendapatkan protein rekombinan yang menjadi bibit vaksin Covid-19. Dari beberapa pengujian responsnya cukup bagus karena antigennya bisa merangsang pembentukan antibodi,” kata Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Subandrio, Rabu (21/4/2021).

Namun produktivitas sistem ekspresi protein rekombinan ini belum memuaskan. ”Kita berharap produksinya bisa lebih tinggi sesuai skala industri. Sekarang masih kami sempurnakan,” katanya.

Saat ini bibit vaksin itu sudah memasuki proses transisi dari laboratorium ke Biofarma. ”Untuk pembesaran skala hanya bisa dilakukan di PT Biofarma. Mereka punya bioreaktor lebih besar, padahal produktivitas sel juga tergantung dari besarnya bioreaktor,” kata Amin.

Dengan perkembangan saat ini, bibit vaksin Covid-19 akan diserahkan Eijkman ke Biofarma pada akhir Mei. ”Seharusnya akhir Maret, jadi memang ada keterlambatan,” ungkapnya.

Setelah diserahkan, menurut Amin, uji klinik kemungkinan sudah bisa mulai dilakukan pada kuartal IV-2021. Jika lolos uji klinik, vaksin tersebut diharap bisa diproduksi pada tahun 2022.

Rekombinan merupakan metode pembuatan vaksin melalui rekombinasi DNA. Material genetik (genome) dari isolat virus digandakan dengan mesin polimerase rantai ganda (PCR) untuk kemudian dipotong-potong dan diambil segmen yang mengandung spike glikoprotein.

Segmen ini yang membuat SARS-CoV-2, virus korona penyebab Covid-19, bisa menempel ke tubuh korban dan merusaknya. Selanjutnya, dia disisipkan ke dalam inti sel hewan percobaan sampai potongan genome virus itu terintegrasi ke dalam untaian material genetik mamalia, untuk kemudian digandakan, direplikasi lagi sehingga menjadi protein rekombinan yang jika disuntikkan diharapkan bisa memicu antibodi.

Menurut Amin, ada tujuh lembaga riset di Indonesia yang mengembangkan riset vaksin Covid-19, termasuk Lembaga Eijkman. ”Tetapi, saat ini tinggal tiga yang perkembangannya cepat. Selain Eijkman ada Unair (Universitas Airlangga) dan UI (Universitas Indonesia). Unair juga sudah mendapat mitra yang akan memproduksinya, tetapi UI masih mencari,” katanya.

Prioritaskan lanjut usia
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Rabu (21/4/2021) malam, jumlah orang yang sudah mendapatkan suntikan pertama vaksin Covid-19 mencapai 11.302.294 orang. Sementara yang mendapatkan suntikan dosis kedua sebanyak 6.341.931 orang. Ini berarti dalam sehari ada penambahan lebih dari 160.000 orang untuk vaksinasi dosis pertama dan penambahan lebih dari 190.000 orang untuk suntikan dosis kedua.

Meski terus menunjukkan kemajuan, distribusi vaksin ini dikritik Koalisi Warga untuk Keadilan Akses Kesehatan karena dianggap menyimpang dari sasaran yang seharusnya memprioritaskan lanjut usia.

”Saat cakupan vaksinasi untuk lanjut usia masih sangat rendah, vaksinasi justru diberikan terdahulu kepada selebgram, influencer (pemengaruh), artis, dan pelaku seni lainnya yang bukan kelompok rentan,” kata Aditia Bagus Santoso, perwakilan koalisi dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dalam keterangan tertulis.

—-Cakupan vaksinasi di Indonesia hingga Rabu (21/4/2021) malam.

Data di vaksin.kemkes.go.id menunjukkan, kelompok lanjut usia yang sudah mendapatkan suntikan vaksin dosis pertama baru 2,2 juta orang atau 10,66 persen dari 21,5 juta orang yang menjadi target. Adapun yang mendapat suntikan dosis kedua sebanyak 1,1 juta orang atau 5,16 persen dari target.

Sementara petugas publik yang sudah divaksin dosis pertama lebih dari 7,5 juta orang atau 43,4 persen dan yang mendapat suntikan kedua sebanyak 3,8 juta orang atau 22,46 persen. ”Pemerintah harus memastikan seluruh sasaran kelompok rentan mendapatkan vaksinasi sesegera mungkin sebagai upaya perlindungan terhadap infeksi Covid-19,” kata Aditia.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 22 April 2021

Share
%d blogger menyukai ini: