Home / Artikel / Ambisi Nuklir India

Ambisi Nuklir India

DEWASA ini dunia diributkan oleh pengangkutan plutonium dari kilang pendauran ulang Le Hague di Perancis ke Jepang, dengan kapal Akatsuki Maru. Jepang yang miskin sumber daya energi, tetapi kaya dana dan unggul dalam sumber daya nara, bertekad untuk meneken kontrak Faust. Sebagai Faust, Jepang bersedia menjual jiwanya kepada Maphistopheles, berjanji untuk tunduk kepada tuntutan disiplin sangat ketat yang melekat pada teknologi nuklir dengan pembakar katalitik yang kompleks dan mengandung risiko biaya besar itu. Sebagai imbalannya, ia memperoleh energi dengan efisiensi penggunaan bahan bakar yang tinggi.

Sebenarnya yang mendambakan kelimpahan energi dengan menggunakan teknologi nuklir di Asia bukan hanya Jepang. Sudah lama India pun menginginkannya, sebab sumber daya energi lain yang dimilikinya tidak cukup untuk mencapai proyeksi konsumsi energinya, yakni 32 MWj per kapita per tahun. Karena itu, dan karena India melihat ketidak-adilan perjanjian nonproliferasi nuklir yang hanya menguntungkan negara-negara Kelab Nuklir, ia menolak menandatanganinya. Barangkali kekhawatiran terhadap Pakistan ikut membulatkan tekad India itu.

Reaktor air berat
Karena sadar bahwa penolakannya untuk menandatangani perjanjian nonproliferasi nuklir akan mengundang embarg nuklir dari negara-negara maju pemilik teknologi nuklir, India memilih pengembangan reaktor air berat. Reaktor jenis ini dapat dioperasikan dengan Uranium-238 sebagai bahan bakarnya, sehingga tidak memerlukan kilang pemerkayaan. Reaktor air ringan menggunakan Uranium-235 sebagai bahan bakar, dan karena kadar U-235 itu dalam uranium alam sangat rendah, harus ditingkatkan dulu dengan proses pemerkayaan.

India mempunyai tambang uranium, tetapi cadangannya tidak terlalu besar. Uranium mutu rendah yang dimilikinya hanya cukup untuk mendukung program nuklir sebesar 500 MWe saja, selama masa guna reaktor-reaktornya.

Reaktor pembiak
Untuk mengatasi keterbatasan bahan bakar nuklir itu, India membiakkan bahan bakar nuklir. Peledakan bom atomnya yang pertama ada tahun 1974 membuktikan bahwa India telah menguasai teknologi pembiakan dan pendauran-ulang bahan bakar bekas. Tetapi sukses dalam memproduksi Plutonium-239 itu agaknya bukan tujuan akhirnya. Soalnya, bahan bakar subur (fertile) untuk membiakkan Pu-239 itu adalah U-238, dan cadangan yang dimilikinya tidak seberapa. Jadi pembiakan plutonium hanya merupakan batu loncatan. Pembiakan itu reaksinya begini:

Inti U-238 menangkap neutron lalu menjadi inti majemuk yang tidak mantap dan terteral (excited). Dengan umur-paruh (half-life) 23 menit, U-239 itu mereras (decays) dengan melepaskan zarah beta, sehingga ia berubah menjadi Np-239. Inti ini pun masih radioaktif dengan umur-paruh 2,3 sekon. Inti anang (daughter nucleus) yang diturunkannya dengan memancarkan zarah beta ialah Pu-239. Dan Pu-239 itulah yang merupakan bahan bakar terbelahkan (fissile) untuk menjalankan reaktor. India bahkan telah memakai plutonium hasil pembiakannya itu untuk membuat bom atom, yang dicobanya di gurun Rajasthan.

Thorium dan Uranium-233
Di antara isotop-isotop uranium, yang terbelahkan (fissionable) praktis pada sebarang tenaga neutron pengimbas adalah U-235 dan U-233. Seperti Pu-239, U-233 juga dapat dibiakkan. Bahan bakar subur untuk membiakkannya bukan U-238, melainkan Thorium-232. Reaksinya begini:


Inti Th-232 menangkap neutron, lalu menjadi inti majemuk yang terteral dan aktif beta (beta-active) dengan umur-paruh 22 menit. Pererasannya menghasilkan Pa-233 sebagai inti anangnya, dan pererasan beta berikutnya menghasilkan inti cucu (second daughter nucleus) U-233. India mempunyai cadangan thorium yang amat besar.

Strategi nuklir India
Secara kasaran strategi pengembangan teknologi nuklir India, menurut K.T. Thomas, terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama adalah penguasaan teknologi reaktor air berat dengan bahan bakar uranium alam. Pada akhir tahap ini telah diperoleh sejumlah plutonium sebagai “hasil samping”nya. Tahap kedua adalah pengembangan-lanjut teknologi reaktor air berat, reaktor termal maju (advanced thermal reactors), dan pembangunan reaktor pembiak cepat (fast breeder reactors).

Beda antara reaktor termal dan reaktor cepat ialah bahwa dalam reaktor termal pembelahan diimbaskan oleh neutron lambat atau neutron termal yang tenaganya hanya sekitar 0.025 eV atau pokoknya tak lebih dari 5 eV. Neutron semacam itu lambat sebab kecepatannya hanya 2,2 km/s.

Dari ketiga jenis reaktor itu, yakni reaktor air berat, reaktor termal maju dan reaktor pembiak cepat, diperoleh plutonium, sedang dari reaktor yang ketiga juga diperoleh Uranium-233. Plutonium-239 dan Uranium-233 itulah modal dasar untuk memasuki tahap yang ketiga. Dalam tahap ini, tidak lagi dioperasikan reaktor air berat biasa. Reaktor jenis kedua dan ketiga makin diperbanyak jumlahnya, dan dibangun pula reaktor pembiaka U-233 yang dibahan-bakari dengan bahan subur Th-232.

Konsekuensi
Kalau Jepang membangun gudang Pu-239 dan India membangun gudang U-233, atas keputusan demokratis mayoritas rakyatnya, barangkali itu memang hak mereka. Kalau mereka lengah dan gagal memenuhi kewajibannya dalam kontrak Faust, lalu menerima akibat kebengisan Mephistopheles, yah… itu juga risiko mereka. Tetapi kedua negara Asia itu tidak hidup sendiri di dunia yang hanya satu ini. Ulahnya pastilah membawa risiko bagi tetangga-tetangganya.

Risiko itu pada dasarnya hanya dua macam. Pertama, risiko musibah yang akan menyebarkan pencemaran nuklir dalam jangka waktu yang bukan alang-kepalang panjangnya. Cara penyimpanan limbah nuklir aras tinggi yang sungguh-sungguh aman untuk jangka ratusan ribu tahun sampai sekarang belum ditemukan. Apalagi kalau seperti Jepang, yang mengangkut plutoniumnya dari Perancis dan mungkin nanti juga dari Inggris, dan mengirim limbah bahan bakar bekasnya ke sana. Negara-negara yang dilewati ikut menanggung risiko.

Risiko yang kedua ialah kemungkinan bangkitnya kembali militerisme di Jepang, Korea, Mancuria, Myanmar, Indonesia dan… yah hampir semua bangsa di Asia-Pasifik pernah merasakan bengisnya militer Jepang. Apalagi kalau ia sekarang sudah sedemlkian canggihnya dalam teknologi militer!

Beberapa negara, termasuk India, sudah sejak dulu sinis terhadap kemampuan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk bertindak sebagai polisi keamanan nuklir. Perlakuan badan itu dan negara-negara Kelab Nukljr juga ”pilih kasih”. Kalau Israel yang mengembangkan teknologi nuklir di Negev, mereka tutup mata. Tetapi kalau Irak yan mencoba-coba, tanpa ampun dihantam. Jepang dibiarkan saja menimbun plutonium, tetapi bolehkah Pakistan melakukan hal yang sama, seandainya ia cukup kaya untuk membeli plutonium itu dari BNFL di Sellafield, misalnya?

Seandainya pun IAEA bukan macan kertas terhadap ngara-negara maju, masih ada pula pertanyaan yang mengganggu. Kalau badan itu penjaganya, lalu siapa yang menjaga si penjaga itu?. Quis custodiet ipsos custodes?

Dr Liek Wilardjo, fisikawan staf pengajar Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Sumber: Kompas, Jum’at, 18 Desembet 1992

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: