Home / Artikel / Rekaman Geologi dalam Perkembangan Sejarah Jawa Barat

Rekaman Geologi dalam Perkembangan Sejarah Jawa Barat

WILAYAH Jawa Barat kaya akan sumberdaya alam, dapat dipergunakan secara langsung maupun tidak langsung. Produksi sumberdaya alam Jawa Barat setiap tahun mengalami peningkatan yang sangat berarti.

Sumberdaya alam merupakan sebagian dari rekaman geologi yang begitu banyak dan luas sekali. Dalam pembentukan Pulau Jawa, rekaman geologi sudah mulai berlangsung meliputi gejala yang bekerja maupun material pembentukannya. Pada saat itu rekaman tersebut dapat disaksikan langsung di lapangan.

Pada zaman Kuarter atau dua juta tahun yang lalu, dataran Jawa Barat sudah terbentuk dan kegiatan gunung api seperti Gunung Sunda sudah berlangsung. Mulai waktu itu segala jenis bahan galian sudah ada dan sangat mirip sekali dengan saat ini. Pemanfaatan bahan galian geologi seperti batu-batuan, mineral maupun beberapa bahan galian lainnya sudah dimanfaatkan oleh kehidupan manusia pertama di Jawa Barat.

Mulai saat itu bahan galian atau material geologis mempengaruhi kehidupaan manusia dan memasuki era sejarah manusia khususnya di Jawa Barat. Dengan perkembangan kebudayaan dan kemampuan manusia penggunaan bahan galian semakin banyak dan semakin beragam. Pada saat ini manusia tidak bisa melepaskan diri dari bahan galian. Bahan galian sudah dapat memenuhi permintaan pasar, untuk bahan bangunan, industri, perhiasan maupun alat untuk kemewahan.

Di bawah ini diceriterakan lebih lanjut mengenai rekaman geologi dan bahan galian dalam mengikuti
perkembangan sejarah Jawa Barat.

Sejarah Geologi Bandung
Peneliti terdahulu sejak kolonial sampai sekarang telah banyak mempelajari dan meneliti aspek geologi di Jawa Barat, khususnya Bandung. Ringkasan penelitian tersebut seperti tertuang di bawah ini.

Bandung Dasar Lautan
Pada 30-25 tahun yang lalu (awal Miosen), Pulau Jawa sebelah utaranya masih merupakan samudera, hanya bagian selatannya saja yang berwujud dataran dengan pesisirnya tak jauh di sebelah selatan Pangalengan. Pantai utara Pulau Jawa, embrionya masih dekat Pangalengan, sedangkan dataran tinggi Bandung masih di bawah laut. Kejadian ini berlangsung antara 25-14 juta tahun yang lalu (Miosen akhir).

Semakin ke arah utara terdapatlah cekungan lautan dengan endapan yang normal. Ketebalan endapan tersebut mencapai ribuan meter, terdiri dari lempung, napal dan merupakan lautan tropik, sedangkan karang hidup membangun beting kapur yang sekarang menjadi Batu kapur. Lapisan-lapisan yang diendapkan 20 juta tahun yang lalu, kini terpamer di Purwakarta dan Subang sebagai batu lempung. Di Tagog Apu, Padalarang terdapat Pegunungan Kapur (Gunung Masigit) dan Endapan gunung api terdapat di selatan Pangalengan.

Bandung Pantai Laut Jawa
Periode revolusioner berlangsung antara 14-2 juta tahun yang lalu (Pliosen). Pada waktu tersebut terjadi perlipatan (folding) dan pembentukan gunung api (orogenesa) sampai pantai bergeser ke sebelah utara, tidak jauh dari Bandung. Sedimen yang terlipat itu muncul di atas laut.

Sehabis periode revolusioner ini, kembali mengalami periode istirahat, masa perkembangan dengan kegiatan vulkanik dan sedimentasi di cekungan dalam laut di utara Bandung. Saat ini berupa bukit-bukit Selacau yang berbentuk piramida terdapat di sebelah selatan Cimahi.

Kegiatan vulkanik terjadi pada kurang lebih dua juta tahun yang lalu (Plestosen), berlangsung di sebelah utara Bandung menghasilkan suatu kumpulan gunung api Sunda setinggi 3.000 meter. Sebuah Gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya, sedangkan Gunung Burangrang hanyalah merupakan parasit gunung ini.

Pergeseran pantai ke Utara dataran Bandung
Sejak dua juta tahun yang lalu atau awal Plestosen, pantai Jawa terdapat di sebalah utara dan jauh dari Bandung. Pada kala itu terjadi letusan Gunung Sunda, berupa endapan tufa dan lahar di dalam lapisan tersebut ditemukan tulang-tulang binatang bertulang belakang (vertebrata), ditemukan di sebelah barat Batujajar.

Ketiagan vulkanisme terus berlangsung selama puluhan ribu tahun menimbun material vulkanik yang sangat tebal di atas endapan lempung dan napal. Lahirnya Gunung Tangkuban Perahu pada 11.000 tahun yang lalu (Holosen) dan letusannya terjadi pada 6.000 tahun yang lalu. Letusan ini menyebabkan terbentuknya Danau Bandung. Setelah periode gunung api terhenti, manusia purba telah menempati di sekitar Danau Bandung.

Danau Bandung
Gunung-gunung sudah mencapai ketinggian seperti dewasa ini, pegunungan Tersier masih terbentang luas antara Gunung Malabar dengan Gunung Tangkuban Perahu. Dataran yang dilalui Citarum sudah meliputi daerah yang kira-kira sama luasnya dengan kini.

Kegiatan Gunung Tangkuban Perahu tua, meletus pada 6.000 tahun yang lalu, menyumbat jalannya Sungai Citarum dekat Padalarang. Sumbat ini membentuk tanggul yang tinggi sehingga permukaan air meningkat naik, maka terbentuklah Danau Bandung.

Setelah permukaan air melampaui endapan Tersier seperti batu kapur, permukaan terus berkurang. Hal ini disebabkan sungai baru ini terus makin mendalam menyayatnya dan membangun lembah yang dalam. Bersamaan waktunya dengan proses pendangkalan yang diakibatkan oleh material-material padat diendapkan di dasar danau, sehingga menghasilkan permukaan air semakin surut dan terbentuklah Dataran Tinggis Bandung.

Pintu air baru melalui pegunungan tua terletak di antara Gunung Puncaklarang (885 m) dan Banteng (700 m). Sungai Citarum menyayat hingga sedalam 57 meter. Pada ketinggian tersebut terdapat endapan-endapan telaga dengan ketebalan lapisan paling sedikit setebal 110 meter. Hal ini membuktikan bahwa danau itu hampir seluruhnya diisi endapan-endapan.

Perkembangan pemakaian bahan galian
Data ini didapat dari hasil penelitian para ahli di bidang arkeologi dan geologi, di sekitar Bandung dan Jawa, Barat.

Budaya Artefak
Pemakaian bahan galian telah dipergunakan sejak zaman prasejarah di Jawa Barat, khususnya di Bandung. Bahan pertama sekali dipergunakan menurut catatan sejarah berupa batukaca, obsidian dan silika amorf, dipergunakan sebagai alat seperti mata pisau, kapak, dan tumbak. Alat-alat tersebut dikenal dengan istilah artefak obsidian. Pembuatan mata pisau dari obsidian dengan cara memukul-mukul obsidian dengan benda keras lainnya (batu) sampai mendapatkan satu sisi yang diinginkan bermata tajam. Alat ini dipergunakan untuk berburu, sebagai alat pemotong maupun menyayat.

Menurut catatan manusia pertama mendiami Danau Bandung pada 6.000 tahun yang lalu di sekitar Dago Pakar. Ketinggian daerah tersebut kurang lebih 725 meter di atas muka laut sesuai dengan ketinggian Danau Bandung pada waktu itu. Hal yang sama ditemukan obsidian di daerah lain seperti Nagreg, sehingga dapat diketahui kehidupan manusia pertama di Danau Bandung pada garis ketinggian kurang lebih 725 m di atas muka laut.

Budaya Megalitik
Dengan berjalannya waktu kebutuhan manusia akan alat-alat pembantu semakin banyak. Manusia mulai berusaha mencari bahan alam yang dapat dipergunakan sebagai perkakas kehidupan. Bahan itu berupa bahan galian yang cukup keras, sangat lunak dan zat warna. Kesemua ini dapat diolah dengan cara sangat sederhana.

Bahan batu dipergunakan sebagai perkakas dan alat penyembuhan, batu-batu tersebut dikenal dengan nama megalitik. Bahan galian sangat lunak seperti tanah dipergunakan sebagai bejana, periuk maupun cawan, sedangkan zat warna seperti hematit maupun tanah laterit digunakan sebagai pewarna atau melukis.

Berdasarkan datangnya tadisi megalitik di Indonesia, dapat dibagi menjadi dua, yaitu megalitik tua dan mengalitik muda. Pembagian ini berdasarkan kebudayaannya, termasuk megalitik tua terdiri dari dolmen, menhir dan teras berundak, sedangkan megalitik muda terdiri dari peti kubur batu, arca megalitik dan bejana batu. Dalam kenyataannya ke dua unsur tersebut terjadi percampuran yang sulit untuk dipisahkan.

Jejak megalitik di Jawa Barat terdapat di Cisolok (Sukabumi), Cirebon dan Cikeusik (Banten Selatan), benda-benda batu yang ditemukan berupa menhir, teras berundak, bejana batu dan arca megalitik. Bangunan teras berundak di Cikeusik dikenal dengan nama “Arca Domas”, yang erat hubungannya dengan teras berundak “Lebak Sibeduk”.

Bahan galian yang dipergunakan tesebut di atas berupa batuan andesit dan silika amorf. Batuan itu diperkirakan diambil tidak jauh dari tempatnya. Hal ini terlihat dari penyebaran bahan galian tersebut secara geologi dan penggunaannya oleh masyarakat pada waktu itu.

Di Kuningan terdapat peninggalan manusia purba di berbagai tempat seperti di Cibuntu, Cipari dan di beberapa tempat lainnya. Pada tempat-tempat tersebut terlihat adanya ciri-ciri kehidupan megalitik, ditandai oleh peninggalan-peninggalan berupa peti kubur batu, menhir, gelang batu, bejana tanah, dan batu-batu besar lainnya yang mungkin memiliki fungsi tertentu.

Manusia purba Kuningan banyak mempergunakan bahan galian berupa batuan andelit, kalsedon, jaspis, batukapur, chert dan tanah. Diperkirakan peradabannya sudah lebih maju, dilihat dari jenis bahan galian yang dipergunakannya. Kalsedon, jaspis, batukapur dan chert selain mudah dibentuk, bahan-bahan tersebut memiliki warna dan pola tertentu yang sangat menarik. Penyebaran bahan ini secara geologi sangat terbatas dan menempati tempat tertentu. Melihat dari jenisnya bahan-bahan tersebut mungkin diambil dari tempat yang cukup jauh dan memerlukan pengetahuan cukup luas.

Budaya Logam
Setelah manusia purba menggunakan bahan galian berupa batu-batuan, lambat laun berubah ke unsur logam. Dari data penemuan unsur logam, di daerah Cibuntu Kuningan terdapat logam hematit merah. Bahan itu dipergunakan sebagai pewarna.

Budaya bejana dan api telah dikuasai dengan baik, mulailah mencoba untuk melebur unsur logam dengan cara dipanaskan dan diolah. Bahan yang paling mudah untuk dilebur adalah logam perunggu dengan titik lebur tidak terlalu tinggi. Kemampuan manusia zaman dahulu menguasai perunggu dan beberapa barang cetakannya, dikenal masa itu dengan sebutan zaman perunggu. Setelah perunggu dikuasai, mulailah mencoba ke unsur lainnya yang lebih sulit.

Budaya Modern
Pada zaman modern penggunaan bahan galian telah menyebar luas dan segala segi kehidupan manusia. Tidak ada satu celah pun yang terlepas dari bahan galian. Apalagi teknologi telah maju dengan pesatnya, bahan galian dapat dimurnikan, diaktifkan maupun diuraikan menurut kebutuhannya dan memulai pembuatan bahan galian secara sintetis. Berbagai jenis bahan galian yang dulu tidak terpikirkan, atau biaya eksplorasinya sangat mahal maupun teknologinya belum sampai dengan biaya murah, pada saat ini mulai diusahakan dan bahan galian Jawa Barat banyak yang berkualitas sangat baik.

Teknologi modern pun tidak dapat lepas dari sentuhan bahan galian, seperti mata laser dan serat optik, ke dua jenis ini berasal dari bahan galian berupa kuarsa dan lantan.

Bahan galian dipasarkan secara langsung sebagai bahan mentah, barang setengah jadi maupun barang jadi melalui beberapa pemrosesan. Bahan-bahan ini pada umumnya langsung dipasarkan ke konsumen dalam lingkungan lokal, regional bahkan intemasional.

Pertumbuhan kebutuhan
Jawa Barat memiliki wilayah-wilayah sebagai pusat-pusat pertumbuhan yang pesat untuk mendukung perekonomian dan perkembangan serta kemajuan Indonesia. Kota-kota pusat pertumbuhan di antaranya: Cilegon, Tanggerang, Bogor, Bekasi, Bandung, Subang, Cirebon dan beberapa lokasi lainnya. Bila dijabarkan lebih lanjut pusat-pusat pertumbuhan tersebut meliputi berbagai hal, antara lain: hunian, industri, perkantoran, pariwisata, ekonomi dan politik.

Penggunaan bahan galian dapat memenuhi berbagai keperluan, seperti untuk industri, bahan bangunan, ornamen dan hiasan, permata dan batuaji, pertanian, peternakan, obat dan kosmetik dan lain sebagainya. Akhir-akhir ini bahan galian dapat dipergunakan sebagai senjata ekonomi maupun politik untuk memenuhi kepentingan tertentu.

Tingginya permintaan bahan galian untuk memenuhi kebutuhan pasar, para investor mulai melakukan kegiatan penambangan terutama bahan galian yang temasuk ke dalam bahan galian golongan C. Para pengusaha itu dapat melalui jalur resmi dengan ditertibkannya SIPD, maupun non resmi tanpa memiliki SIPD atau disebut juga penambang liar.

Akibat pengambilan bahan galian secara besar-besaran yang tidak mengindahkan norma-norma penambangan, menyebabkan terjadinya perusakan lingkungan. Teknik penambangan yang buruk sering terjadinya kecelakaan peketja tambang, terutama penggalian untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan. Kerusakan lingkungan banyak terjadi di daerah-daerah sekitar Kota Jakarta dan Bandung.

Daya dukung
Pembentukan bumi Jawa Barat dan proses-proses berikutnya setelah pembentukan, memperkaya kandungan bahan galian atau rnaterial geologis.

Bahan galian emas atau batu aji, melingkari Jawa Barat di bagian selatan, mulai Banten hingga Banjar. Bahan baku batuan untuk pondasi, agregat beton maupun jalan, banyak tersebar di Jawa Barat. Batu kapur atau batu gamping, banyak terdapat di Cipanas-Banten, Cibinong, Padalarang, Palimanan dan masih banyak Iagi dapat diolah sebagai semen, tepung kalsium maupun marmer. Pasir dan sirtu sebagai pelengkap bahan bangunan terdapat sebagai endapan sungai-sungai besar pada saat ini maupun sebagai batu-pasir di dalam suatu formasi batuan. Pasir Galunggung termasuk pasir beton kelas I, banyak terdapat di daerah Garut, dan Tasikmalaya, sedang tras sebagai pengganti pasir banyak terdapat di Lembang, Nagreg atau daerah lain wilayah letusan gunung api purba. Kualitas tanah liat di beberapa tempat memiliki kualitas sangat baik, tanah Jatiwangi sangat baik untuk dibuat genting dan batu, sedang tanah Plered sangat baik dan cocok dibuat gerabah.

Bahan baku industri dapat dipenuhi dari Jawa Barat, seperti zeolit bahan untuk berbagai keperluan banyak terdapat di Banten Selatan. Bentonit banyak diperlukan dalam industri perminyakan tersebar di daerah Tasikmalaya, sedang batuaji berkualitas menengah sampai atas banyak dihasilkan dari daerah Banten Selatan dan Garut Selatan. Sulfur banyak dihasilkan oleh gunungapi aktif di Jawa Barat seperti Gunung Tangkuban Perahu, Patuha dan lain lainnya. Minyak bumi terdapat di lepas pantai Utara dan batubara tersingkap di Banten Selatan.

Bahan galian logam pun banyak terdapat di seluruh wilayah Jawa Barat terutama bagian selatan, logam-logam yang terdapat antara lain emas, mangan, besi, air raksa, tembaga dan lain sebagainya.

Pemenuhan kebutuhan bahan galian dari daerah Jawa Barat untuk berbagai keperluan harus mengikuti norma-norma yang berlaku. Bila terjadi penyimpangan atau pengambiIan bahan galian secara besar-besaran akan terjadi kerusakan lingkungan. Bahan galian merupakan bahan yang tidak dapat diremajakan kembali atau bahan habis pakai.

Jawa Barat kaya akan bahan galian, material tersebut dapat diambil dan dikelola secara teratur dan bijak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pendapatan daerah dan kemajuan bangsa.

Penutup
Kejadian pembentukan bumi Jawa Barat dengan segala materialnya dan proses-proses yang terjadi, masih dapat dilihat pada saat ini. Beberapa lokasi kunci sejarah harus mulai dikonservasikan dan dilindungi secara hukum. Jejak alam yang terpenting jangan sampai hilang dari muka bumi Jawa Barat.

Beberapa jenis bahan galian mengiringi perkembangan kebudayaan manusia. Sejak zaman artefak sederhana berlanjut ke zaman megalitik hingga kini di zaman modern.

Pada zaman modern pengusahaan bahan galian dilakukan secara besar-besaran dan hampir segala jenis bahan galian telah diusahakan. Penambangannya sering mengabaikan norma-norma yang ada sehingga sering terjadi kecelakaan dan kerusakan lingkungan pada tahap awal sampai menghawatirkan.

Penggunaan bahan galian telah merajah ke segala lini kehidupan, mulai barang dipergunakan secara langsung sampai harus diolah terlebih dahulu. Jenis-jenis tertentu akan memberikan sentuhan kemewahan, romantis, gairah, keindahan bahan eksklusif. Bahan galian sebagai salah satu data geologi telah ikut serta berperan dalam perkembangan sejarah Jawa Barat.***

Oleh Doddy Setia Graha, Penulis, staf peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembungan Geologi, Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 3 Januari 1995

Share
%d blogger menyukai ini: