Home / Artikel / Bangkitnya ”Unicorn”

Bangkitnya ”Unicorn”

Begitu mendarat di Jakarta, saya segera merasakan kehadiran raksasa-raksasa teknologi Indonesia. Papan iklan agen perjalanan daring (online) Traveloka menyapa para tamu yang mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Dalam perjalanan ke arah Jakarta, pengemudi taksi yang saya tumpangi membunyikan klakson kepada para pengemudi sepeda motor Go-Jek dan Grab yang meliuk-liuk di belantara lalu lintas Jakarta.

Banner toko-toko daring, seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee, berjejer di tepi-tepi jalan. Demam emas internet sedang terjadi di Jakarta dengan perusahaan-perusahaan rintisan (start up) meningkatkan modalnya jutaan dollar AS.

Sejak Presiden Joko Widodo mendorong rakyatnya untuk memanfaatkan teknologi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia dan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, banyak teknopreneur muda Indonesia yang telah menyambut panggilan ini.

Keputusan ini menggoyang banyak sektor dan mengubah dengan cepat kehidupan orang Indonesia kebanyakan. Contohnya, ketika bank terbesar di Indonesia memiliki 12.000 cabang di segala penjuru negeri, pendiri Payfazz, Hendra Kwik, telah mendirikan 100.000 bank mobile virtual hanya dalam waktu satu tahun terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

Ia mengunduhkan Payfazz di ponsel pintar pemilik toko di wilayah-wilayah itu. Sekarang setiap orang dapat datang ke toko- toko tersebut untuk membayar tagihan, belanja daring, atau bahkan menanam modal.

Perusahaan-perusahaan rintisan Indonesia kini juga berinovasi dan menciptakan model- model usaha baru. Misalnya perusahaan Go-Jek yang lebih dari duplikatnya Uber memiliki Go-Med, Go-Play, dan Go-Clean. Sementara itu, Traveloka sekarang mendapatkan keuntungan lebih banyak dari voucer belanja daripada pembelian tiket.

Kerja sama Indonesia-Singapura
Indonesia memiliki pasar besar dengan ekonomi digital yang terus meningkat. Sementara itu, Singapura memiliki selain ahli-ahli di bidang digital juga banyak perwakilan regional dari banyak perusahaan multinasional, semua ini adalah kekuatan tambahannya. Apabila kedua negara dapat bekerja sama, keduanya akan memperoleh keuntungan lebih besar daripada jika masing-masing berjalan sendiri-sendiri.

Jadi, bagaimana kita dapat bekerja sama? Pertama, kita mulai berhubungan dengan ekosistem start up di kedua negara. Kita sudah berhasil melakukannya di bawah naungan Global Innovation Alliance milik Badan Pengembangan Ekonomi Singapura (EDB). Tahun lalu katalisator ventura SGInnovate dan perusahaan Indonesia, Cocowork, bersama-sama membangun program percepatan yang kemudian dapat mendirikan 36 perusahaan rintisan Indonesia.

Selain itu, National University of Singapore (NUS) Enterprise bekerja sama dengan Salim Group mendirikan Block 71, inkubator rintisan milik Singapura yang berhasil di Jakarta. Block 71 adalah pintu gerbang bagi perusahaan-perusahaan rintisan di kedua negara untuk mendapatkan orang-orang yang ahli di bidangnya.

Selain itu, pada awal tahun ini, menteri luar negeri dari kedua negara meresmikan Nongsa Digital Park di Batam yang kini menjadi tempat bagi lebih dari 30 perusahaan. Kawasan ini berada di samping Infinite Studios yang berpusat dan mempekerjakan 400 orang Indonesia. Baik Infinite Studios maupun Nongsa Digital Park dibangun Citramas Group, perusahaan Indonesia yang dapat dukungan EDB.

Selanjutnya, kedua negara kini bekerja sama membantu warga Indonesia dan Singapura memperoleh keahlian yang sangat berguna. Contohnya, orang Singapura, Oswald Yeo, pendiri Glints, perusahaan rintisan yang menyediakan jasa teknologi dan penempatan sumber daya manusia, telah menempatkan 80 orang Indonesia yang ahli di bidang teknologi di Nongsa.

Untuk memenuhi kebutuhan yang besar ahli teknologi, Yeo juga telah menawarkan beasiswa untuk 150 anak muda Indonesia. EDB dan Temasek Foundation International juga bekerja sama dengan politeknik- politeknik Singapura memberikan pelatihan kepada para dosen dari Indonesia tentang literasi digital.

Di samping itu, kesempatan untuk bekerja di Indonesia memungkinkan orang Singapura untuk mempelajari keahlian-keahlian baru, mengingat skala dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Program ASEAN-ready Talent milik EDB menempatkan sarjana-sarjana Singapura untuk bekerja di perusahaan Indonesia. Mahasiswa politeknik-politeknik Singapura juga magang di perusahaan rintisan Indonesia.

Ketiga, kedua negara harus terus mendorong perusahaan-perusahaan rintisan masuk ke dalam setiap pasar. Hal ini dapat menciptakan lapangan kerja baik bagi orang Singapura maupun orang Indonesia. Banyak perusahaan rintisan Singapura, seperti 99.co, Grab, dan Glints, sekarang beroperasi di Indonesia, serta memberi pelatihan dan mempekerjakan orang Indonesia. Sama halnya unicorn Indonesia, Go-Jek dan Traveloka telah mendirikan kantor tech-nya di Singapura untuk memanfaatkan ahli-ahli teknologi dari Singapura yang beragam.

Masa depan kita terjalin rapat. Kalau kita tetap bekerja sama, kesempatan bagi kedua negara menjadi tidak terbatas.

Chng Kai Fong Managing Director Singapore Economic Development Board

Sumber: Kompas, 10 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: