Home / Berita / Astronomi / Beda Idul Adha Terjadi Lagi

Beda Idul Adha Terjadi Lagi

Idul Adha dirayakan setiap tanggal 10 Zulhijah, bulan ke-12 dalam sistem penanggalan hijriah. Tahun 1439 Hijriah atau 2018 ini, pemerintah Indonesia menetapkan Idul Adha pada Rabu (22/8/2018), sedangkan pemerintah Arab Saudi pada Selasa (21/8/2018).

Sebelumnya, perbedaan Idul Adha antara pemerintah Indonesia dan Arab Saudi itu terjadi beberapa kali. Perbedaan itu setidaknya terjadi pada 1411 Hijriah/1991 Masehi, 1417/1997, 1431/2010, dan 1435/2014. Semuanya, Idul Adha di Arab Saudi lebih dulu dibanding di Indonesia.

Namun Indonesia tidak sendiri. Negara-negara Asia, Australia, Inggris dan Afrika Selatan juga menetapkan Idul Adha pada hari yang sama dengan Indonesia, yaitu Rabu. Sedangkan negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara dan Turki seragam dengan Arab Saudi pada Selasa.

Asal mula
Posisi hilal yang berbeda dan belum seragamnya kriteria hilal yang digunakan di negara-negara berpenduduk Islam itu membuat perbedaan terjadi.

Kongjungsi, ijtimak atau kesegarisan Matahari-Bulan (moon) dan Bumi yang menandai fase bulan (month) baru dalam kalender hijriah untuk bulan Zulhijah 1439 terjadi pada Sabtu (11/8/2018) pukul 16.58 WIB. Akibatnya, saat Matahari terbenam hari itu di seluruh Indonesia kecuali Sumatera bagian utara, Bulan sudah lebih dulu terbenam dibanding Matahari.

Berdasar kriteria awal bulan hijriah yang digunakan di Indonesia, baik kriteria wujudul hilal (terbentuknya hilal), imkanur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) atau kriteria Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), posisi Bulan itu membuat durasi bulan Zulkaidah (bulan ke-11 kalender hijriah) digenapkan 30 hari.

Dengan demikian, 1 Zulhijah jatuh pada Senin (13/8/2018). Akibatnya, Idul Adha 10 Zulhijah berlangsung Rabu (22/8/2018). Ketetapan awal Zulhijah pemerintah itu sama dengan ketetapan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan Persatuan Islam.

Namun perlu diingat, sistem hari dalam kalender hijriah dimulai setelah Matahari terbenam, bukan tengah malam seperti kalender masehi. Karenanya, 10 Zulhijah sejatinya terjadi pada Selasa (21/8/2018) selepas Matahari terbenam hingga Rabu (22/8/2018) sebelum Matahari tenggelam. Cara menentukan hari dalam sistem penanggalan berdasar Bulan itulah membuat waktu Sabtu malam lebih dikenal sebagai malam Minggu di Indonesia.

Data perhitungan atau hisab penetapan awal Zulhijah itu diperkuat dengan tidak adanya kesaksian melihat hilal atau Bulan sabit tipis yang terlihat setelah Matahari terbenam pada Sabtu (11/8/2018). Hilal di Indonesia baru bisa diamati pada Minggu (12/8/2018).

Situasi berbeda terjadi di Arab Saudi. Pada Sabtu petang setelah konjungsi, posisi Bulan saat Matahari terbenam di Arab Saudi sudah lebih tinggi dibanding di Indonesia. Namun, tingginya masih kurang dari 2 derajat dan umur Bulan kurang dari 7 jam.

Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama yang juga Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menilai secara astronomis, hilal di Arab Saudi tidak mungkin bisa dilihat. “Cahaya hilal yang sangat tipis karena sangat dekat Matahari membuat cahaya hilal tidak mungkin mengalahkan cahaya senja,” katanya. Akibatnya, hilal tidak mungkin bisa dilihat.

Namun, ada laporan perukyat di Arab Saudi yang mengaku melihat hilal dan laporan itu diterima pemerintah setempat. Dengan kesaksian itu, maka 1 Zulhijah di Arab Saudi di tetapkan Minggu (12/8/2018) sehingga puncak ibadah haji atau wukuf di Arafah dilaksanakan pada Senin (20/8/2018) dan Idul Adha pada Selasa (21/8/2018).

“Secara syar’i (hukum agama), keputusan penetapan awal Zulhijah di Arab Saudi berdasarkan hasil rukyat mereka, sah. Namun secara astronomi, boleh dipermasalahkan,” katanya.

Laporan pengamat hilal yang tergabung dalam Proyek Pengamatan Hilal Global atau Islamic Crescent Observation Project (ICOP) di seluruh dunia juga tidak melaporkan teramatinya hilal pada Sabtu (11/8/2018) petang. Di berbagai negara, hilal baru teramati pada Minggu (12/8/2018).

Perbedaan itu menunjukkan belum satunya kriteria yang digunakan negara-negara berpenduduk Islam dalam penentuan awal bulan hijriah.

Sejumlah negara memang sudah menyusun kriteria global penentuan awal bulan hijriah seperti Kalender Hijirah Universal (Universal Hijri Calendar/UHC) usulan Persatuan Arab untuk Astronomi dan Ilmu Antariksa (Arab Union for Astronomy and Space Sciences/AUASS) dan Rekomendasi Jakarta 2017 yang diusulkan Indonesia. Namun, usulan itu belum diterima semua negara.

Indonesia sebenarnya memiliki kriteria MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura). Meski kriteria itu masih diperdebatkan secara astronomi dan belum semua ormas Islam menerimanya, namun setidaknya sudah diadopsi oleh keempat negara tersebut.

Wakil Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Hendro Setyanto mengatakan perlunya dibuat sistem kalender hijriah mandiri yang tidak terikat sistem penanggalan masehi.

“Terikatnya penanggalan hijriah dengan kalender masehi membuat waktu Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi kali ini terasa berbeda,” katanya. Padahal, sistem kalender hijriah sejatinya punya sistem berbeda dengan kalender masehi.

Sistem kalender hijriah mandiri itu sebaiknya memisahkan antara kalender untuk ibadah dengan administrasi sipil (muamalah). Itu untuk memberi kepastian dalam urusan administrasi sipil sehingga kalender hijriah bisa digunakan sama seperti kalender masehi.

Fungsi kalender itu, apakah hanya untuk ibadah atau muamalah perlu disepakati lebih dulu oleh komunitas atau negara-negara berpenduduk Islam jika ingin menyatukan kalender hijriah global. “Semangat yang harus didorong adalah penggunaan satu kalender hijriah, bukan semata satu kriteria awal bulan hijriah,” katanya.

Selama belum ada kesepakatan satu kalender hijriah global, umat Islam diharapkan mengikuti keputusan pemerintah. Hal ini yang masih sulit di Indonesia karena sejumlah ormas memiliki kriteria sendiri hingga acap kali justru menimbulkan kebingungan masyarakat.

Waktu ibadah
Dalam setiap perbedaan Idul Adha yang terjadi, sebagian masyarakat seringkali memilih mengikuti ketetapan pemerintah Arab Saudi. Alasannya beragam mulai karena waktu di Indonesia lebih dulu dibanding Arab Saudi atau khawatir puasa sunat Arafah yang dilaksanakan pada 9 Zulhijah di Indonesia menjadi haram karena di Arab Saudi sudah Idul Adha.

Pandangan itu muncul karena masih memakai kerangka sistem kalender masehi. Dalam penanggalan masehi, awal pergantian hari disepakati dimulai dari garis tanggal internasional yang terletak di 180 derajat bujur timur atau bujur barat. Karena secara geografis posisi Indonesia lebih timur, maka waktu di Indonesia lebih dulu 4-6 jam dibanding Arab Saudi.

“Padahal dengan syarat terlihatnya hilal, maka waktu di Indonesia dalam kalender hijriah bisa saja justru setelah Arab Saudi,” tambah Hendro.

Masyarakat juga diminta tidak khawatir puasa Arafah 9 Zulhijah yang dilakukan di Indonesia pada Selasa (21/8/2018) menjadi haram karena di Arab Saudi sudah masuk Idul Adha. “Waktu ibadah, baik sholat atau puasa, ditentukan secara lokal,” kata Thomas. Hari Arafah merujuk pada 9 Zulhijah, bukan mengacu pada waktu wukuf di Padang Arafah.-M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 18 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: