Home / Berita / Bayi Tabung; Seleksi Embrio dengan Penapisan Kromosom

Bayi Tabung; Seleksi Embrio dengan Penapisan Kromosom

Kegagalan program bayi tabung kebanyakan terjadi saat proses implantasi atau penanaman embrio pada rahim. Untuk mencegah kegagalan program itu, perlu penapisan kromosom embrio yang akan ditanam pada rahim.
Direktur Pengembangan Produk dan Teknologi PT BundaMedik Healthcare System Ivan R Sini mengatakan hal itu dalam konferensi pers tentang penapisan genetik sebelum implantasi (preimplantation genetic screening/PGS) di Rumah Sakit Bunda, Jakarta, Selasa (20/1).

Ivan mengatakan, sekitar 80 persen kegagalan implantasi embrio bayi tabung karena ada kelainan kromosom. Kelainan kromosom tersebut dapat disebabkan telur atau sperma yang tidak bagus.

”Mayoritas penyebab kelainan kromosom adalah sel telur tak normal (aneuploid). Sekitar 70 persen telur yang dihasilkan perempuan itu abnormal. Belum diketahui apa penyebabnya,” kata Ivan menjelaskan.

Oleh karena itu, penapisan kromosom embrio sebelum ditanamkan pada rahim perlu dilakukan agar mendapat embrio yang sehat. Embrio yang memiliki kelainan kromosom tidak akan ditanamkan pada rahim karena berisiko terjadi kegagalan atau keguguran.

”Jadi, kalau masih ada kehamilan kembar pada program bayi tabung, itu bukan keberhasilan. Kita ingin mendapat satu embrio sehat yang akan ditanamkan,” kata Ivan.

Selama ini, ada sejumlah metode pemilihan embrio yang bagus sebelum ditanamkan pada rahim. Salah satunya adalah melihat morfologi atau bentuknya. Namun, hal tersebut tak cukup.

Tingkat keberhasilan
Ketua Perkumpulan Fertilitas Invitro Indonesia Sugiharto Subianto mengatakan, tingkat keberhasilan program bayi tabung saat ini baru sekitar 45 persen. Padahal, teknologi bayi tabung kian maju dan biaya yang dikeluarkan pasangan suami istri untuk menjalani program bayi tabung cukup mahal.

Sebagian besar kegagalan bayi tabung terjadi pada proses implantasi. Menurut Sugiharto, selain kelainan telur, kegagalan implantasi bisa disebabkan kondisi sperma jelek atau jumlahnya kurang.

Direktur Pelaksana Ilmu Kesehatan Reproduksi (RHS) Australia Michelle Fraser menjelaskan, penapisan kromosom embrio bisa dengan metode penapisan genetik sebelum implantasi (PGS). Hal itu dilakukan dengan menggunakan teknologi hibridisasi perbandingan susunan genom (array-Comparative Genomic Hybridization/aCGH).

Teknologi aCGH mampu membandingkan salinan kromosom dengan sampel pembanding dalam waktu maksimal 24 jam. Kelebihan dan kekurangan dalam pasangan kromosom akan terdeteksi sebagai kelainan.

Dengan PGS, harapannya angka implantasi meningkat dan menurunkan angka keguguran karena hanya embrio sehat yang ditanamkan di rahim. Berdasarkan studi randomized control trial (RCT), penggunaan PGS bisa meningkatkan angka implantasi yang semula 42 persen menjadi 69-70 persen. ”PGS bisa meningkatkan angka implantasi hingga 50 persen,” ujar Fraser.

Sejauh ini, menurut Ivan, PGS hanya meningkatkan angka implantasi. Sejauh mana kemungkinan pertumbuhan embrio selama kehamilan dalam rahim dipengaruhi banyak faktor lain, antara lain, kondisi rahim dan endometriosis.

Ivan mengatakan, PGS terutama direkomendasikan bagi peserta program bayi tabung yang telah mengalami kegagalan berulang, keguguran berulang, ataupun bagi perempuan berusia di atas 35 tahun. (ADH)

Sumber: Kompas, 21 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: