Home / Berita / Bencana Hidrometeorologi Meningkat

Bencana Hidrometeorologi Meningkat

Intensitas bencana hidrometeorologi meningkat seiring dengan peralihan tipe angin monsun yang memicu ketidakstabilan atmosfir di wilayah Indonesia. Banjir, longsor, hingga angin puting beliung terjadi di sejumlah daerah, khususnya di Pulau Jawa pada awal pekan ini.

Hujan yang mengguyur selama sepekan di Aceh Tenggara, Aceh, memicu banjir bandang di delapan desa, Senin (26/11/2018), sekitar pukul 20.30. Air lumpur dan potongan kayu meluncur deras dari atas bukit menerjang permukiman penduduk. Sebanyak enam rumah rusak berat dan 27 rumah terendam lumpur.

“Satu rumah hanyut dibawa bandang. Jumlah warga yang terdampak masih didata. Namun, mereka saat ini mengungsi ke rumah saudara,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Teuku Ahmad Dadek, Selasa (27/11/2018).

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Pekerja menyelesaikan pemasangan turap beton di Kali Mookervart, Jakarta, Selasa (27/11/2018). Pemasangan turap merupakan bagian normalisasi saluran dan sungai di sejumlah wilayah di Jakarta untuk mengendalikan banjir.

Banjir bandang tersebut juga menyebabkan jembatan penghubung antar desa di Kecamatan Leuser yang menjadi satu-satunya akses bagi warga, putus. Akibatnya beberapa desa terisolir. Beberapa titik jalan desa di Leuser juga amblas.

Banjir bandang juga terjadi di Kecamatan Bubulan dan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (25/11/2018). Sebanyak 54 keluarga terisolir.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, mengatakan, banjir juga terjadi di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Minggu.

Di Jawa Barat, banjir merendam lebih dari 100 rumah warga di Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astaanya, Kota Bandung, Senin. Banjir ini terjadi akibat air Sungai Citepus meluap dengan ketinggian mencapai 1,5 meter. Beberapa ruas jalan Pagarsih sulit dilalui kendaraan karena genangan air tersebut sehingga menimbulkan kemacetan.

Banjir juga mulai terjadi di Kota Cilegon, Banten seiring derasnya hujan di tengah belum rampungnya pembangunan penampungan air. Banjir dengan kedalaman sekitar 20 sentimeter di Kelurahan Sukmajaya, Kecamatan Jombang merendam 15 rumah selama 1,5 jam, Senin.

“Banjir dipicu luapan Sungai Tumpang. Sungai itu dialiri air dari beberapa kecamatan di Kota Cilegon seperti Cibeber dan Cilegon,” kata Lurah Sukmajaya.

Tidak hanya itu, hujan deras dan angin kencang juga memicu beberapa pohon tumbang di Cilegon. Angin puting beliung juga melanda Desa Serut, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, satu orang meninggal. Adapun puting beliung yang terjadi di Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, merusak tujuh rumah.

Awan hujan meningkat
Tingginya intensitas bencana hidrometeorologi ini sejalan dengan peringatan dini bencana yang dikeluarkan Deputi Bidang Meteorologi Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mulyono R Prabowo kemarin. Menurut dia, muncul sirkulasi angin tertutup di Laut Jawa yang mengakibatkan terbentuknya daerah pertemuan angin di sepanjang Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi cuaca tersebut meningkatkan pembentukan dan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

Selain itu, adanya aliran massa udara basah yang masuk dari Samudera Hindia turut mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Tenggara serta Maluku. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang khususnya di Jawa hingga NTT hingga tanggal 30 November 2018.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Blang Bintang, Aceh, Zakaria Ahmad, mengatakan, pada November – Desember Aceh memasuki masa puncak musim hujan. Pada saat itu, banjir, longsor, dan bandang sangat mungkin terjadi karena curah hujan sangat tinggi.

Transisi Monsun
Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto menambahkan, saat ini memasuki masa peralihan dari angin monsun Australia digantikan oleh monsun Asia yang membawa lebih banyak masa uap air akibat penguapan di perairan Laut Cina Selatan, Samudera Pasifik Barat, dan Samudera Hindia.

“Akibat pergantian dominasi sistim sirkulasi monsun itu, pada peralihan musim ini akan banyak potensi munculnya daerah pertemuan angin dan juga pergolakan udara lokal yang dapat memicu ketakstabilan atmosfer. Pada akhirnya terbentuk awan awan tinggi yang dapat memunculkan potensi ekstrem dari curah hujannya,” katanya.

Pantauan BMKG, saat ini sudah 60,7 persen wilayah Indonesia yang telah memasuki musim hujan. Prospek curah hujan sangat tinggi atau hingga lebih dari 300 milimeter dalam sepuluh hari meliputi Pidie Jaya, Kepulauan Nias, Riau, Bengkulu, Banyuasin, Pontianak, Sintang, Kapuas Hulu, Kota Waringin Barat, Murung Raya, Nunukan, Sorong, Nabire, dan Pegunungan Bintang. Untuk daerah dengan potensi hujan tinggi, yaitu antara 90-300 mm per sepuluh hari adalah pesisir barat Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sedangkan daerah yang perlu waspada potensi banjir berdasarkan prakiraan curah hujan tinggi dan daerah rawan yaitu sebagian besar Sumatera, Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian Kalimantan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan sebagian kecil Papua.(ZULKARNAINI/DWI BAYU RADIUS/MACHRADIN WAHYUDI RITONGA)–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 28 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: