Home / Berita / Berbahasa Satu, Bahasa Pemrograman Komputer

Berbahasa Satu, Bahasa Pemrograman Komputer

Apa benda pertama yang dipegang sebagian besar orang setelah bangun pagi? Gadget alias gawai. Apa benda terakhir yang disentuh sebagian besar orang sebelum tidur malam? Gadget alias gawai.

Hampir semua aspek kehidupan kita di masa ini dipengaruhi, tergantung, jika tidak bisa disebut dikendalikan, oleh perkakas bernama telepon pintar. Sajian data bergerak (mobile) yang dibenamkan dalam beragam aplikasi dengan tulang punggung pada jaringan internet di gawai-gawai itu telah mengubah cara hidup banyak orang.

Memesan moda transportasi seperti taksi atau ojek, berlatih gerakan olahraga, berbelanja, memantau kondisi kesehatan, mencari pasangan hidup, dan lain-lain. Interaksi dan komunikasi lewat perantaraan komputer seperti itulah, dengan bahasa pemrograman komputer sebagai intisarinya, yang kini mendominasi kehidupan kita.

Maka, memahami atau setidaknya mengetahui perihal bahasa pemrograman komputer (coding) menjadi penting di masa ini. Coding bukan semata urusan jago-jago komputer, melainkan juga kita semua, seperti beragamnya berbagai urusan yang kini ditangani lewat aplikasi mobile atau beragam gim komputer yang digandrungi hampir semua orang dan menjadi dasar perekonomian digital dengan informasi sebagai mata uangnya.

Itulah yang tampak tatkala pada awal Desember lalu dilangsungkan kegiatan pelatihan Train the Trainer dalam rangkaian gerakan kolaboratif Hour of Code Indonesia bersama Clevio Coder Camp di Redaksi Kompas, Jakarta. Sebanyak 43 pengurus beberapa komunitas pendidikan bagi anak-anak marjinal berkumpul untuk menerima materi pelatihan tersebut.

Mereka, antara lain, berasal dari jaringan Sekolah Raya, Bimbel Koran, Swayanaka, CareShare, Sobat Kolong, 1 Juta Buku, dan Indocharity. Mereka selanjutnya menularkan pengetahuan tersebut kepada anak-anak yang menjadi kelompok dampingan dan selama ini cenderung tidak memiliki akses terhadap pengetahuan teknologi informasi.

Ketegangan sebagian peserta sebelum pelatihan-karena mereka menyangka bakal menghadapi bahasa pemrograman komputer, seperti C++, Java, PHP, Ruby, C#, dan Objective-C-langsung sirna. Apa yang mereka hadapi di layar laptop atau gawai masing-masing adalah panel gim populer, seperti Flappy Bird, Angry Birds, dan Minecraft, yang bisa diprogram ulang menggunakaan potongan-potongan perintah (di belakang potongan itulah bahasa pemrograman komputer sesungguhnya bersembunyi) serupa bentuk puzzle.

fe54ef4de2b34d4cb2de8681d4c0e951KOMPAS/INGKI RINALDI–Aktivitas pengenalan bahasa pemrograman komputer bertajuk Hour of Code yang dikemas dalam lomba Family Games Marathon, Minggu (20/12), di mal Living World, Alam Sutera, Tangerang, Banten. Bocah-bocah dan orang lanjut usia berderap bersama dalam gerakan menyongsong perubahan peradaban itu.

Apalagi, fasilitator kegiatan itu, Aranggi Soemardjan, pendiri dan CEO Clevio Coder Camp, tampil penuh tawa dengan macam-macam lelucon. Lewat perangkat lunak dengan dua jendela kerja, satu berisikan balok-balok perintah dan satu lagi area kerja di mana balok-balok itu disusun untuk memerintahkan gerakan tertentu setiap gim yang diprogram ulang pada layar paling kiri, mereka berlatih sembari tertawa-tawa.

“Imajinasi saya berlompatan dan saya bahagia ketika mendapati kesenangan anak kecil dalam diri saya sendiri saat berhasil menyelesaikannya. Terkadang orang-orang dewasa perlu belajar kembali pada dunia anak-anak yang polos dan bersemangat,” tulis Novita Anggraini, salah seorang peserta dari komunitas 1 Juta Buku dan jejaring Sekolah Raya, di dinding akun Facebook-nya seusai pelatihan tersebut.

Apa yang relatif tidak disadari adalah selama proses tersebut para peserta tengah melatih kemampuan computational thinking. Sebuah proses berpikir logis, runtut, dan memahami konsekuensi. Proses berpikir “jika ini maka itu” yang menjadi dasar bahasa pemrograman komputer dan sesungguhnya telah dimiliki setiap manusia.

Ini adalah tentang kemampuan untuk memecah persoalan menjadi satuan atau bagian-bagian lebih kecil, melihat pola data atau informasi, menggeneralisasi prinsip tertentu berdasarkan identifikasi untuk membuat abstraksi, dan menentukan urutan langkah atau algoritma untuk memecahkan persoalan. Dasar operasional computational thinking inilah yang juga diperlukan dalam mengambil keputusan, membuat flow chart, mengetahui konsekuensi, dan sebagainya yang diperlukan dalam kehidupan.

Kehidupan marjinal
Sepuluh hari setelah pelatihan tersebut, aktivitas pengenalan bahasa pemrograman komputer itu menyebar dan diselenggarakan di sejumlah komunitas. Salah satu kegiatan dilangsungkan di Sekolah Alam Anak Sholeh untuk Kaum Dhuafa, Sabtu (19/12), di Desa Setia Asih, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Para peserta berasal dari kalangan anak-anak tidak mampu. Sebagian dari 41 peserta kegiatan tersebut bahkan baru pertama kali bersentuhan dengan komputer.

Salah seorang di antaranya adalah Anan Gopal (14), murid kelas II SMP, yang hari itu tampak takut-takut menyentuh papan ketik atau bahkan memegang laptop. Ia menghadapi laptop itu bersama-sama dengan M Taufik (14) dan Ayub Soleh (14).

Namun, Ayub belakangan memilih undur diri dan tinggallah Anan bersama Taufik berupaya memecahkan sepuluh tingkat tantangan dalam pemrograman ulang gim Flappy Bird. Anan, bungsu dengan lima kakak yang ayahandanya telah tiada, hari itu tampak takjub pada tampilan layar laptop yang dilihatnya.

Sementara Taufik terakhir kali bersentuhan dengan komputer tiga tahun lalu saat ia mengunjungi warung internet. Ayahnya berdagang kepiting di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sebanyak 12 laptop dan sebuah komputer tablet, berikut tak kurang dari tujuh pembimbing, disiapkan untuk mendampingi anak-anak yang sebagian besar duduk di bangku sekolah dasar tersebut. Di Rumah Baca HOS Tjokroaminoto, di mana buku tersusun di rak dan poster tentang Kejayaan Sriwijaya dan Sailendra serta penjelasan ihwal masa pubertas ditempel di dinding, mereka melatih kemampuan dasar computational thinking itu.

Asyik dan seru. Itulah komentar anak-anak setelah mereka menyelesaikan tantangan demi tantangan dan memrogram ulang berbagai gim populer itu.

Tak terkecuali Sindi (12) yang hidup dengan tumor limfangioma di mata kirinya. Ia berhasil menyelesaikan semua tantangan pemrograman dan beroleh sertifikat yang ditandatangani Hadi Partovi, investor sejumlah perusahaan teknologi informasi di Silicon Valley dan pendiri lembaga nonprofit Code.org yang berada di balik gerakan Hour of Code.

Salah seorang aktivis Sekolah Raya, Agus Tian, menambahkan tantangan lain. Sejumlah anak yang sebelumnya telah beroleh pengetahuan ihwal kamera lubang jarum bakal menambahkan pemrograman komputer tersebut di kamera-kamera itu, yang menunjukkan semakin tidak terbatasnya aplikasi coding dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tanpa batas
Ketiadaan batas itu juga yang tecermin dalam kegiatan pengenalan bahasa pemrograman komputer bertajuk Hour of Code yang dikemas dalam lomba Family Games Marathon, Minggu (20/12), di mal Living World, Alam Sutera, Tangerang, Banten. Kegiatan yang menjadi bagian dari InspirAksi-Family Organic Market yang diselenggarakan bersama harian Kompas dan Komunitas Organik Indonesia tersebut diikuti anak-anak usia lima tahun hingga kaum lanjut usia.

Kakak beradik Kustiam (73) dan Ida Irawati (65), misalnya, untuk pertama kalinya di hari itu bersentuhan dengan dunia komputer. Berdua mereka menyelesaikan tantangan demi tantangan pemrograman ulang sejumlah gim populer yang tersembunyi di sejumlah toko di pusat belanja itu.

Tagline took berikut nama gim menjadi petunjuk di mana saja tantangan itu mesti dituntaskan. “Tidak apa-apa capek, justru dengan begitu harus berhasil,” ujar Kustiam, nenek empat cucu dari dua anak.

“Anak-anak, ya, tidak tahu. Nanti kalau tahu, kami diketawain. Kami ini nenek-nenek yang bersemangat,” kata Ida yang memiliki delapan cucu dari tiga anak.

Semangat itu juga yang meliputi pasangan ayah dan anak, Khairuzzadi (37) dan Rhaya Afzaali Putra (10). Khairuzzadi yang bekerja di sebuah BUMN sejak pagi berangkat bersama istrinya, Deliyana Oktaviani (37), dan adik Rhaya, Aqila Rairani Putri (5), untuk mengikuti ajang tersebut.

Mereka berusaha menerjemahkan setiap petunjuk, menjelajahi toko demi toko, dan berupaya menjadi yang tercepat dalam memecahkan setiap tantangan bahasa pemrograman yang dibungkus dalam permainan. “Biar anaknya bisa bikin gim, lalu diunggah dan dijual ke Google Play dan App Store,” ucap sang ibu, Deliyana.

Agaknya tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa setelah bahasa ibu, bahasa pemrograman komputer berada di prioritas selanjutnya untuk dikuasai.(INGKI RINALDI)
——-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Januari 2016, di halaman 26 dengan judul “Berbahasa Satu, Bahasa Pemrograman Komputer”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: