Home / Berita / Anggaran Riset; Bocor Listrik hingga Sebatas ”Bengong”

Anggaran Riset; Bocor Listrik hingga Sebatas ”Bengong”

Riset dan inovasi adalah tulang punggung kemajuan sebuah bangsa atau lembaga bisnis. Namun, hal itu lebih mudah diucapkan daripada diaplikasikan, khususnya di Inddnesia. Tujuh puIuh satu tahun merdeka, isu riset bangsa ini masih berkutat pada hal yang seharusnya tak lagi isu utama riset.

Pupus harapan Sulaeman Yusuf membenahi instalasi listrik di Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Itu karena kebijakan penghematan anggaran negara.

Kamis (15/9) siang, di gedung Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat, Sulaeman memulai kisahnya. Di sana berkumpul sejumlah peneliti invensi material unggul dari bahan hayati serta pengembangan proses produksi ramah lingkungan.

Sulaeman yang mengepalai pusat riset itu didampingi anggota staf teknologi informasi, Herry Samsi, masuk ke ruangan berukuran 2 meter x 2 meter. Itu ruang panel listrik, sistem penyokong segala kegiatan, termasuk riset.

Salah satu sisi langit-langit terbuka tanpa panel plafon. Kabel-kabel semrawut, terhubung ke kotak panel listrik di bawahnya. Herry mengarahkan jarinya nyaris menempel ke kabel terkelupas atau ”telanjang”.

”Asap beberapa kali keluar dari situ,” kata Sulaeman. Setiap kali itu terjadi, staf langsung memutus sambungan listrik dengan mematikan miniature Circuit breaker. Biasanya, asap keluar saat staf dan peneliti mengaktlfkan banyak alat.

img_20160919_132332wInstalasi listrik memprihatinkan itu menelan korban, salah satunya peneliti mikrobiologi, Deni Zulfiana, tahun 2013. Saat itu, perempuan peneliti itu sedang bekerja di wahana riset (clean bench) meneliti mikroba. Aktivitas itu melibatkan api dan alkohol untuk mensterilkan peralatan meneliti. Tak disangka, listrik ”bocor”. Tiba-tiba, alkohol terciprat ke api dan api itu menyambar tangan Deni, yang menyebabkan luka bakar serius dari telapak tangan hingga siku.

”Satu bulan lebih saya tidak masuk kantor,” kata Deni.

Tiga tahun lewat, instalasi listrik belum juga beres Anggaran pusat riset itu dipotong menyusul penghematan APBN 2016.

Itu pukulan baru. Sebab anggaran lembaga-lembaga riset sebelum dipotong pun sudah kecil. Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, misalnya, mengelola Rp 14 miliar yang mayoritas untuk gaji dan operasional. Dari jumlah itu, Rp 2 miliar untuk riset.

Pembiayaan penelitian, kata Sulaeman, bisa disiasati lewat kerja sama pihak luar. Namun, untuk operasional seperti perbaikan instalasi listrik, pihak luar tak mau membantu.

Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTRR Batan) tidak ketinggalan terdampak pemotongan anggaran. Saat mengunjungi pusat teknologi itu di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Tehologi, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, gerah menyergap begitu memasuki ruang rapat PTRR. Pengondisi udara tak diaktifkan.

”Ini salah satu dampak pemotongan anggaran,” kata Kepala Bidang Teknologi Radiofarmaka Rohadi Awaludin sambil tersenyum. Bagi peneliti bidang nuklir, kenyamanan ruang di bawah prioritas keselamatan dan keamanan fasilitas riset.

”Keselamatan dan keamanan fasilitas nuklir tak bisa diganggu gugat,” kata Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto.

Riset penting
Misi PTRR Batan antara lain menguasai dan mengembangkan teknologi produksi radioisotop dan radiofarmaka. Produknya termasuk radiofarmaka untuk diagnosis dan –dalam pengembangan– terapi penyakit. Pemangkasan anggaran tahun ini juga berdampak pada penundaan riset produk terapi penyakit.

Rohadi menuturkan, empat tahun ini pihaknya mengembangkan produk radiofarmaka untuk pengobatan kanker payudara. Konsepnya, radioimunnoterapi: perpaduan terapi sinar radiasi dan terapi meningkatkan reaksi kekebalan tubuh untuk membunuh sel kanker.

Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2010, kanker payudara tergolong jenis kanker tertinggi pada pasien rawat inap dan rawat jalan di semua RS di Indonesia. Jumlah pasiennya 12.014 orang (28,7 persen), di atas jumlah pasien kanker leher rahim (5.349 orang atau 12,8 persen). Riset Kesehatan Dasar 2013 Kementerian Kesehatan menunjukkan ada 61.682 kasus kanker payudara di Tanah Air.

Imunoterapi pembunuh sel kanker payudara sudah populer. Terapi menggunakan produk mengandung Trastuzumab, antibodi terhadap antigen kanker payudara. Dengan konsep radio imunoterapi, peneliti menumpangkan radioisotop ke Trastuzumab sehingga daya hancurnya bertambah.

Sayangnya, proses riset terhenti karena pemotongan anggaran. Direncanakan, tahun ini uji klinik fase I untuk mengetahui keamanan Trastuzumab jika digunakan pada manusia. PTRR Batan manganggarkan Rp 600 juta. ”Awalnya dianggarkam di tengah jalan ada pemotongan anggaran. Ya tidak jadi,”ujar Rohadi.

Di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, sejumlah program ditunda, seperti pembangunan roket sonda untuk penelitian atmosfer dan keantariksaan bersama Badan Administrasi Antariksa Tiongkok yang ditandatangani di depan Presiden Joko Widodo dan Presiden Tiongkok Xi Jinping tahun 2015.

Di tengah anggaran cekak, pemerintah menyatakan potensi pendanaan non-APBN masih besar. Masalahnya, seperti dikatakan Kepala Pusat Inovasi LIPI Nurul Taufiqurrahman, prosedurnya rumit. ”Kami bengong. Minta ke negara tidak ada uang, cari dari luar dipersulit,” kata peneliti teknologi nano itu.

Oleh J GALUH BIMAN TARA

Sumber: Kompas, 19 September 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: