Sabuk Gunung Api Berperan Penting Stabilkan Suhu Bumi

- Editor

Rabu, 25 Maret 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di satu sisi, gunung berapi memompa sejumlah besar karbon dioksida yang meningkatkan kadar CO2 di atmosfer. Di sisi lain, gunung berapi yang sama membantu menghilangkan CO2 itu melalui reaksi pelapukan yang cepat.

Sabuk gunung api sebagaimana terdapat di Indonesia ternyata bertanggung jawab untuk memancarkan dan kemudian menghilangkan karbon dioksida di atmosfer. Dengan peran ini, selama ratusan juta tahun, gunung api telah membantu menstabilkan suhu di permukaan bumi, tetapi tidak bisa menyelamatkan kita dari krisis iklim yang kini melanda.

Temuan ini dipublikasikan para ilmuwan dari University of Southampton Inggris bersama tim dari University of Sydney, Australian National University (ANU), University of Ottawa, dan University of Leeds serta dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience pada 23 Agustus 2021. Kajian difokuskan dengan mengeksplorasi dampak gabungan dari proses di bumi yang padat, lautan, dan atmosfer selama 400 juta tahun terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemecahan dan pelarutan batuan secara alami di permukaan bumi disebut pelapukan kimia. Proses ini ternyata sangat penting karena produk pelapukan, yang menghasilkan elemen seperti kalsium dan magnesium, dialirkan melalui sungai ke lautan, di mana mereka membentuk mineral yang mengunci karbon dioksida. Mekanisme umpan balik ini mengatur tingkat karbon dioksida di atmosfer dan pada gilirannya iklim global, dari waktu ke waktu geologis.

”Dalam hal ini, pelapukan permukaan bumi berfungsi sebagai termostat geologis,” kata penulis utama Tom Gernon, Associate Professor Ilmu Bumi di University of Southampton, dan anggota Institut Turing, dalam keterangan pers, Selasa (24/8/2021).

Eelco Rohling, Profesor Kelautan dan Perubahan Iklim di ANU yang turut dalam studi ini, mengatakan, banyak proses bumi yang saling terkait dan ada beberapa jeda waktu utama antara proses dan efeknya. Untuk mengungkap kompleksitas, tim membangun ”jaringan bumi” baru, yang menggabungkan algoritma dari mesin pintar dan rekonstruksi lempeng tektonik. Ini memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi interaksi dominan dalam sistem Bumi dan bagaimana mereka berevolusi seiring waktu.

Tim menemukan bahwa busur vulkanik di daratan menjadi pendorong paling penting dari intensitas pelapukan batuan selama 400 juta tahun terakhir. Karena batuan vulkanik terfragmentasi dan reaktif secara kimiawi, mereka dengan cepat mengalami pelapukan dan hanyut ke lautan.

Martin Palmer, Profesor Geokimia di University of Southampton dan anggota tim, berpendapat, peran gunung api merupakan proses penyeimbangan. ”Di satu sisi, gunung berapi ini memompa sejumlah besar karbon dioksida yang meningkatkan kadar karbon dioksida di atmosfer. Di sisi lain, gunung berapi yang sama ini membantu menghilangkan karbon itu melalui reaksi pelapukan yang cepat,” tuturnya.

Krisis iklim
Gernon mengatakan, temuan ini memberi pemahaman baru tentang siklus perubahan iklim di masa lalu. Namun, hal ini tidak berarti bahwa gunung api akan menyelamatkan kita dari krisis iklim yang dipicu ulah manusia, yang saat ini melanda Bumi.

”Saat ini, tingkat karbon dioksida di atmosfer mencapai titik tertinggi dalam 3 juta tahun terakhir. Emisi yang digerakkan manusia sekitar 150 kali lebih besar dari emisi karbon dioksida vulkanik. Busur gunung api yang telah menyelamatkan planet ini di masa lalu tidak cukup untuk membantu melawan emisi karbon dioksida saat ini,” paparnya.

Sekalipun demikian, temuan tim masih memberikan wawasan kritis tentang bagaimana masyarakat dapat mengelola krisis iklim saat ini. Pelapukan batuan yang ditingkatkan secara artifisial, di mana batuan dihancurkan dan disebarkan ke seluruh daratan untuk mempercepat laju reaksi kimia, dapat memainkan peran kunci dalam menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer dengan aman.

Temuan tim menunjukkan bahwa skema tersebut dapat digunakan secara optimal dengan menggunakan bahan vulkanik calc-alkaline, yang mengandung kalsium, kalium, dan natrium, seperti yang ditemukan di lingkungan busur gunung api.

Sekalipun demikian, Gernon mengingatkan, hal ini bukan solusi peluru perak untuk krisis iklim. ”Kita sangat perlu mengurangi emisi karbon dioksida sejalan dengan jalur mitigasi IPCC,” katanya.

Peneliti iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Siswanto, yang tidak terlibat dalam kajian ini mengatakan, penelitian ini sangat penting dalam memahami krisis iklim. Apalagi, Indonesia merupakan negara dengan deretan gunung api aktif paling banyak di dunia.

”Meski demikian, sejauh ini bidang penelitian geoclimate ini belum banyak dikaji peneliti Indonesia,” ujarnya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 24 Agustus 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Masalah Keagenan Pembiayaan Usaha Mikro pada Baitul Maal wa Tamwil di Indonesia
Perkembangan Hidup, Teknologi dan Agama
Jembatan antara Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Manusia dalam Al-Qur’an
AI di Mata Korporasi, Akademisi, dan Pemerintah
Ancaman AI untuk Peradaban Manusia
Tingkatkan Produktivitas dengan Kecerdasan Artifisial
Menilik Pengaruh Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan
Daftar Peraih Nobel 2024 beserta Karyanya, Ada Bapak AI-Novelis Asal Korsel
Berita ini 33 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 16 Februari 2025 - 09:06 WIB

Masalah Keagenan Pembiayaan Usaha Mikro pada Baitul Maal wa Tamwil di Indonesia

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:57 WIB

Perkembangan Hidup, Teknologi dan Agama

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:52 WIB

Jembatan antara Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Manusia dalam Al-Qur’an

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:48 WIB

AI di Mata Korporasi, Akademisi, dan Pemerintah

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:44 WIB

Ancaman AI untuk Peradaban Manusia

Berita Terbaru

Berita

Perkembangan Hidup, Teknologi dan Agama

Minggu, 16 Feb 2025 - 08:57 WIB

Berita

AI di Mata Korporasi, Akademisi, dan Pemerintah

Minggu, 16 Feb 2025 - 08:48 WIB

Berita

Ancaman AI untuk Peradaban Manusia

Minggu, 16 Feb 2025 - 08:44 WIB