Home / Berita / Astronomi / 50 tahun Pendaratan di Bulan, Seyogianya Juga Menggugah Anak Negeri

50 tahun Pendaratan di Bulan, Seyogianya Juga Menggugah Anak Negeri

Ex Luna Scientia (Dari Bulan, Pengetahuan) – Motto yang dipasang pada perca yang dipasang untuk misi Apollo 13.

Setelah Eagle (wahana Bulan) mendarat di kawasan Laut Ketenangan (Mare Tranquillitatis), 20 Juli 1969 (waktu Amerika Serikat), lalu astronot Neil Armstrong menjejakkan kaki di permukaan Bulan.

Neil Armstrong mengucapkan, ”Ini langkah kecil bagi manusia, tetapi lompatan raksasa bagi umat manusia.” Berubahlah hubungan antara manusia dan Bulan, satu-satunya satelit alam Bumi.

Sebelumnya, Bulan lebih banyak menjadi inspirasi. Komposer menciptakan gubahan indah, seperti Claude Debussy dengan ”Clair de Lune”, Ludwig van Beethoven dengan ”Moonlight Sonata”, dan Ismail Marzuki dengan ”Chandra Buana”. Sebagian warga Nusantara menyambut gerhana bulan dengan menafsirkan Sang Chandra tengah ditelan oleh Batara Kala dan perlu menabuh kentongan untuk memaksa memuntahkan Bulan yang tengah purnama lagi.

Semenjak program pendaratan di Bulan yang digaungkan Presiden John F Kennedy dalam pidatonya di depan Kongres, 25 Mei 1961, Bulan menjadi sumber dan inspirasi pengetahuan. Melalui misi Apollo, yang berakhir pada Desember 1972, AS melaksanakan program angkasa ambisius.

Kepala Penerbangan Ruang Angkasa NASA Abe Silverstein adalah orang pertama yang menggunakan kata ”Apollo” untuk pesawat yang menyusul program angkasa sebelumnya, Mercury (Air & Space Smithsonian). Sebelum itu, 104 tahun sebelum Apollo 11, pengarang Perancis, Jules Verne, memaparkan perjalanan ke Bulan memakai kapal roket melalui karya imajinatifnya, ”Dari Bumi ke Bulan” (Reader’s Digest, Juli 2019).

Material yang dibawa astronot dari Bulan lebih banyak, berupa batuan, berjumlah sekitar 383 kilogram. Tak kalah utama dari program Apollo adalah sains dan teknologi yang diperoleh dan terakumulasi. Mekanika benda langit yang mempelajari orbit benda langit tentu menjadi modal dasar. Namun, yang menjadi kisah menonjol adalah bagaimana AS bekerja membuat roket superkuat Saturnus V yang tingginya 111 meter, nyaris menyamai Monumen Nasional (Monas).

Di sini riwayat ditelusuri dari pemikiran para pionir roket terkemuka dunia, yakni Konstantin Tsiolkovsky, Herman Oberth, dan Robert Goddard, hingga Bapak Roket Saturnus V, yakni ahli roket Nazi Jerman, Wernher von Braun, yang memboyong tim roketnya ke AS pasca-Perang Dunia II (National Geographic, Juli 2019).

Yang diperoleh tak hanya ilmu perancangan roket raksasa, tetapi juga teknik pengisian bahan bakar kriogenik, yang selain harus diisikan ke tangki dengan laju 32.176 liter per menit, suhu harus dijaga sangat dingin, minus 145 derajat celsius untuk oksigen dan minus 217 derajat celsius untuk hidrogen (Reader’s Digest, Juli 2019). Tanpa teknologi peroketan canggih, mustahil manusia mewujudkan impian yang sudah hidup berabad-abad (Outer Space Exploration, John Hogsdon, Ed, 2018).

Yang tidak kalah penting adalah juga bagaimana Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) melahirkan sosok-sosok manusia prima yang lalu menjadi astronot-astronot terpilih. Tiga astronot Apollo 11, yakni Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins, merupakan di antara sosok pilihan yang dikenal sebagai bagian dari klub elite The Right Stuff, yang umumnya merupakan pilot jet tempur beperforma tinggi.

Kemudian hari, dari program Apollo mengalir hasil samping (spin-off) yang kini mewarnai peradaban. Oleh karena itu, manusia memenuhi tantangan untuk mengeksplorasi alam semesta, melalui program seperti Apollo, lahirlah teknologi seperti telepon seluler, sel surya, dan sebagainya (Pesan Lego, National Geographic, Juli 2019).

Tujuan selanjutnya
Program Apollo melibatkan sekitar 400.000 orang di berbagai sisi dan menelan biaya (pada waktu itu) 29 miliar dollar AS (RD, Juli 2019). Kini, 50 tahun kemudian, muncul pertanyaan, ke mana selanjutnya?

Mengingat biayanya, boleh jadi bangsa maju, seperti AS, mendapati kendala. Namun, mendiami Bulan, pada sisi lain juga dianggap penting, khususnya terkait dengan strategisnya kolonisasi angkasa sebagai perluasan lebensraum (ruang hidup), mengingat Bumi semakin lama semakin kurang layak huni.

Belum lagi jika diperhitungkan persaingan di antara kuasa besar pada masa depan yang akan menggunakan arena angkasa. Apalagi jika diperhitungkan kemungkinan adanya pertambangan (seperti emas). Perihal sumber daya antariksa ini, antara lain, disinggung oleh George Sowers dari Colorado School of Mines (Air&Space).

Sesudah Apollo, dalam kurun waktu setengah abad terakhir, negara-negara maju sudah menghuni stasiun ruang angkasa, khususnya ISS, yang masih terus berfungsi hingga saat ini, juga mengirim wahana robot ke planet Mars dan Jupiter, bahkan ke obyek tata surya jauh, seperti Pluto.

Gaung riset dan pengembangan antariksa boleh jadi tak sekuat seperti pada akhir 1950-an atau awal 1960-an, ketika AS—pada era Perang Dingin—didahului Uni Soviet dengan keberhasilan peluncuran satelit buatan pertama Sputnik Oktober 1957 dan pengorbitan manusia pertama Yuri Gagarin April 1961—dipacu untuk mengejar kemajuan Uni Soviet.

Momentum strategis seperti Perang Dingin kini dikaburkan oleh perang dagang di Bumi. Namun, dengan bangkitnya China sebagai kekuatan angkasa, juga India, maka kuasa lama seperti AS dan Rusia tentunya tak akan berpangku tangan.

Di AS, satu fenomena yang mencolok dalam satu-dua dekade terakhir adalah menguatnya swasta dalam investasi ruang angkasa. Dewasa ini ada sosok seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan sebelumnya ada Richard Branson yang mengembangkan Virgin Galactic. Kisah Musk dan Bezos dikaitkan dengan upaya mengoloni kosmos (The Space Barons, C Davenport, 2018).

Refleksi 50 tahun pendaratan di Bulan sudah sepantasnya juga mencakup bagaimana posisi Indonesia dalam kancah eksplorasi antariksa. Masih terbelit dalam kendala kemampuan negara, RI dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) masih belum bisa berbuat banyak. Program peroketan yang pada era kepemimpinan terdahulu sempat tampak bersemangat, kini nyaris tak terdengar.

Pada sisi lain, sebagai negara dengan rentang geografi besar, Indonesia juga harus memberikan perhatian besar terhadap penerbangan dan antariksa, baik untuk pemantauan cuaca maupun sumber daya alam. Momentum semakin sulit di bidang peroketan karena sejak 1987 kuasa besar, terutama AS, menerapkan rezim pengawasan teknologi misil (MTCR).

Indonesia masih memuja Bulan dalam lagu, tetapi jika ada pemimpin visioner, romantisisme Bulan tak seyogianya berhenti di lagu, tetapi harus menginspirasi orang muda untuk kembali menghidupkan minat terhadap kedirgantaraan, penerbangan dan peroketan, serta astronomi. Momentum 50 tahun pendaratan Bulan jangan berlalu tanpa menggugah jiwa penerbangan dan antariksa bangsa Indonesia.–NINOK LEKSONO

Sumber: Kompas, 20 Juli 2019

Share
x

Check Also

Ancaman Karhutla di bawah Bayang-bayang Korona

Sebulan lagi, sebagian wilayah Indonesia memasuki kemarau, termasuk di daerah-daerah yang langganan kebakaran hutan dan ...

%d blogger menyukai ini: