Home / Artikel / Sindrom Stockholm ala Indonesia

Sindrom Stockholm ala Indonesia

Kalau Anda masih menyimak televisi hingga hari ini, mungkin masih sedikit menyimak berita mengenai Eyang Subur yang fenomenal beserta istrinya yang berjumlah delapan orang. Istri-istrinya juga beberapa kali sampai tampil di acara talk show, mereka semua terlihat rukun dan bahagia-bahagia saja bersuamikan seorang pria berusia 70 tahun itu.Anda mungkin juga sudah bosan dengan beragam pemberitaan, terutama acara infotainment. Berita terakhir mengatakan, istri ketujuh Eyang Subur, Ani, tidak mau diceraikan. Ini merupakan drama yang sulit diterima akal sehat. Tapi tenang saja, di sini kita tidak akan membahas tentang Eyang Subur dan istri-istrinya. Karena yang akan kita bahas adalah sindromnya. Sindrom yang bisa dialami siapa saja, termasuk para istri Eyang Subur.

Kisah para istri Eyang Subur yang merasa nyaman dan bahagia dengan keadaan mereka, merupakan contoh nyata Stockholm syndrom. Stockholm syndrom sebenarnya merupakan kondisi atau fenomena psikologis, ketika seorang sandera mengekpresikan empati dan simpati, serta memiliki perasaan positif terhadap penculik mereka. Terkadang sampai pada titik membela atau ikut membantu mereka (dalam hal kejahatan/ kriminal).

Menurut kamus medis daring (www.medical-dictionary.thefreedictionary.com),  stockholm syndrome memang mengacu pada kelompok gejala psikologis yang terjadi pada beberapa orang dalam situasi penyekapan atau penyanderaan. Nama Stockholm sendiri diciptakan psikiater sekaligus kriminolog Nils Bejerot. Berdasarkan kejadian perampokan bank di kota Stockholm, Swedia, pada 23 – 28 Agustus 1973. Beberapa karyawan bank, yang menjadi korban/ tawanan dan disandera dalam lemari besi, secara emosional menjadi dekat dengan para penculik mereka, dan menolak meminta bantuan. Bahkan setelah para korban ini dibebaskan, mereka memeluk para penyanderanya.

Sebaliknya, penculik yang mengembangkan rasa simpati kepada sanderanya, merupakan sindrom Lima. Nama Lima muncul akibat kejadian penculikan di kedutaan besar Jepang di Lima, Peru, pada 1996. Ketika itu, orang-orang dari sebuah gerakan militan menyandera ratusan orang yang sedang menghadiri pesta di kediaman resmi Duta Besar Jepang. Dalam waktu beberapa jam, mereka membebaskan para sandera, termasuk sandera yang paling berharga, karena rasa simpati.

Versi Indonesia
Contoh di atas merupakan contoh secara gamblang sindrom stockholm yang terjadi antara korban dan penyandera. Dalam kasus atau kejadian sehari-hari, sindrom tersebut terjadi dalam hubungan berpasangan; istri-suami atau hubungan berpacaran. Salah satunya, kasus yang paling fenomenal saat ini, Eyang Subur beserta istri-istrinya.

Dalam kasus tersebut, Eyang Subur merupakan ’penyandera’, dan istri-istrinya merupakan ’tawanan’ atau korban. Jadi, dalam keadaan yang menurut masyarakat kebanyakan adalah sebuah kondisi yang tidak sewajarnya atau “salah”, misalnya dipoligami dan harus hidup serumah dengan istri-istri lain dari suaminya, serta menikah dengan pria yang sudah lansia, bukan merupakan sebuah “kesalahan” bagi mereka.

Sebagai ’tawanan’, para istri ini mempunyai rasa simpati dan empati terhadap ’penyandera’ mereka. Mereka semacam menemukan kenyamanan, bahkan tidak menghiraukan isu yang beredar kalau mereka kena guna-guna atau semacamnya. Menurut psikiater dr. Ismed Yusuf, SpKJ (K), ada banyak faktor yang melandasi orang-orang mengalami sindrom stockholm. Dan ini bisa faktor apa saja. Mulai dari trauma masa kecil, konflik dalam keluarga, trauma dari hubungan yang pernah dijalani, latar belakang pendidikan, dan ekonomi; bermasalah dalam pekerjaan/ keuangan atau tergoda kehidupan yang layak/ mewah.

“Apapun yang melatarbelakangi, satu hal yang menyebabkan orang terkena sindrom ini karena mereka mengalami disambiguitas (keragu-raguan/ kebimbangan, red.). Dan ini paling banyak dialami wanita,” papar dr. Ismed. Ia menjelaskan, ketika seseorang berada pada kondisi ambiguitas, ia mengalami ketidakberdayaan, lalu berubah menjadi sebuah keyakinan atau kemantapan terhadap hal yang “berlawanan”. Berlawanan dari norma atau kebiasaan masyarakat secara umum. Seperti yang dialami para istri Eyang Subur.

Contoh sindrom stockholm lainnya, kisah ’daging sapi’ Ahmad Fathanah dan 20 perempuannya, yang menerima aliran dana mulai Rp 40 juta hingga 1 miliar. Para perempuan ini dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswi, model, penyanyi dangdut, hingga selebriti, Ayu Azhari, dan Vitalia Sesha, model majalah pria dewasa. Belakangan, nama Kiki Amalia ikut muncul. Tak hanya uang, para wanita ini juga dilimpahi harta lainnya mulai dari mobil hingga perhiasan.

Kita mungkin menduga, yang membuat perempuan-perempuan cantik ini ’takluk’ pada Fathanah, tak lain karena uang. Namun, apapun alasan yang mendasarinya, para perempuan ini mengalami sindrom stockholm terhadap Fathanah.

Contoh lainnya yang tak kalah fenomenal, adalah kasus Syekh Puji dan Ulfa, gadis yang dinikahinya, yang waktu itu (2008) baru berusia 12 tahun. Negara dan masyarakat jelas menyalahkan Syekh Puji atas tuduhan menikahi anak di bawah umur/ pedofilia. Namun sang perempuan muda, sama sekali tidak keberatan dinikahi pria yang jauh di atas usianya. Ia bahkan memberikan pernyataan bahwa dirinya memang mencintai sang miliarder nyentrik itu.

Menurut dr. Ismed, sindrom stockholm bukan merupakan penyakit psikis, ini hanya sebuah sindrom. “Kita tidak bisa mengklaim para penderita stockholm itu sakit atau mempunyai kelainan (jiwa) karena yang bersangkutan tidak merasa kalau mereka ’tidak normal’”, jelas pengelola dan penanggungjawab Yayasan Kesehatan Jiwa Fatwa Semarang ini. Ya, para penderita sindrom stockholm tidak merasa bahwa dirinya mengalami kelainan meskipun mereka merasa bahagia dan nyaman dalam kondisi yang ’tidak seharusnya’. (11)

Oleh Irma Mutiara Manggia
————–
Bantulah Menemukan Dirinya Sendiri

JIKA  Stockholm syndrome terjadi, tentu saja akan merusak diri sendiri dan merugikan pihak lain. Bayangkan jika seorang istri terus-terusan merasa nyaman di bawah tindak kekerasan suami, pastinya akan berdampak negatif bagi perkembangan psikologi sang istri.

Ya, hubungan yang sudah terjalin lama, membuat korban sulit melepaskan diri. Itu karena di dalamnya ada investasi emosi, tenaga, dan finansial sehingga korban enggan meninggalkan hubungan itu, dan semua itu atas nama cinta.
Walau ada yang berhasil lepas, itu pun akan membawa luka dan trauma yang membekas sangat dalam. Dampaknya, korban akan merasa paranoid, ketidakstabilan emosi, sulit merasakan kebahagiaan layaknya manusia biasa dan akhirnya cenderung akan melukai orang-orang yang mencintainya dengan tulus.

Jika sudah begini, korban membutuhkan orang lain untuk melakukan pemulihan.

Sebagai pihak yang membantu korban, ada beberapa hal efektif yang bisa kita lakukan. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, bantulah dia menemukan lagi dirinya sendiri. Berada dalam hubungan yang tidak sehat biasanya membuat seseorang tidak lagi menjadi diri sendiri. Salah satunya dengan mengajaknya melakukan hobi yang sempat lama ditinggalkannya. Mengajaknya berdandan, memuji dirinya dan mengajak berekreasi ke tempat yang ia sukai juga akan membantu.

Kedua, berilah dia sugesti. Coba ajak dia bersinggungan dengan trauma yang ia hadapi dan berilah pengertian bahwa sesuatu yang ia takutkan, tidak akan membahayakannya. Dengan begitu, korban akan tersugesti dengan rasa aman. Selain itu, katakan padanya sisi positif dan kebaikan dari trauma yang ia alami.

Ketiga, ajak dia bergabung dalam support group. Berada dalam satu lingkaran bersama orang-orang yang mengalami trauma yang sama dapat menyuntikkan semangat baru, terutama bagi seseorang yang terisolasi dalam hubungan sebelumnya. Dengan berbagi pengalaman, seseorang bisa saling menguatkan dan menjadi tegar.

Keempat, mintalah bantuan profesional. Dengan meminta bantuan dokter atau psikiater, korban akan mendapatkan penanganan dengan metode dan pendekatan yang tepat.

Para tenaga profesional ini dapat membantu korban berefleksi dan mencegah kembali terjerumus dalam pola hubungan yang sama.  (Siti Khatijah-11)
—————-
Romantisme Penculikan

MESKI namanya masih tergolong asing, rupanya setiap orang mempunyai kemungkinan yang sama terkena Stockholm syndrome. Fenomena psikologis ini dapat kita temukan pada hubungan sosial seperti dalam keluarga, percintaan, persahabatan atau hubungan individu lainnya.

Tentu saja Stockholm syndrome terjadi kepada mereka yang dekat dengan faktor pemicunya. Ancaman dan kekerasan baik fisik maupun mental menjadi salah satu penyebabnya. Seseorang yang menjadi korban, berangsur-angsur rasa percaya dirinya akan hilang karena ketidakberdayaannya. Apalagi jika korban juga mengalami isolasi atau blokir secara fisik, mental, maupun emosional.

Terbukti, telah banyak kisah dramatis para penderita Stockholm syndrome di berbagai belahan dunia. Beberapa dari kisah nyata tentang sindrom ini juga menginspirasi insan film untuk mengangkatnya ke layar lebar.

Ya, cerita nyata tentang penculikan pada Patty Hearts sempat mencengangkan masyarakat dunia pada 1974. Di luar dugaan, putri milyarder Amerika itu menolak dibebaskan oleh pihak keluarganya. Patty justru membantu para penculiknya, yaitu kelompok teroris, Symbionese Liberation Army (SLA), dalam beberapa aksi perampokan bank.

Patty mengangkat senjata dan mengganti namanya sebagai ëíTaniaíí. Lantas, peristiwa ganjil yang dialami Tania itu sudah diangkat menjadi beberapa versi ke layar kaca dan layar lebar.

Perubahan sikap drastis itu juga tampak pada beberapa orang yang mengalami keadaan di bawah tekanan. Cerita musuh menjadi teman itu dialami oleh Jaycee Lee Dugard yang disekap oleh Phillip Garrido selama delapan belas tahun.

Lucunya selama penculikan, Jaycee malah membantu Phillip melakukan pekerjaan rumah. Sering mengalami penganiayaan dan pemerkosaan, Jaycee tidak lantas melarikan diri meski beberapa kali mempunyai kesempatan untuk kabur.

Perilaku Jaycee bisa jadi merupakan mekanisme pertahanan diri, strategi utnuk membuat dirinya tetap selalu bahagia dan tidak kalap. Tapi Stockholm syndrome itu malah menjadi cerita romansa cinta yang unik.

Kecenderungan tersebut rupanya juga menimpa beberapa korban kasus penculikan dan penyekapan. Sebut saja Elisabeth Smart yang enggan menghubungi orang lain untuk memberi tahu dia sedang diculik oleh Brian David Mitchell. Padahal perempuan itu telah diperkosa, disembunyikan di dalam lubang di Emigration Canyon. Ada pula cerita Shawn Hornbeck yang menambahkan nama keluarga Devlin setelah selama empat tahun diculik oleh Michael J Devlin.

Di Austria, seorang anak perempuan bernama Natascha Kampusch menunjukkan tanda-tanda mengidap Stockholm syndrome setelah melarikan diri dari penculikan yang dilakukan oleh Wolfgang Priklopil. Terbukti, perempuan yang diculik selama delapan tahun itu merasa sedih ketika mengetahui sang penculiknya bunuh diri. (Siti Khatijah-11)

Sumber: Suara Merdeka, 19 Mei 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika ...

%d blogger menyukai ini: