Home / Berita / Adu Cepat Kearifan Lokal dan Kerusakan Perairan

Adu Cepat Kearifan Lokal dan Kerusakan Perairan

Matahari di Desa Bungaiya, Kecamatan Bontomatene, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, baru meninggi pada Rabu (25/10) tatkala Patta (65) meniti jalinan kayu-kayu katonde atau bitti. Sekilas, struktur itu mirip anak panah atau pohon cemara.

Struktur itu merupakan alat tangkap ikan statis bernama sero atau bila dalam bahasa setempat serta nama lain seperti kelong (Kalimantan) dan belat (Jambi).

Panjang serosekitar 100 meter yang menjorok ke arah laut. Struktur dari ribuan tiang kayu dengan tinggi 3 meter dari paras laut itu berdiri di atas ”lahan” milik Patajali (55) yang disewa sebesar Rp 1 juta per tahun.

FOTO-FOTO: KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Deretan sero atau bila di Desa Bungaiya, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/10). Sero merupakan alat tangkap/perangkap ikan tradisional yang memanfaatkan pasang-surut air laut (atas). Sekelompok besar hiu jenis black tip (Carcharhinus melanopterus) terlihat di perairan Pulau Tinabo, Taman Nasional Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Senin (23/10). Taman Nasional Takabonerate juga dikenal sebagai karang atol terbesar ketiga di dunia.

Perlahan, Patta turun ke bagian ujung sero tempat pengambilan ikan yang terperangkap karena pasang surut air laut. Sebuah tombakan persis mengenai seekor sotong (Sepiidae sp) yang langsung menggelepar tatkala diletakkan di atas landasan bagian atas sero. Pagi itu, ikan baronang, katamba, cendro, dan cepak turut terperangkap sero.

KOMPAS/INGKI RINALDI–Anak-anak hiu jenis “black tip” (Carcharhinus limbatus) tampak dalam perairan Pulau Tinabo, Taman Nasional Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Senin (23/10). Taman Nasional Takabonerate juga dikenal sebagai karang atol terbesar ketiga di dunia.

Sepuluh tahun Patta mengusahakan sero dengan modal Rp 15 juta. Sebelumnya, selama 20 tahun, ia mencari teripang dan mutiara dengan menyelam memakai kompresor serupa dengan yang dipakai tukang tambal ban. Kedalaman 50 meter tak jarang ditembusnya tanpa mengindahkan keselamatan jiwa.

Risiko besar, ditambah anaknya sudah jadi polisi dan pegawai negeri sipil, membuat Patta beralih pada sero. Sekitar 100 batang kelapa ditanamnya di Desa Tanete, tak jauh dari Bungaiya. Pada musim barat (Desember-Maret), saat cuaca buruk dan tak banyak nelayan turun ke laut atau di sero,
penghasilan Rp 30 juta bisa diperolehnya.

Namun, itu bisa disebut tinggal ”sisa” masa kejayaan. Dahaasi (64), pemilik lahan dua dari total 64 unit sero di Desa Bungaiya, mengatakan, ikan dalam sero tak habis dipanen dalam tiga hari saking banyaknya. Itu sebelum bius dan bom ikan merajalela sekitar 1980-1990.

Dahaasi, yang mewarisi kepemilikan sero, bisa membiayai kuliah dua anaknya di Selayar dan seorang lagi di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kini setelah anak-anaknya dewasa, ia menyewakan lahan untuk sero.

Unsur konservasi
Ali Yansyah Abdurrahim, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan, sero berperan penting terkait konservasi terumbu karang. Di antara dua sero selebar 40 depa atau 72 meter harus steril dari aktivitas apa pun. Ruang ini jadi semacam bank ikan yang menjamin pasokan dalamsero. Di sisi lain, ada pula kritik, sero bisa merusak karena dipancang dekat dengan karang.

Ini terkonfirmasi saat penyelaman di antara dua titik sero di Desa Bungaiya, Selasa (24/10). Dengan jarak pandang hanya 5 meter masih tampak sejumlah spesies karang dengan kerumunan beberapa jenis ikan.

Kondisi ini membuat nelayan dari desa lain mengincar perairan batas di antara dua struktur sero dalam Desa Bungaiya. Konflik ini berujung kesepakatan antara nelayan Desa Bungaiya dan Desa Barat Lambongan pada 28 Oktober 2016 di Kecamatan Bontomatene.

Kesepakatan itu mendasari terbitnya Surat Edaran Bupati Selayar No 410/75/II/2017/Diskaper tentang Pengelolaan Ruang Laut, Penempatan Alat Penangkapan Ikan (API) Sero, API Pancing, API Panah, dan API Bantu Senter. Desa Bungaiya kini membuat rancangan peraturan desa tentang pengelolaan wilayah pesisir berbasis kearifan lokal untuk melanjutkan Perdes Bungaiya 2010 tentang Daerah Perlindungan Laut (DPL).

Aturan serupa dimiliki Pemerintah Desa Parak, masih di Kepulauan Selayar. Ini sebagai kelanjutan Perda Kabupaten Kepulauan Selayar Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Terumbu Karang. Inisiatif itu menapaki jalur terjal menyusul pemberlakuan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang memangkas kewenangan pemerintah kabupaten atas lautnya.

Praktik konservasi
”Selayar sudah lama kenal konservasi, tetapi tidak dibahasakan,” kata Andi Penrang, tokoh konservasi di Selayar yang juga Kepala Tata Usaha Balai Benih Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar.

Selain sero, ada pula ongko, yakni daerah tangkapan ikan rahasia bagi setiap kelompok nelayan. Kelompok itu biasanya beranggotakan lima orang dan beroperasi dengan perahu joloro.

Kini ongko cenderung hilang. Penyebabnya, jelas Andi, yang pada 2005 aktif dalam program Coremap (Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang) dan kini terlibat dalam CCRES (Proyek Memanfaatkan Jasa Terumbu Karang dan Ekosistem Terkait), maraknya pembiusan ikan pada 1980-an.

Namun, menurut Ali, itu karena penyeragaman pemerintah pusat lewat UU No 5/1979 tentang Pemerintahan Desa yang mengubah struktur dan nomenklatur pemerintahan desa dan menghilangkan pula pranata adat, seperti ongko.

Belakangan ongko diakomodasi dalam DPL, menjadikannya sebagai gabungan sejumlah ongko. Gabungan beberapa DPL disebut KKPD (Kawasan Konservasi Perairan Daerah). Sebagian praktik terkait ongko direvitalisasi. Misalnya, kuliner ilasa yang menggunakan ikan dari ongko diperkenalkan ulang bagi warga setempat dan tamu.

Ilasa, kuliner unik khas setempat ini menggunakan air laut mentah sebagai bahan masakan. Konsekuensi positifnya, warga menjaga perairan agar tak tercemar sampah dan kotoran.

Meski Selayar memiliki modalitas kearifan lokal yang kaya, kecenderungan kerusakan terumbu karang masih berlangsung. Ini tecermin dari data Monitoring Kondisi Terumbu Karang dan Ekosistem Terkait di Kabupaten Kepulauan Selayar oleh LIPI, Universitas Hasanuddin, dan Coremap CTI.

Hasil studi 2016 yang dibandingkan dengan tahun 2015 dari titik pengamatan di Kota Selayar, Desa Bungaiya, Desa Bonelohe, Desa Panaikang, Pulau Guang, Pulau Jampea, dan Pulau Tambolongan. Kondisi terumbu karang ”buruk” hingga ”sedang” dengan rentang tutupan karang hidup 16,01-46,87 persen. Penurunan kuantitas tutupan karang hidup juga terjadi selama 2015-2016 dari 29,76 persen jadi 29,46 persen dengan peningkatan komponen karang mati dari 27,33 persen jadi 39,20 persen.

Kondisi dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate cenderung sama. Fahmi Achmad, petugas Balai Taman Nasional Takabonerate menyebutkan, pengeboman ikan masih terus dilakukan hingga saat ini secara sembunyi-sembunyi.

Hanya sebagian bekasnya, berupa patahan karang mati yang tampak saat Kompas menyelam di perairan Pulau Tinabo. Namun, upaya konservasi, antara lain dengan transplantasi terumbu karang dan upaya menggandeng warga sebagai mitra konservasi, tetap dilakukan.

Sebagian hasilnya tampak dari puluhan anak-anak ikan hiu sirip hitam atau blacktip reef shark (Carcharhinus melanopterus) yang segera berdatangan di perairan pinggiran pantai Tinabo Besar, segera umpan diberikan saat air pasang. Kehadiran puluhan hiu memberi indikasi positif serta harapan perbaikan bagi masa depan laut Selayar.(Mohamad Final Daeng/Mohammad Hilmi Faiq/Ingki Rinaldi)

Sumber: Kompas, 20 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: