Home / Artikel / Ayam dan Waktu di Jawa

Ayam dan Waktu di Jawa

Burung merak bertengger di bubungan baluwarti kraton atau cabang pohon di hutan. Ekornya berwarna-warni menyemarakkan pemandangan. Burung merak hadir di orkestra burung-burung pada pagi hari. Burung mulai kegirangan dan menari ketika mendengar guruh di kejauhan menyambut hujan serta mekarnya bunga-bunga. Burung lain yang turut dalam orkes pagi di hutan adalah ayam alas atau cigeger. (PJ Zoetmulder, 1974).

Penggambaran flora dan fauna dalam sastra Jawa kuno memang menakjubkan, menggambarkan dunia batin hingga realitas hidup sehari-hari masyarakat. Para penyair menemukan teks-teks yang mengikat dunia batin manusia dengan entitas hidup dan mati di sekitarnya. Hidup pun saling melengkapi.

Di Jawa, ayam menempati posisi istimewa. Di pedesaan, ayam dibiarkan berkeliaran mencari makan sendiri. Ayam memberi fungsi purba; penunjuk waktu. Saat ayam jago kluruk sepisan (berkokok sekali) itu menandakan pukul 3 pagi, kluruk ping pindho (berkokok dua kali) menunjukkan pukul 4, dan kluruk ping telu (berkokok tiga kali) menandakan pukul 5 pagi.

[media-credit id=1 align=”alignleft” width=”300″]ayam-berkokok[/media-credit]

Suara kokok ayam jantan seperti trompet komando bagi gerak kehidupan. Orang-orang mengambil air untuk beribadah. Ibu menyiapkan sarapan. Anak-anak berdandan sebelum berangkat sekolah. Ternak-ternak siuman. Aroma kopi kental dan singkong rebus merebak sebelum bau sawah bergulir di keringat petani.
Anehnya Amerika

Lain di Indonesia, kabar aneh datang dari Amerika Serikat. Seorang warga mengeluhkan bunyi kokok ayam jantan tetangga. Pemerintah Kota Oakland, California, AS, mengajukan sanksi denda bagi pemilik ayam, yaitu 100 dollar AS (setara dengan Rp 1,2 juta), jika para tetangga terganggu oleh kokok ayam (Koran Tempo, 20 September 2013).

Ketika suara satwa dianggap ”pidana”, apa yang sebenarnya terjadi? Alam tidak lagi dekat dengan manusia, kecuali memberi profit material. Manusia mengasingkan alam, bahkan mengkhianati fungsinya yang ribuan tahun membuat manusia mampu bertahan. Cilaka.

Padahal, di sini, kokok ayam yang merdu, bahkan mahal nilainya, adalah penanda alam yang memberi peringatan, pengetahuan. Anak-anak sering dinasihati agar tak kalah dengan ayam dengan segera bergegas bangun dan bekerja. Atau, rezeki akan ”dipatok ayam” jika kita bangun kesiangan. Oleh ayam kita diberi imperasi untuk bekerja, mengaktualisasi diri, dan mengembangkan potensi keilahian.

Ingat cerita rakyat Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso gagal menyelesaikan pembuatan seribu candi karena Roro Jonggrang mendatangkan pagi lebih awal lewat perempuan-perempuan yang menumbuk padi dengan lesung, jerami dibakar, dan ayam jantan terpaksa berkokok karena kaget. Bandung pun gagal. ”Waktu ayam” ternyata bisa difungsikan untuk mencegah seorang anak yang bernafsu mengawini ibu kandungnya.

Kehilangan ayam
Riwayat tradisi itu memberi hikmah. Sehebat apa pun seseorang, jika nafsunya melawan (hukum) alam, pasti akan gagal, bahkan hancur. Alam adalah kekuatan, petanda, simbol. Ayam menyadarkan manusia pada posisi kosmologisnya. Sebuah pengetahuan (local wisdom), yang dimiliki nenek moyang secara turun-menurun. Tapi, itu dulu. Sekarang?

Ayam masih ada. Namun, tidak bebas hidup sebagai carnivore yang bisa mencari dan melahap apa saja. Sekarang ayam banyak, tetapi di ribuan kandang besar. Tidak leluasa menentukan isi perutnya sendiri. Tubuhnya gembur diisi makanan yang dicatu, yang sebagian berisi pestisida.

Bukan saja ayam menjadi setengah bionik karena tubuhnya digemukkan secara teknologis-kimiawi, manusia yang menyantapnya turut menderita kerasukan racun itu. Lebih dari itu, kita kehilangan petanda alam yang mengingatkan hubungan ideal kita dengan alam, energi, dan kekuatan tertinggi yang dimilikinya. Semua yang menjadi dasar spiritualitas dan keyakinan religius.

Kita sudah kehilangan ayam. Diganti dengan ayam-ayam pajangan yang memenuhi meja makan, papan reklame, serta toko sepanjang pinggir jalan, menjadi pecel, ”kentuki”, komoditas yang memisahkan hakikatnya dari kebijaksanaan alam. Menjadi petanda baru, manusia modern adalah makhluk yang mengkhianati, menguasai, mengeksploitasi alam yang sepanjang sejarah manusia telah memberi bantuan tidak terhingga.

Setyaningsih Penulis Lepas; Pegiat di Bilik Literasi Solo

Sumber: Kompas, 21 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: