Home / Berita / Belajar di “Negeri Tirai Besi”

Belajar di “Negeri Tirai Besi”

Bagi sebagian besar pelajar Indonesia, Rusia bukanlah tujuan utama untuk belajar di luar negeri. Padahal, negeri tirai besi itu memiliki sejumlah perguruan tinggi dan program studi yang diakui dunia. Terbatasnya informasi membuat pandangan sebagian besar masyarakat Indonesia tentang Rusia tak banyak berubah selama 25 tahun terakhir.

Masyarakat Indonesia umumnya masih menganggap Rusia yang merupakan negara terbesar pecahan Uni Soviet sebagai negara yang kaku, dingin, tertutup, tidak aman, berteknologi kuno, hingga cap komunis yang sering dimaknai secara sederhana sebagai anti Tuhan. Namun, siswa-siswa Indonesia di negara itu memutarbalikkan semua pandangan itu.

“Kualitas pendidikan di Rusia tidak kalah dengan negara-negara Eropa Barat,” kata Rulando Putra Augustyn, residen atau peserta pendidikan dokter spesialis ortopedi traumatologi di North- Western State Medical University Ilya Ilyivich Mechnikov di Saint Petersburg, Juni lalu.

Selain kedokteran, jurusan yang banyak diambil mahasiswa Indonesia di Rusia adalah teknik, khususnya teknik perminyakan dan geologi yang jadi unggulan. Jurusan lainnya adalah teknik mesin, perkapalan, atau informatika. Namun, ada pula siswa yang mengambil jurusan politik, sastra, hingga periklanan.

Rusia memiliki sistem pendidikan yang cukup bersaing dengan negara-negara maju lain. Teknologinya pun cukup diakui dunia. Namun, kini Rusia juga sangat terbuka dan mengikuti perkembangan teknologi negara lain, seperti teknologi Jerman atau Jepang yang banyak digunakan untuk pendidikan kedokteran atau teknik.

“Proses adaptasi teknologi di Rusia sangat cepat,” ucap Danny Pelupessy, dosen Fakultas Teknik Universitas Pattimura, Ambon, yang sedang menyelesaikan pendidikan doktoral di Sankt Peterburskiy Gozudarstveni Politekhnichesky Universitet atau Universitas Politeknik Negeri Saint Petersburg.

Selain itu, lanjut Danny, pendidikan teknik di Rusia lebih fokus atau menjurus pada bidang-bidang tertentu. Jika di Indonesia dikenal jurusan teknik mesin, di Rusia langsung dinamai jurusan mesin produksi (machine building production) atau jurusan mesin konstruksi (machine tools construction).

819790cbd1ad41b9bae73904123d1fa8KOMPAS/M ZAID WAHYUDI–Sejumlah mahasiswa pulang dari kampus mereka di North-Western State Medical University Ilya Ilyivich Mechnikov, Saint Petersburg, Rusia, Juni lalu. Beberapa mahasiswa Indonesia menuntut ilmu di salah satu universitas kedokteran terbaik di Rusia tersebut.

Sama dengan di negara lain, mahasiswa juga didorong mampu menulis jurnal, baik dalam bahasa Rusia maupun jurnal-jurnal internasional dalam bahasa Inggris. Penulisan jurnal itu wajib bagi mahasiswa doktoral.

Namun, tantangannya, semua proses pendidikan dan buku acuan yang digunakan di universitas menggunakan bahasa Rusia. Karena itu, sebelum mengikuti perkuliahan, siswa wajib lulus program diploma bahasa Rusia terlebih dahulu.

Samira Dial Magistra, alumnus Madrasah Aliyah Negeri 4 Jakarta yang sedang mengikuti kelas bahasa di North-Western State Medical University Ilya Ilyivich Mechnikov di Saint Petersburg, mengatakan, ia belajar bahasa Rusia di Jakarta selama tiga bulan untuk pengenalan huruf. Selanjutnya, siswa wajib ikut program diploma bahasa selama sembilan bulan di universitas tujuan yang materinya sudah disesuaikan dengan jurusan yang akan diambil.

“Setelah lulus program bahasa, masih ada kesempatan untuk berganti jurusan,” katanya.

Mengikuti pendidikan di Rusia tak membutuhkan syarat kemampuan berbahasa Inggris. Namun, kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki siswa tetap bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan sesama mahasiswa lain. Mahasiswa di Rusia berasal dari negara yang beragam, mulai dari Jerman, Finlandia, Polandia, Ukraina, Lituania, Maroko, Tunisia, Jordania, Suriah, hingga negara-negara Asia Tengah.

Meski demikian, para siswa mengakui, kompetensi lulusan Rusia sering kali dipandang sebelah mata, khususnya dalam pasar kerja dalam negeri. Kemampuan mereka sebenarnya diakui kalangan akademik. Namun, kompetensi mereka justru sering diragukan kelompok profesional atau industri.

Terus meningkatnya investasi Rusia di Indonesia, baik di sektor pertambangan, perkeretaapian, maupun bidang lain, diharapkan mampu mendorong citra alumni pendidikan Rusia. “Lulusan Rusia harus pandai merebut kepercayaan pasar,” tambahnya.

Meski demikian, jika ingin berkarier di luar negeri, kemampuan lulusan Rusia sangat dipandang, khususnya jika mereka ingin berkarier di negara-negara Eropa Timur atau Asia Tengah yang merupakan pecahan Uni Soviet. Peluang ekonomi di negara-negara tersebut cukup tinggi, baik karena populasinya yang besar maupun kondisi ekonominya yang semakin baik.

Hidup
Sebagian siswa Indonesia belajar di Rusia atas biaya sendiri. Nyatanya, biaya pendidikan dan biaya hidup di Rusia tak semahal di negara-negara lain. Harga barang dan makanan, baik di Moskwa maupun Saint Petersburg, hampir sama dengan di Jakarta.

Rulando mengatakan, biaya kuliah di Rusia bergantung pada jurusan yang diambil, tetapi berkisar 3.000-5.000 dollar Amerika Serikat per tahun. Jurusan teknik biasanya lebih mahal. Sementara biaya pendidikan kedokteran lebih murah dibandingkan pendidikan kedokteran di universitas swasta di Indonesia.

Untuk biaya hidup, menurut Samira, hanya butuh sekitar 500 dollar AS per bulan. Porsi terbesar digunakan untuk biaya perumahan. “Jika mau tinggal di asrama berbagi dengan teman lain dan masak sendiri, biaya bisa ditekan 300-350 dollar AS atau sekitar 10.000 rubel per bulan,” katanya.

Meski ada sejumlah beasiswa dari Pemerintah Rusia atau lembaga lain untuk jenjang pendidikan sarjana, magister, atau dokter, beasiswa itu sering kali tidak utuh, misalnya hanya biaya sekolah. Sementara biaya asrama bergantung pada setiap universitas. Namun, biaya asrama tetap jauh lebih murah dibandingkan jika harus menyewa apartemen di luar kampus. Selain itu, terkadang ada bantuan uang saku yang cukup digunakan untuk mengakses internet dan transportasi.

Warga Rusia juga tak sedingin dan sekaku yang digambarkan masyarakat Indonesia. Para mahasiswa menilai warga Rusia umumnya baik, saling membantu, dan bisa menerima orang asing. Bahkan, jika mengenal mereka dengan baik, tak jarang warga Rusia menjadi pelindung saat siswa tersebut menghadapi gangguan, misalnya dari orang-orang yang mabuk di jalanan.

Tinggal di negeri orang dengan budaya berbeda memang menuntut siapa pun untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan dan pergaulan baru. Bagi mereka yang memang pandai bergaul, perbedaan dan perubahan lingkungan itu justru tantangan baru dan kesempatan untuk menambah teman, bukan sesuatu yang menakutkan. “Intinya, harus pandai bergaul,” kata Samira.

Para pelajar Indonesia itu juga membantah bahwa masyarakat Rusia tak mengenal agama. Meski hidup bertahun-tahun dalam pemerintahan komunis, masyarakat Rusia tetap menjalankan kehidupan keagamaannya walau terbatas. Kini dengan zaman yang berubah, masyarakat bebas menjalankan tradisi dan mengekspresikan kehidupan keagamaannya di ruang publik, baik di gereja maupun masjid yang banyak tersebar di kota-kota Rusia.–MUHAMMAD ZAID WAHYUDI
————————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Oktober 2015, di halaman 26 dengan judul “Belajar di “Negeri Tirai Besi””.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: