Home / Berita / Belajar Pertanian dari Thailand

Belajar Pertanian dari Thailand

Sebagian masyarakat di Indonesia mungkin tidak terlalu asing dengan kata bangkok. Istilah itu kerap digunakan untuk menyebut produk-produk pertanian yang super alias istimewa, seperti durian bangkok atau jambu bangkok. Kenapa bisa begitu?

Pertanyaan itu membuat sekitar 50 perwakilan dari 39 lembaga pendidikan kejuruan di Indonesia antusias mengikuti Lokakarya Keempat Kemitraan Sekolah Kejuruan Indonesia-Thailand (Workshop on Vocational Schools Partnership Indonesia-Thailand 4th Batch) di Bangkok selama tiga hari pada pertengahan Agustus lalu. Kegiatan itu diprakarsai Organisasi Menteri Pendidikan Se-Asia Tenggara Bidang Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre/SEAMEO-SEAMOLEC) yang berpusat di Jakarta bekerja sama dengan The Office of the Vocational Education Commission (OVEC) Kementerian Pendidikan Thailand.

Rasa penasaran itu mulai terjawab saat rombongan dari sejumlah daerah di Tanah Air itu mengunjungi College of Agriculture and Technology Bangsai Arts and Crafts Centre di Subdistrik Photaeng, Distrik Bangsai, Provinsi Phranakornsriayutthaya. Dengan lahan praktik sekitar 60 hektar, sekolah itu dianggap sebagai salah satu sekolah kejuruan yang berhasil mengembangkan pendidikan pertanian. Dari pusat kota Bangkok, perjalanan ke sekolah itu memakan waktu sekitar tiga jam.

Ditemani Direktur College of Agriculture and Technology Chantana Potikruprasert, para guru dari Indonesia melongok-longok produksi pertanian dengan sistem hidroponik. Saat itu, beberapa siswa tengah mengemas kecambah bunga matahari. Kecambah jenis itu lebih besar daripada kecambah kedelai atau kacang yang biasa dikonsumsi di Tanah Air, berwarna hijau kekuningan yang cantik, dan agak harum.

”Ini enak,” kata seorang siswa kepada para tamu. Salah satu guru langsung mencomot beberapa batang kecambah, lantas mengunyahnya. ”Iya, enak, segar,” ujarnya sambil tersenyum.

Penanaman Sayuran dengan Sistem HidroponikTak jauh dari sana, para guru melihat sayur-mayur yang ditanam di bawah semacam jaring plastik sehingga tidak ditimpa terik matahari langsung. Ada kangkung, sawi, dan seledri. Sayur-mayur itu tampak menggoda dengan daun hijau segar.

Semua tanaman di bagian tersebut tidak dibiakkan di atas lahan tanah, tetapi dengan sistem hidroponik. Tanaman ditancapkan di atas gabus atau styrofoam yang diletakkan mengambang di atas air.

Pupuk untuk nutrisi tanaman dilarutkan dalam air. Selain tak membutuhkan lahan tanah luas, sistem tersebut juga bisa menghasilkan produk organik yang lebih sehat.

”Kami sangat menjaga agar produk kami benar-benar organik, tanpa pestisida. Jika ada banyak ulat, kami akan membuka jaring penutup tanaman. Nanti burung-burung berdatangan untuk memakan ulat-ulat itu,” tutur Chantana.

Populer di pasar
Sistem tanam hidroponik sebenarnya bukan hal aneh bagi sebagian petani di Indonesia. Banyak komunitas petani di kota-kota besar mengembangkannya untuk menyiasati lahan yang terbatas. Produk tersebut juga cukup populer di pasar.

Hal yang lebih menarik dari College of Agriculture and Technology, Bangsai, ialah keseriusannya mengembangkan sistem pengolahan produk pertanian pasca panen. Contohnya, pengemasan kecambah bunga matahari.

Setelah kecambah dipanen, para siswa membungkusnya dalam plastik yang rapi dan mengirimnya ke pasar. Pasar itu cukup terjamin karena sekolah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan pemasaran di kawasan setempat.

Di lingkungan sekolah ada satu truk besar yang menjajakan berbagai produk pertanian segar. Saat kunjungan siang itu, truk itu mengangkut durian, kelengkeng, dan salak yang baru dipetik. Para guru dari Indonesia senang mencicipinya karena harganya cukup murah. Durian montong bangkok ukuran sedang, misalnya, dijual seharga 100 baht atau sekitar Rp 40.000. ”Hasil dari pemasaran itu kami kumpulkan untuk tambahan biaya pendidikan,” ungkap Chantana.

Sebagai catatan, sekolah itu menanggung biaya pendidikan semua siswa yang berjumlah sekitar 295 orang. Kebanyakan siswa berasal dari kalangan keluarga kurang mampu.

Semua siswa ditampung di asrama dan diberi berbagai fasilitas sekolah. Sejumlah siswa dan guru juga dikirim untuk mengikuti pendidikan di luar negeri, seperti Jepang.

Menurut koordinator lokakarya dari SEAMOLEC, Anti Rismayanti, College of Agriculture and Technology, Bangsai, terbilang istimewa. Sekolah itu bisa menghidupi biaya operasional sendiri.

Sekolah itu pernah dilanda banjir besar pada tahun 2010 sampai setinggi 2 meter sehingga memorakporandakan bangunan sekolah. Berkat hasil pemasaran produk pertanian, sekolah tersebut perlahan bisa bangkit dan memperbaiki bangunannya.

Perbandingan
Direktur SEAMOLEC Gatot Hari Priowirjanto mengungkapkan, kunjungan semacam itu diharapkan memberikan pengalaman langsung bagi para guru di lembaga pendidikan kejuruan. Tak hanya memperoleh bahan perbandingan, mereka juga akan dipacu untuk mengembangkan sistem pertanian seperti di Thailand atau bahkan lebih baik lagi. Hal itu sangat dimungkinkan karena Indonesia memiliki lahan yang lebih luas dan tenaga kerja lebih banyak.

Sekolah-sekolah perlu dikenalkan dengan pendidikan pertanian sekaligus didorong untuk menghasilkan inovasi bibit unggul. Bagaimanapun, produktivitas pertanian ditentukan oleh kualitas bibit. Semakin unggul bibit, semakin produktif varietas yang ditanam.

Gatot bercerita, belum lama ini, dia berkunjung ke Tiongkok, juga bersama rombongan guru sekolah kejuruan. Di sana, pemerintah berhasil mengembangkan bibit unggul padi yang bisa berproduksi sekitar 20 ton per hektar. Penambahan kapasitas produksi itu juga memberikan keuntungan lebih besar.

Sementara di Indonesia, produksi padi berkisar 6 ton sampai 8 ton per hektar. ”Kita perlu membuat konsorsium bersama untuk menciptakan pembibitan dengan kultur jaringan. Sekolah kejuruan bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi, pemerintah, dan perusahaan,” ucapnya.

Salah satu peserta lokakarya, Wakil Kepala SMK Negeri 4 Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Dedi Supriatna, menilai, sekolah-sekolah di Indonesia potensial mengembangkan jurusan pertanian.

Apalagi, Indonesia juga punya pengalaman berhasil mengembangkan pertanian lewat program nyata, dana, dan penyuluh pertanian pada masa Orde Baru. Saat itu, banyak sekolah disokong dengan lahan praktik dan fasilitas cukup memadai.

”Jangan malu untuk meniru pemerintah Orde Baru yang pernah mendukung program pertanian. Itu jalan benar yang harus kembali kita tempuh untuk memajukan Indonesia sebagai negara agraris,” kata Dedi.

Lanjutan
Program lokakarya itu merupakan lanjutan dari kerja sama pendidikan kejuruan Indonesia-Thailand yang berlangsung sejak tahun 2009 dengan tiga kali lokakarya. Sebanyak 275 siswa dan guru dari sejumlah daerah di Tanah Air telah mengikuti program pertukaran ke sekolah-sekolah di Thailand. Mereka belajar di sejumlah sekolah, merasakan budaya berbeda, sekaligus mencicipi pengalaman bekerja di negara lain.

Bagi Thailand, program itu juga dianggap penting. Acting Expert Vocational Evaluation OVEC Kementerian Pendidikan Thailand Puttachard Suphalucksana mengatakan, kerja sama Indonesia-Thailand perlu demi menyiapkan masyarakat terbuka di ASEAN. Lewat pendidikan kejuruan dengan kurikulum bersama yang berkualitas, kedua negara bisa melahirkan sumber daya manusia yang profesional di berbagai bidang. Hingga kini, lebih dari 200 siswa asal negeri itu pernah mengikuti program pertukaran di beberapa sekolah di Nusantara. (Ilham Khoiri)

Sumber: Kompas, 28 September 2014

Share

One comment

  1. Andi Harwing

    Saya sangat berminat untuk belajar pertanian diThailand cuma menjadi kendala biaya yang tidak ada seandainya ada fasilitas nepada saya pasti tidak kusiasiakan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: