Home / Berita / Alam Memberi Petunjuk Ada Ketidakharmonisan

Alam Memberi Petunjuk Ada Ketidakharmonisan

 

Tahun 1998 menjadi tahun yang sulit bagi Indonesia. Bukan hanya dari sektor keuangan Indonesia mengalami gejolak luar biasa sehingga mengakibatkan guncangan pada stabilitas politik dan berujung pada bergantian kepemimpinan nasional. Dari ketahanan pangan, Indonesia juga mengalami tantangan berat.

Tahun 1997-1998 menjadi salah satu kejadian El Nino paling parah dalam sejarah bumi. Fenomena iklim dalam kondisi terparah itu menyebabkan curah hujan berkurang drastis, mengakibatkan kebakaran lahan dan hutan, serta mengganggu produksi pangan, terutama beras, secara nasional.

Bagi yang percaya, alam seperti memberi tanda untuk bersiap menghadapi keadaan buruk. Dari sisi rasional, El Nino adalah fenomena iklim yang berulang tiap 5-7 tahun sehingga seharusnya Indonesia sebagai negara yang mengandalkan pertanian sudah siap menghadapi peristiwa tersebut.

KOMPAS–Judul koran ”Belalang Serang Lima Propinsi” yang terbit di Kompas pada 4 Mei 1998 menjelang peristiwa Reformasi yang berujung pada pergantian perubahan kepemimpinan nasional. Bagi yang percaya, alam seperti memberi tanda untuk bersiap menghadapi keadaan buruk. Dari sisi rasional, El Nino adalah fenomena iklim yang berulang tiap 5-7 tahun.

Serangan belalang kembara adalah salah satu tanda terjadi ketidakseimbangan di alam. Sebelum serangan belalang memuncak, alam sudah memberi tanda-tanda awal. Pada 7 Mei 1998, harian ini mewartakan, 1.715 hektar tanaman padi sawah di Lampung terendam banjir dan hampir 100 hektar tanaman jagung terserang hama belalang dan ulat. Serangan belalang kemudian terus meningkat dan mencapai puncaknya ketika menyerang tanaman pangan di lima provinsi.

KOMPAS/MUHAMMAD SYAIFULLAH–Hama belalang kembara (Locosta migratoria) di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, menyerang areal pertanian pada tahun 1998, yang luasnya lebih dari 5.000 hektar. Serangan hama ini melanda lima kecamatan, yakni Sangkurilang, Sangatta, Muara Bengkal, Muara Wahan, dan Muara Ancalong. Tampak kawanan belalang memenuhi jalanan di Desa Kaubun, Kecamatan Sangkurilang.

Terdapat hubungan antara kekeringan dan serangan belalang. Belalang berkembang biak dalam suasana tersedia cukup hijauan sebagai makanan. Musim hujan yang terjadi pada akhir 1997 hingga awal 1998 memberi cukup makanan bagi belalang tanpa harus menyerbu tanaman pangan.

Ketika cuaca semakin mengering dan sumber makanan berkurang adalah hal alamiah bila kemudian belalang mencari makanan ke area yang masih tersedia hijauan. Padi yang masih menghijau dan mulai mengeluarkan bulir menjadi sasaran empuk. Begitu juga jagung.

–Harian Kompas memilih berita utama di halaman pertama ”Belalang Serang Lima Propinsi” pada terbitan 4 Mei 1998. Hama belalang tersebut menyerang tanaman pangan, padi dan jagung. Lima provinsi tersebut adalah Bengkulu (padi 44 hektar), Sumatera Selatan (padi 77 hektar), Lampung (padi 2.589 hektar dan jagung 1.238 hektar), Sulawesi Selatan (padi 338 hektar dan jagung 106 hektar), serta Kalimantan Tengah 25 hektar tanaman padi.

Meski demikian, kekeringan panjang tidak serta-merta meningkatkan populasi belalang. Seperti terjadi di Amerika Serikat, musim kering yang panjang menyebabkan belalang menjadi cepat mati karena kekurangan makanan. Populasi belalang juga berkurang karena tidak sempat bertelur. Kuncinya, ada keharmonisan dan keseimbangan alam.

Impor beras jutaan ton
Kekeringan serta krisis moneter dan keuangan yang berawal pada tahun 1997 itu menyebabkan produksi pangan turun, begitu pula daya beli masyarakat. Rupiah yang terdepresiasi hingga empat kali lipat, inflasi mencapai 80 persen, serta rontoknya jalur distribusi membuat harga pangan melonjak.

KOMPAS/AR BUDIDARMA–El Nino memberi efek yang menakutkan seperti yang terjadi pada 1997/1998. Musim kemarau berkepanjangan dan kering membuat sawah di Blora, Jawa Tengah, merekah pada Agustus dan September 1997.

Beras kualitas medium mencapai harga Rp 3.400-an per kilogram, sementara pada awal 1998 beras kualitas baik masih di kisaran Rp 1.250 hingga Rp 1.500-an (Kompas, 2/1/998). Rawan pangan meluas karena kekeringan menyebabkan tanaman pangan gagal dipanen.

Dalam catatan Kompas (14/12/1999), Indonesia mengimpor 5,9 juta ton beras, antara lain, dari Jepang dan China, pada 1998, jumlah tertinggi yang pernah dilakukan. Impor tersebut dilakukan Bulog dan swasta. Pemerintah membebaskan bea masuk impor hingga nol persen demi menurunkan harga beras yang menjadi mahal karena nilai tukar rupiah terhadap dollar AS turun drastis.

Saat itu, impor beras dilakukan melalui tender terbuka, peserta tender tidak dibatasi dan melalui tender untuk membentuk harga yang kompetitif. Pada awal tahun 1999, jumlah beras impor turun. Pemerintah melalui Bulog mengimpor 1,45 juta ton beras, sementara swasta 2 juta ton.

Pada akhir tahun 1999, pemerintahan baru di bawah Presiden Abdurrahman Wahid kembali mengatur impor beras dengan mengenakan tarif impor beras. Pengenaan tarif impor yang direncanakan sebesar 30-40 persen dimaksudkan agar harga di dalam negeri tetap dapat dijangkau masyarakat banyak, sekaligus masih cukup memberi rangsangan petani berproduksi.

KOMPAS/EDDY HASBY–Operasi pasar bahan kebutuhan pokok beras yang dilakukan Bulog di Pasar Blok A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (9/2/1998), diminati para ibu rumah tangga. Kekeringan serta krisis moneter dan keuangan yang berawal pada 1997 itu menyebabkan produksi pangan turun, begitu pula daya beli masyarakat. Rupiah yang terdepresiasi hingga empat kali lipat, inflasi mencapai 80 persen, serta rontoknya jalur distribusi membuat harga pangan melonjak.

Dana Moneter Internasional (IMF), yang saat krisis keuangan tahun 1998 menjadi lembaga keuangan yang diminta Pemerintah Indonesia membantu mengatasi krisis, setuju tidak ikut campur tangan mengatur bea masuk impor beras. Ini menjadi satu-satunya komoditas di bawah Bulog yang masih boleh dilindungi pemerintah melalui mekanisme bea impor.

Tampak pemerintah berhasil meyakinkan IMF bahwa beras adalah komoditas penting bagi sebagian besar rakyat Indonesia, baik dari sisi petani sebagai produsen maupun penduduk kota dan desa sebagai konsumen.

Kini, 20 tahun setelah Reformasi, beras masih menjadi makanan utama lebih separuh penduduk Indonesia meskipun kenaikan kemakmuran menyebabkan masyarakat mengonsumsi beragam kualitas beras. Harganya menentukan inflasi dan keterjangkauannya oleh masyarakat menjadi ukuran rasa aman dan tenteram karena perut terisi.–NINUK MARDIANA PAMBUDY

Sumber: Kompas, 3 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: