Home / Tokoh / Sudiyanto; Mengalirkan Mata Air, Membendung Air Mata

Sudiyanto; Mengalirkan Mata Air, Membendung Air Mata

Melihat dari dekat sumber air yang melimpah tanpa bisa memanfaatkannya selama puluhan tahun sungguh menyesakkan warga Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, di perbukitan lereng selatan Gunung Slamet. Berbekal sejumput ilmu hasil membaca buku usang di perpustakaan desa, Sudiyanto (47) tergerak mengalirkan air yang menjadi dambaan warga desa dengan teknologi sederhana warisan Belanda.

Menyusuri dusun yang berjarak sekitar 15 kilometer arah timur laut kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (20/6) pagi, riuh gemercik air sayup terdengar di antara kicauan burung hutan. Selusinan bocah asyik bermain di sekitar empang ikan gurami yang dialiri air limpasan dari sebuah bak penampungan di puncak bukit.

”Belasan tahun lalu, bukit ini tandus. Burung-burung enggan hinggap. Jangankan empang ikan, untuk tanam cabai saja tak bisa, enggak ada air,” kata Yanto, sapaannya.

Warga harus bercucur peluh demi mendapatkan air sekadar untuk minum dan memasak. Padahal, Kotayasa bukan daerah tandus. Wilayah ini justru dilimpahi air sepanjang tahun dari tiga mata air dan dilintasi Sungai Lumarap, anak Sungai Pelus.

Masalahnya, permukiman warga terletak di atas bukit, sedangkan sumber air di lembah. Setiap subuh dan menjelang maghrib, anak-anak hingga orang lanjut usia berduyun-duyun membawa jeriken untuk mengangkut air dari tiga mata air di sekitar sungai yang jaraknya sekitar 1 kilometer.

Kesulitan air bersih membuat kondisi sanitasi dan fasilitas mandi-cuci- kakus (MCK) di Dusun Glempang, tempat Yanto bermukim, buruk. Daerah ini pernah menjadi salah satu wilayah endemik diare di Banyumas.

”Saya ngenes (terharu). Saya menangis kalau ingat perjuangan mereka demi air,” ucap Yanto, mengenang kondisi desanya puluhan tahun silam.
Menyiasati

Namun, pria lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Purwokerto itu tak menyerah menghadapi keadaan. Dia meyakini hukum gravitasi, bahwa air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah bisa disiasati.

Suatu hari pada 1997, Yanto yang saat itu bergabung di karang taruna setempat tak sengaja membaca buku usang berjudul Pompa Air Tenaga Air di perpustakaan desa. Dari buku itu, dia peroleh ilmu tentang teknologi hydraulic ram atau hidram.

Referensi itu membahas teknologi pompa buatan yang mampu memompa air ke atas, memanfaatkan energi air itu sendiri. Yanto sempat jeri karena di buku itu tertulis bahwa pompa hanya mampu menaikkan air setinggi 7 meter.

Padahal, dia membutuhkan air minimal naik setinggi 300 meter dari sumber air ke permukiman warga. Tertantang teori itu, Yanto nekat membuat pompa hidram pertamanya. Sebagai modal awal, dia meminjam uang dari saudaranya Rp 7,5 juta. ”Sebagai jaminan, jika alat yang saya buat tak berhasil, hak atas waris milik saya dia ambil.”

Komentar bernada sinis dan sumbang banyak dia terima. Riset Yanto pun berkali-kali gagal. Walau sudah dimodifikasi di sana-sini, hasil percobaan awalnya hanya mampu menaikkan air hingga 18 meter. Sampai suatu saat pompa yang dibuatnya bocor, tetapi justru membawa berkah.

Rupanya, lubang bocor itu mempercepat gerak katup pemasukan dan pembuangan air. ”Gara-gara bocor itu, air justru menyembur lebih besar dan kuat. Akhirnya, sekalian saya lubangi pompa dengan paku. Hasilnya, pompa mampu menyedot sumber air sampai ke rumah yang jaraknya 315 meter,” kata Yanto bersemangat.

Tak kenal menyerah dan terus mencoba, pada 2001 pompa hidram pertamanya berhasil mengalirkan air ke rumah keluarga dan kerabatnya.

Prinsip hidram, kata Yanto, sederhana. Seperti membuat dua lubang pada kaleng susu. Satu lubang untuk aliran udara yang memperlancar keluarnya susu di lubang lain.

SosokAir dari sumber mata air dialirkan ke drum penampungan yang berada 5 meter di atas permukaan tanah. Dari bak tersebut, air digelontorkan dengan kemiringan tertentu ke pompa hidram melalui pipa.

Pompa hidram lalu mengempaskan air ke tempat penampungan air yang berada di perkampungan penduduk paling atas. Air kemudian dibagi dengan pipa kecil menuju rumah warga.

Alat ini memanfaatkan prinsip kerja efek palu air yang ditimbulkan kerja katup limbah untuk menghasilkan tekanan. Saat fluida mengalir dalam tabung pipa dihentikan secara mendadak, terjadi perubahan momentum massa. Ini yang membuat tekanan meningkat dan memberi tenaga untuk mengangkat air ke titik lebih tinggi.

Dengan merekayasa bentuk dan letak katup limbah serta dimensi tabung hampa, pompa hidram yang tak butuh tenaga listrik ini mengangkat air hingga ketinggian vertikal 50-100 meter dan panjang pipa mencapai 2.000 meter.
Berbagi

Pada 2005, seorang kerabat Yanto mendaftarkan teknologi hidram ke lomba yang diinisiasi lembaga swadaya masyarakat di Jakarta. Tak dinyana, penghargaan utama diraihnya dengan hadiah Rp 150 juta yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Yanto menggunakan hadiah itu untuk kepentingan warga desa. Dia merasa perjuangannya belum tuntas karena belum semua warga merasakan kemudahan mendapatkan air. Uang hadiah itu dia jadikan modal membangun pompa hidram berikut instalasinya. Dana selebihnya dia gunakan untuk pembebasan lahan, termasuk dua kawasan mata air.

Kini Kotayasa punya empat pompa hidram dengan dua bak penampung air bersih di sebelah selatan dan utara desa. Air itu mencukupi kebutuhan setidaknya 576 keluarga atau sekitar 2.300 jiwa.

Untuk mengelolanya, warga membentuk Paguyuban Masyarakat Pendamba Air Bersih (PMPAB). Tiap keluarga dipungut iuran Rp 5.000 per bulan untuk biaya perawatan dan kebersihan instalasi pipa.

Warga Kotayasa lalu menapaki kehidupan yang lebih sejahtera dengan membuat empang atau kolam ikan bersama di atas bukit. Mereka memanfaatkan limpasan air dari bak penampungan hasil pompa hidram.

”Warga berencana mencetak sawah baru di atas bukit. Nantinya sawah ini dialiri air hasil bendungan air sungai yang dilontarkan ke atas dengan pompa hidram,” kata Yanto.

Dia pun menerima pesanan membuat pompa hidram di sejumlah daerah, seperti Ngawi, Klaten, Bogor, dan Bandung, hingga Nusa Tenggara Timur. Dia juga membagi pengetahuannya kepada pemerintahan daerah yang menghadapi persoalan kesulitan air seperti Kotayasa.

Satu hal yang belum tercapai terkait pematenan hak cipta atas karyanya itu. ”Saya sudah mendaftar ke Litbang Bappeda Banyumas sejak 2009, tetapi belum ada jawaban. Pompa ini mau saya namai Hysu, dari kata Hydram dan Sudiyanto.”

Banyak warga di daerah perbukitan telah menikmati teknologi hidram sederhana hasil kreasi pria asal Banyumas ini. Mata air yang dialirkan Sudiyanto tak sekadar membendung air mata warga yang mendamba, tetapi juga memberi hidup yang lebih layak.
—————————————————————————
Sudiyanto
? Lahir: Banyumas, Jawa Tengah, 11 Januari 1967
? Pendidikan: Madrasah Aliyah Negeri  2 Purwokerto
? Istri: Suharti (40)
? Anak:
– Dika Driyaningtyas (25)
–  Dwiangga Dani Irawan (23)
– Nurinda Shinta Mutiara (14)
– Nurfindi Bela Pratiwi (11)
– Mohamad Fatwa Nurhamid (11)
– Mohamad Faridj Abdillah (6)
? Penghargaan:
– Indonesia Daya Masyarakat, 2005
– Indonesia Berprestasi Award dari PT XL Axiata Tbk, 2008
– Gatra Kencana dari majalah ”Gatra”, 2010
– Anugerah Iptek Labdhakretya dari  Kementerian Riset dan Teknologi, 2013

Oleh: Gregorius Magnus Finesso

Sumber: Kompas, 28 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: