Home / Berita / Aktivisme Tagar” Jagat Media Sosial

Aktivisme Tagar” Jagat Media Sosial

Tampilan narsis di #DandanSenin dengan kata-kata penyemangat menyambut hari Senin.

Penduduk dunia dari ”republik” media sosial sudah pasti akrab dengan tanda pagar alias tagar atau ”hashtag”. Simbol ”#” ini kian populer untuk kepentingan bermacam aktivisme publik. Baik aktivisme yang serius maupun yang remeh-temeh. Mulai dari isu global, urusan negara, sampai urusan dandan.

Tagar di media sosial berfungsi mengumpulkan atau mengorganisasi suatu topik atau konten tertentu yang terbahas di media sosial. Tagar yang dipopulerkan oleh Twitter kini juga diadopsi oleh berbagai format jejaring media sosial lainnya. Mulai dari Facebook, Google+, Instagram, Pinterest, Orkut, Path, Vine, Tout, Sina Weibo, dan lain-lain.

Suatu kata atau kalimat tanpa spasi yang diimbuhi tagar (#) di depannya, yang juga tanpa spasi, disebut sebagai tagar atau hashtag itu sendiri. Misalnya, #telemaya, #KompasMinggu, dan sebagainya.

Dengan cara ini, kita bisa menyimak berbagai celotehan dari berbagai akun yang membahas satu topik yang sama. Jika ingin bergabung dalam pembahasan yang sama, kita tinggal mengunggah konten dengan menyertakan nama tagar yang sama. Semakin banyak suatu tagar digunakan di Twitter, tagar tersebut akan masuk dalam daftar trending topic atau pembahasan terhangat.

Seperti diulas dalam situs digitalinformationworld.com dan nytimes.com, hashtag pertama kali diusulkan oleh Chris Messina, seorang open web advocate yang pernah bekerja di Google. Dari penelusuran di Twitter, Chris melalui akunnya,
@chrismessina, mengirim kicauan (tweet) di Twitter pada 24 Agustus 2007 yang mengusulkan penggunaan tanda ”pound” (#). Isi kicauannya: ”how do you feel about using # (pound) for groups. As in #barcamp [msg]?”

Situs adweek.com mencatat, dua hari setelah kicauan Chris, yakni pada 26 Agustus 2007, terminologi ”hashtag” diperkenalkan oleh Stowe Boyd, yang menyebut diri sebagai web anthropologist. Ia memperkenalkan istilah ”hash tag” melalui tulisannya yang diunggah di blog-nya, ”Hash Tag = Twitter Grouping”.

Kicauan Chris yang ditindaklanjuti oleh Stowe tersebut sebenarnya juga terinspirasi pada fasilitas cakap-cakap (chatting) IRC (Internet Relay Chat), seperti mIRC. IRC yang populer pada tahun 1990-an menggunakan simbol ”#” untuk mengategorikan gambar, video, dan konten lainnya dalam grup-grup tertentu sehingga mudah ditelusuri. Sejak Juli 2009, Twitter resmi mengadopsi fungsi hashtag dan pada tahun 2010 diperkenalkan trending topic.
Riuh di Indonesia

TH_hashtag politics_handsDalam perkembangannya, penggunaan tagar kian digandrungi untuk mengampanyekan atau menggerakkan suatu hal menjadi isu yang populer. Media sosial dengan fungsi tagarnya ini lantas menjadi perangkat krusial dalam aneka bentuk aktivisme publik, di arena global, juga di kalangan netizen Indonesia.

Salah satu pesohor sekaligus ”aktivis” media sosial Pandji Pragiwaksono mengingat, Twitter mulai hangat digunakan di kalangan netizen Indonesia sekitar tahun 2008-2009.

Penggunaan tagar sebagai bentuk aktivisme sosial yang sempat meluas ketika itu adalah #IndonesiaUnite, yang muncul setelah serangan bom di Hotel Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta, 17 Juli 2009. Seperti diungkapkan Pandji, yang turut memopulerkan tagar tersebut, #IndonesiaUnite yang dimulai oleh akun @ifahmi bermaksud untuk menunjukkan kepada dunia bahwa wajah sesungguhnya dari Indonesia tidaklah penuh dengan kekerasan.

Direktur Change.org, kampanye petisi perubahan sosial, Usman Hamid juga mengingat, netizen Indonesia terbilang sangat responsif terhadap aneka tagar yang memuat aktivisme publik. Salah satunya adalah tagar #MenolakLupa, yang semula ditujukan sebagai pengingat terhadap kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir. ”Cerita awalnya itu tagar kampanye orang hilang pada Agustus 2012. Kemudian dikembangkan untuk mendukung tagar #aksikamisan dan berkembang untuk ke kasus Munir,” kenang Usman.

Tagar #MenolakLupa kemudian aktif kembali 2014 lalu untuk mengenang 10 tahun pembunuhan Munir. Dari tagar ini, berkembang menjadi aksi nyata berupa unjuk rasa, termasuk di Australia oleh para mahasiswa Indonesia. Menurut Usman, aktivisme tagar sejauh ini cukup efektif.

”Efektif sekali dalam mencerahkan pemahaman publik pada isu yang berhubungan dengan kepentingan mereka serta mewadahi dukungan partisipasi publik. Ekspresi dukungan dalam aktivisme tagar tak mensyaratkan aksi nyata, tetapi bisa sekadar berbagi kepedulian. Dengan platform digital, siapa saja bisa ikut menunjukkan minimal sebuah versi dari realitas yang besar,” kata Usman.

Bagi Pandji, karakter orang Indonesia yang senang berkumpul dan kopi darat memberi peluang lebih besar menarik aktivisme tagar ke wilayah offline. Saat kasus kriminalisasi terhadap KPK mengemuka pada tahun 2009, tagar #saveKPK cukup efektif memecah kesadaran publik dan memberi ”amunisi” pada media massa arus utama untuk mengawal isu tersebut.

Tagar terhangat #TarikBudi juga baru-baru ini menghiasi linimasa (timeline) media sosial. Tagar ini terkait penolakan publik terhadap keputusan Presiden Joko Widodo memilih Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri.

Bentuk aktivisme tagar juga tak melulu menyangkut isu-isu serba serius, tetapi bahkan bisa menyentuh persoalan gaya hidup atau remeh-temeh sehari-hari. Tagar seputar gaya hidup sehat yang cukup terkelola lama misalnya #indonesiamakansayur, yang dibuat Sophie Navita, cukup populer di Instagram.

Butuh penyemangat setiap menghadapi hari Senin? Kita bisa bergabung dengan tagar #DandanSenin. Seperti diungkapkan pembuatnya, Adi S Noegroho alias Seseq, #DandanSenin sekadar menyemangati kaum pekerja untuk menghadapi hari Senin setelah usai berakhir pekan.

Tagar ini boleh dibilang mengemas kesenangan orang untuk selfie, memotret diri sendiri dan memamerkan di media sosial, dengan tema tertentu. Senin menjadi tema karena, menurut Seseq, orang cenderung membenci hari Senin setelah nyaman berakhir pekan. ”Karena harus masuk kerja lagi,” ujar Seseq.

Tagar #DandanSenin pertama kali diunggahnya di Path, berupa foto dirinya dilengkapi sedikit celotehan iseng dan penyematan tagar #DandanSenin. Sejak pertama kali mengunggah fotonya pada 16 September 2013, sudah lebih dari 400 postingan serupa dari teman-temannya yang terikut ”aktivisme” ini.

Jadi, sudah siap dengan dandanan Senin besok?

Oleh: Sarie Febriane

Sumber: Kompas, 18 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: