Home / Berita / Audit Energi; Kerja Sama Teknologi demi Efisiensi Pelni

Audit Energi; Kerja Sama Teknologi demi Efisiensi Pelni

Penghematan biaya operasional hingga Rp 140 miliar per tahun dapat dicapai PT Pelni melalui audit teknologi mesin yang dipakai. Langkah itu untuk efisiensi energi hingga menekan biaya operasional secara signifikan.

Audit teknologi dengan memasang alat pengukur kinerja mesin penggerak dan generator listrik di kapal. Dari sana akan diketahui kebocoran, keausan, dan kerusakan komponen.

”Efisiensi juga bisa dicapai dengan pengelolaan kapal yang ramah lingkungan, antara lain menggunakan bahan bakar nabati dan mendaur ulang air limbah cair di kapal,” kata Soni Solistia Wirawan, Kepala Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) seusai penandatanganan kerja sama antara PT Pelni dan BPPT dalam audit teknologi perkapalan di Jakarta, Kamis (10/4). Kerja sama berlangsung dua tahun.

Saat ini, BUMN bidang pelayaran tersebut mengeluarkan biaya bahan bakar hingga Rp 1,4 triliun per tahun atau 60 persen dari total biaya operasional perusahaan. Bahan bakar berupa minyak solar itu digunakan untuk 24 kapal penumpang berkapasitas 500 hingga 3.000 penumpang.

Pengalaman audit energi oleh BPPT pada gedung dan pabrik merekomendasikan perbaikan sistem operasi yang menghemat energi hingga 30 persen dari total konsumsi energi. Audit energi di kapal akan menghemat biaya minimal 10 persen.

Efisiensi juga dapat dicapai karena bahan bakar nabati (BBN) dan bahan aditif. Bahan bakar yang digunakan pada mesin diesel penggerak kapal adalah minyak sawit mentah (CPO) bekas yang diolah (bio-oil).

Oleh karena viskositas (tingkat kekentalan) bio-oil tergolong tinggi, sebelum dicampurkan perlu dipanaskan hingga mencapai suhu 60 derajat celsius.

”Penggunaan BBN pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Lampung menggantikan minyak solar hingga 50 persen,” kata Ardiaso, Kepala Pusat Teknologi Penerapan Sumber Daya Energi BPPT.

Demi pengelolaan energi yang efisien digunakan Sistem Informasi Monitoring Energi (SIME). Sistem itu diterapkan di Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) Serpong yang dijadikan model penerapan di industri lain.

Dari pembahasan lebih lanjut, PT Pelni juga membutuhkan teknologi penyediaan air bersih di kapal. Ini dapat diterapkan sistem proses desalinasi air laut menjadi air tawar. Teknik ini dapat dipasok BPPT.

Untuk kegiatan audit energi di kapal Pelni ini, lanjut Soni, B2TE-BPPT akan melibatkan personel dari unit kerja terkait, di antaranya UPT Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika (BPPH), Balai Termodinamika Motor dan Propulsi (BTMP), dan Pusat Audit Teknologi (PAT). (YUN)

Sumber: Kompas, 12 April 2014
——-
BPPT Audit Teknologi 24 Kapal Pelni

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan audit teknologi terhadap 24 kapal PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Audit tersebut diharapkan mampu memecahkan masalah penggunaan bahan bakar hingga 10 persen.

Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar mengatakan penandatanganan nota kerja sama (MoU) BPPT dan PT PELNI didasari adanya kebutuhan peningkatan efisiensi penggunaan bahan bakar yang digunakan untuk kapal-kapal PELNI.

“Kerja sama ini sudah dimulai sejak 3 April 2014, sejumlah staf BPPT ikut pelayaran kapal PELNI selama 14 hari untuk melakukan audit teknologi, karena diduga penggunaan energi kapal tidak efisien,” katanya di sela penandatangan MoU antara BPPT dengan PT PELNI di Gedung BPPT, Kamis (10/4).

Menurutnya biaya pembelian solar sebagai bahan bakar 24 kapal PELNI sebesar Rp 1,4 triliun per tahun untuk 214 juta liter solar per tahun. Diharapkan dari audit ini bisa meningkatkan efisiensi 10 persen atau setara dengan Rp 140 miliar.

Marzan menambahkan ketika nantinya efisiensi bahan bakar sudah dihasilkan maka harus diikuti modifikasi atau perbaikan kapal.

“Mestinya Indonesia punyaa banyak armada atau perusahaan seperti PELNI. Revitalisasi PELNI ini diharapkan menggugah dan mendorong industri maritim,” ujar Marzan.

Suara Pembaruan
Penulis: R-15/MUT
Sumber:Suara Pembaruan

Sumber: Beritasatu, Kamis, 10 April 2014 | 12:43
——————
BPPT Bantu PT PELNI Tingkatkan Efisiensi Penggunaan Bahan Bakar Kapal

BPPT tengah melakukan audit teknologi di 24 kapal milik PT Pelni (Persero). Audit itu dilakukan dalam rangka melakukan efisiensi terhadap penggunaan bahan bakar kapal dan diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada PT Pelni dalam melakukan upaya efisiensi penggunaan bahan bakar pada pengoperasian kapal-kapalnya.
Kepala BPPT Marzan A. Iskandar, mengatakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BPPT dan PT Pelni didasari adanya kebutuhan peningkatan efisiensi penggunaan bahan bakar yang digunakan untuk kapal-kapal milik PT Pelni.

“Untuk diketahui, biaya pembelian solar sebagai bahan bakar pada 24 kapal milik PT Pelni sebesar Rp 1,4 triliun per tahun untuk biaya 214 juta liter solar per tahun. Jika dari hasil audit teknologi bisa mengurangi penggunaan bahan bakar sampai 10 persen, maka PT Pelni akan menghemat biaya pembelian bahan bakar hingga Rp140 miliar,” kata Marzan, di acara Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BPPT dan PT Pelni, di Gedung BPPT, (10/4).

Kepala BPPT menuturkan, saat ini, sudah ada tujuh orang dari Balai Besar teknologi Energi (B2TE-BPPT) dan Balai Termodinamika Motor dan Propulsi (BTMP-BPPT) yang sudah mengaudit dengan ikut berlayar dengan kapal milik PT Pelni sejak tanggal 3 sampai 17 April 2014. Tujuannya agar tim memperoleh rekomendasi dari penggunaan bahan bakar yang tidak efisien.

“Kerjasama ini diawali untuk memberikan rekomendasi terhadap penggunaan bahan bakar kapal yang tidak efisien. Selanjutnya, akan ada banyak rekomendasi lagi yang diberikan kepada PT Pelni dalam rangka menciptakan efisiensi energi, seperti penggunaan bio oil untuk bahan bakar kapal dan pengelolaan air limbah domestik dan air laut untuk dijadikan sumber air bersih,” jelas Marzan.

Sementara, Direktur Utama PT Pelni Syahril Japarin, mengungkapkan rasa senangnya terhadap kerjasama dengan BPPT dalam melakukan audit teknologi di kapal-kapal PT Pelni. Diharapkan dari audit dapat diketahui cara melakukan penghematan bahan bakar.

“Dari audit ini kami berharap dapat menghemat sekitar 10-30 persen bahan bakar. Selain itu, dari hasil audit juga dapat dilakukan perbaikan-perbaikan yang nantinya bisa meningkatkan kinerja dari PT Pelni,” tutup Syahril. (tw/SYRA/Humas)

Sumber: bppt.go.id, 10 April 2014 16:11

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: