Home / Berita / Andalan Produk Berbasis Teknologi

Andalan Produk Berbasis Teknologi

Di ruang konferensi yang mirip kelas kuliah, pucuk pimpinan tertinggi Monsanto, Brett Begemann, turun langsung menjawab pertanyaan 25 wartawan dari berbagai negara. Mereka mengikuti acara global media, suatu hal yang pada masa lalu sulit terjadi karena perusahaan agroindustri ini cukup tertutup.
Sebagai salah satu perusahaan terbesar dunia yang bergerak di bidang pertanian, Monsanto bisa dibilang sering mengundang kontroversi. Protes berdatangan terhadap upaya pengumpulan benih sampai ke produk transgenik.

Vandana Shiva, aktivis yang pernah menjadi Direktur Research Foundation for Science, Technology and Natural Policy, di India, termasuk yang paling kritis. ”Melalui paten, produsen benih membuat petani tak bisa lagi menyimpan benih. Mereka jadi bergantung pada korporasi, mulai dari benih, pupuk, sampai pestisida,” tulis Shiva di Huff Post World (28 April 2009).

Berbagai gugatan itu kembali muncul dalam diskusi yang berlangsung akhir Agustus lalu di kantor pusat Monsanto di St Louis, Missouri, Amerika Serikat. Bedanya, kali ini jawaban diberikan langsung oleh Begemann sebagai presiden dan CEO serta pimpinan Monsanto lainnya.

Dari masa ke masa
Didirikan oleh John F Queeny tahun 1901, produk awal perusahaan ini sebenarnya adalah pemanis sakarin. Tahun 1945 barulah produk agrokimia dibuat dan dipasarkan. Herbisida Roundup yang identik dengan Monsanto mulai dipasarkan tahun 1976. Perusahaan ini baru bergerak di bidang benih setelah mengakuisisi suatu produsen benih kedelai pada 1982.

Mulai membangun laboratorium biologi sel tahun 1975, Monsanto akhirnya mencanangkan bioteknologi sebagai fokus riset strategis tahun 1981. Selang 15 tahun kemudian, 1996, perusahaan ini meluncurkan benih transgenik: kedelai Roundup Ready dan kapas Bollgard. Tahun 1997, jagung transgenik mulai dipasarkan, juga kanola dan kapas transgenik baru.

Namun, upaya pemasaran produk secara cepat, masif, dan massal memicu banyak masalah di lapangan. Tumbuhan jenis milkweed yang tumbuh di sekitar ladang jagung transgenik Bt tercemar serbuk sari jagung meski masih di bawah ambang batas toksisitas terhadap larva kupu-kupu monarch.

Di India, pemerintah dalam hal ini Departemen Bioteknologi-nya menyatakan, penggunaan insektisida menurun dan produk kapas meningkat. Namun, kasus bunuh diri petani di kawasan yang menanam kapas transgenik meningkat. Meski tidak ada bukti yang terkait langsung, masalah ini banyak disorot aktivis dan media massa.

Di Indonesia, pertanaman kapas transgenik di Bulukumba, Sulawesi Selatan, diawali dengan perbedaan kebijakan menteri lingkungan dan pertanian. Tanaman komersial transgenik ini kemudian berakhir tragis ketika para petani yang marah membakar tanaman kapasnya gara-gara hasil panen yang jauh dari harapan.

Tentu banyak kisah sukses juga di belahan lain. Petani AS sebagai pengguna benih transgenik terbesar dunia menikmati hasil panen jagung dan kedelai berlimpah, termasuk yang kemudian diekspor ke Indonesia. Demikian pula halnya dengan para petani di Amerika Latin seperti Argentina dan Brasil, juga petani di Kanada, Filipina, India, dan China.

Dampak ekonomi sosial
Penguasaan korporasi juga berdampak terhadap ekonomi dan sosial petani. Penguasaan benih yang semula common property—di mana petani menjadi pemilik benih yang bisa disimpan dan ditanam berulang kali—menjadi milik hanya beberapa perusahaan multinasional.

Menurut Begemann, Monsanto tidak pernah berniat merugikan petani. ”Benih-benih yang kami pasarkan umumnya adalah hibrida sehingga tidak mudah bagi petani untuk menyiapkan sendiri,” katanya.

Benih hibrida adalah benih turunan pertama (F1) yang memiliki heterosis. Inilah fenomena genetika yang membuat F1 tampil lebih baik dibandingkan dengan galur tetuanya. Heterosis hanya muncul pada F1, tidak pada generasi selanjutnya.

Benih transgenik juga dikembangkan dengan basis hibrida. Namun, di sisi lain, justru sifat hibrida inilah yang mendongkrak produktivitas tanaman transgenik. Gen yang disisipkan lebih berfungsi menekan biaya produksi karena tahan tekanan lingkungan seperti gulma, hama, maupun kekeringan.

”Kami ingin bekerja berdampingan dengan petani dan membantu mereka menyediakan kebutuhan pangan dunia,” kata Begemann.

Monsanto yang memilih fokus mengembangkan benih, menggunakan pemuliaan, bioteknologi, dan perbaikan praktik budidaya pertanian, mengeluarkan dana 1,5 miliar dollar AS untuk riset dan pengembangan pada tahun 2012 saja.

Hasilnya adalah berbagai jenis benih hibrida ataupun transgenik seperti jagung, kedelai, kapas, kanola, alfalfa, bit gula, gandum, tomat, lada, mentimun, bawang bombai, melon, brokoli, dan letus. Saat ini Monsanto memiliki lebih dari 3.900 teknologi aktif yang terkait kerja sama dengan berbagai institusi di seluruh dunia.

Meski beberapa produknya masih terganjal izin, seperti di Uni Eropa, Indonesia, Pakistan, dan Vietnam, Monsanto yang berupaya mengubah citra buruk masa lalu menekankan bahwa pihaknya taat dan mengikuti semua proses perizinan resmi.

”Kami hanya mengimbau agar peraturannya berbasis ilmiah,” kata Juan Ferreira, Vice President Monsanto untuk Pemasaran Global, Pengembangan Teknologi, dan Bisnis Perlindungan Tanaman.

Oleh karena itu, menanggapi izin yang belum juga keluar dari Uni Eropa hingga lebih dari 10 tahun, Mike Frank sebagai Vice President untuk Bisnis Tanaman Pangan dan Sayuran Global memilih menarik semua produk transgenik dari Uni Eropa dan memusatkan pemasaran benih hibrida di kawasan itu.

Di Indonesia, Monsanto juga lebih mengembangkan benih hibrida jagung dengan areal tanam terbesar di Jawa Timur, selain di Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Lampung. Bahkan, untuk penyediaan benihnya, perusahaan ini sudah bekerja sama dengan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ketahanan pangan
Dalam kondisi serba impor seperti sekarang: tujuh komoditas pangan pokok diimpor dan itu belum termasuk gandum, garam, gula, dan produk hortikultura, Pemerintah Indonesia memang perlu digugat kesungguhannya untuk menjamin ketahanan pangan bangsa.

Seakan tak belajar dari kasus tahun lalu ketika harga kedelai membubung, pemerintah hari-hari ini kembali limbung ditekan pengusaha tahu dan tempe untuk menyediakan kedelai dengan harga murah.

Padahal, berbagai lembaga penelitian, termasuk IPB, memiliki banyak varietas kedelai yang sudah teruji di lapangan. Namun, upaya penggunaan yang lebih luas sering terganjal sikap pemerintah yang lebih memilih impor dengan berbagai alasan. Inilah ironi negeri agraris: bukannya membantu petani agar berdaulat dengan membenahi produksi pangan, pemerintah ternyata lebih suka mengambil jalan pintas.

Untuk Indonesia, tampaknya memang tidak perlu buru-buru bicara transgenik. Pemberdayaan petani dan kedaulatan pangan adalah pekerjaan rumah yang jauh lebih penting untuk segera diselesaikan. Sekarang.

Oleh: Agnes Aristiarini

Sumber: Kompas, 13 September 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: