Home / Berita / Bersama Menolak Kabar Palsu

Bersama Menolak Kabar Palsu

Apakah kabar bohong atau hoaks hanya berhenti sebagai guyonan semata? Bisakah sebuah kabar bohong bisa mengancam nyawa seseorang? Septiaji Eko Nugroho punya jawabannya dan tidak akan terdengar bagus.

Pria yang menjadi inisiator kelompok Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) ini mengungkapkan, kabar bohong pun bisa merenggut nyawa seseorang. Dia mencontohkan kasus orang meninggal setelah serangan stroke karena terlambat dibawa ke rumah sakit gara-gara ada yang mengikuti instruksi yang didapatkan dari media sosial.

Bukannya segera membawa ke rumah sakit agar segera dirawat, teman-temannya justru mengikuti metode yang dibaca dari media sosial berupa tusukan-tusukan jarum di ujung jari. Dalam pesan berantai yang pernah marak, metode ini diklaim bisa membantu menurunkan tekanan darah sehingga bisa meredakan atau menyelamatkan rekan yang terkena serangan stroke.

”Bukannya sembuh, nyawanya tidak bisa diselamatkan karena terlambat ditangani,” ujar Eko yang ditemui pekan lalu.

Belum lagi meninggalnya Maman Budiman di Pontianak akibat dikeroyok warga karena disangka penculik anak gara-gara kabar yang beredar di masyarakat pada awal tahun 2017. Perusakan wihara di Tanjung Balai di Sumatera Utara pada Juli 2016 juga disebabkan provokasi melalui media sosial.

Hoaks mengenai investasi bodong juga berhasil menggaet korban di Wonosobo. Ratusan orang terbujuk berinvestasi dalam bisnis jual pulsa. Saat roda operasi mulai macet dan akhirnya berhenti, kerugian yang muncul pun ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah. Eko menyebut, penipuan yang memanfaatkan kabar bohong di media sosial dan konvensional itu menimbulkan gangguan ekonomi di kota kecil tersebut.

Isu politik pun sudah tidak terhitung lagi, seperti bisa ditengok saat perhelatan Pilkada DKI Jakarta yang baru saja usai. Pendukung yang terpolarisasi masing-masing menjadi pelaku sekaligus korban dari kabar bohong yang beredar dalam bentuk teks ataupun gambar.

Mafindo adalah satu dari sekian lembaga yang memerangi beredarnya kabar bohong dengan menyodorkan fakta atau membantah kabar yang tidak sesuai kenyataan. Saat ini kelompok tersebut sudah memiliki 500 relawan yang tersebar di 10 kota di Indonesia.

Beberapa inisiatif yang dilakukan seperti membangun sarana membongkar hoaks di grup Facebook yang diikuti 100.000 anggota, situs turn back hoax, hingga aplikasi yang mudah diakses.

Rendahnya literasi diakui Eka sebagai salah satu penyebab hoaks tumbuh subur meski diakui kabar bohong sendiri sudah ada jauh sebelum internet lahir. Masalah lainnya adalah polarisasi yang terjadi karena hajat politik sehingga terbelah oleh pandangan politik ataupun identitas.

”Dari sudut pandang psikologi, penyebaran kabar bohong oleh mereka yang memiliki latar belakang pendidikan melampaui kebanyakan juga bisa terjadi karena merasa pertimbangan mereka tidak mungkin salah dan bebas dari bias,” kata Eko.

Isu kesehatan
Kabar bohong bukanlah masalah yang dihadapi oleh Indonesia saja. Hampir berdampingan dengan banjir informasi yang dihadirkan oleh internet, kabar bohong pun menjadi masalah yang dijumpai di negara lain. Gempa bumi yang terjadi di Fukushima, Jepang, tahun 2011 juga memunculkan hoaks bahwa obat kumur yang mengandung yodium dan rumput laut mencegah kerusakan akibat radiasi.

Peerapon Anutarasoat dari Thai News Agency juga terlibat dalam perang melawan kabar bohong menggunakan layanan perpesanan dan kanal di layanan video Youtube. Melalui kanal bernama ”Sure and Share”, dia menyisir satu demi satu kabar bohong yang marak diperbincangkan di layanan perpesanan Line untuk kemudian dicari penjelasannya.

”Line adalah layanan yang dipakai hampir 33 juta pengguna di Thailand dan disinformasi menyebar mudah di sana. Saluran yang sama kami pergunakan untuk menjaring informasi yang mencurigakan,” kata Peerapon.

Dengan informasi yang berhasil dikumpulkan, Peerapon memverifikasi ke sumber yang kompeten, baik itu perusahaan maupun ahli yang terkait. Pemilihan format video di Youtube dilakukan agar bisa jadi referensi apabila suatu hari hoaks serupa kembali mengemuka.

Saat ini, lanjutnya, Thailand masih menghadapi hoaks yang berkutat di isu kesehatan, seperti konsumsi buah tertentu yang diyakini bisa menyembuhkan sebuah penyakit. Penyebaran terutama dilakukan oleh pengguna yang berusia di atas 40 tahun tetapi baru-baru ini menggunakan internet.

Selain video, inisiatif tersebut juga memanfaatkan infografik agar mudah dibaca dan disebar. Metode ini efektif untuk pengguna yang tidak punya waktu atau terlampau malas membaca seluruh artikel klarifikasi. Format lain juga dikembangkan, seperti rekaman suara.

Gawai
Hoaks umumnya disebar menggunakan teks atau gambar yang menggiring kesimpulan pembaca untuk meyakini sesuatu. Sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi sering kali juga ditunggangi oleh kabar bohong melalui penggunaan gambar atau video yang konteksnya tak terkait sama sekali. Atau sebuah rekaman peristiwa yang sudah lama terjadi dibungkus oleh narasi seolah baru saja berlangsung.

Motivasi menyebarkan hoaks pun beragam, mulai dari sekadar iseng demi lelucon semata hingga menebarkan kerisauan atau memprovokasi demi agenda politik. Beredar melalui media sosial maupun layanan perpesanan yang terpasang sebagai aplikasi di gawai, hoaks pun tidak bisa dipisahkan dari mayoritas masyarakat Indonesia yang sudah akrab dengan perangkat seperti ponsel pintar atau sabak elektronik.

Eko menuturkan, kuncinya adalah menahan diri, terutama jari tangannya, untuk menyebarkan setiap informasi yang didapatkan dari media sosial ke jejaringnya. Menahan diri menyikapi informasi yang belum terverifikasi karena masih banyak yang menganggap bahwa siapa yang bisa menyebarkan berita lebih dulu adalah orang yang lebih hebat.

”Ambon sebagai daerah yang pernah didera konflik berlatar belakang agama sudah belajar untuk tak mengulangi kesalahan serupa. Begitu beredar isu yang memprovokasi perselisihan antaragama, masyarakat langsung meminta tokoh agama untuk aktif meredam isu,” tutur Eko.

Grup untuk membongkar hoaks juga banyak ditemui di media sosial, mengandalkan gotong royong para anggotanya untuk mengumpulkan kabar sumir di linimasa masing-masing untuk dikumpulkan dan diverifikasi.

Perangkat tersedia
Foto atau video yang beredar di media sosial kian melimpah apabila terjadi peristiwa berkat gawai yang kini menjadi barang yang lumrah. Namun, itu juga berarti kian mudah membuat kabar bohong bermodalkan gambar yang bisa mengusik emosi agar mudah disebar tanpa berpikir panjang mengenai kebenaran kontennya. Tinggal comot gambar dan mengaku laporan mata dari sebuah peristiwa.

Untunglah, verifikasi informasi seperti ini bisa dilakukan oleh setiap orang dalam batas tertentu. Syaratnya adalah ketekunan, ketelitian, dan skeptis terhadap setiap informasi yang diterima.

Beberapa perangkat yang tersedia gratis untuk dipergunakan bisa dipakai untuk verifikasi sebuah foto atau video. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah lokasi dan waktu pengambilan.

Itulah kenapa ketelitian wajib dimiliki karena bisa mencari petunjuk visual untuk memastikan sebuah gambar memang diambil dari lokasi yang diklaim. Misalnya dari rambu jalan, papan iklan, hingga arsitektur bangunan. Google memiliki layanan yang bisa dimanfaatkan, seperti Google Images untuk mencari gambar yang mirip, atau Google Maps untuk mencari lokasi berdasarkan petunjuk visual seperti menara gedung.

Layanan komputasi Wolfram Alpha adalah layanan yang paling jamak digunakan untuk mencocokkan waktu kejadian melalui pertanyaan saintifik. Basis data yang dimiliki bisa memberi jawaban akurat dari pertanyaan seperti kondisi cuaca.

Perusahaan internet Google yang hingga kini masih mengumpulkan informasi untuk dipakai para penggunanya juga berkepentingan dengan pemberantasan kabar bohong. News Lab adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dalam memanfaatkan teknologi dalam membongkar kabar bohong di internet.

Irene Jay Liu, News Lab Asia Pacific Lead, yang ditemui dalam pelatihan Fact Check mengatakan, peningkatan kapasitas bisa berfaedah dalam hal membangun kredibilitas media massa dalam menjadi referensi pengguna internet yang mencari kepastian.

”Begitu pula memanfaatkan data yang tersedia dari internet untuk membuat reportase demi menyajikan sesuatu yang baru bagi pembaca. Teknologi baru seperti virtual reality bisa digunakan untuk menyajikan reportase yang lebih memikat,” kata Liu. Dengan teknologi yang tersedia, semua pun bisa terlibat dalam memberantas kabar bohong.(DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Juli 2017, di halaman 25 dengan judul “Bersama Menolak Kabar Palsu”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: