Home / Artikel / Realitas Perusahaan Rintisan

Realitas Perusahaan Rintisan

Saat ini, menjadi pengusaha perusahaan rintisan (start up entrepreneur) seakan memberikan sebuah gengsi tersendiri.

Perubahan paradigma tampaknya tengah terjadi. Tidak jarang mahasiswa yang baru lulus lebih memilih mengadu nasib menjadi pengusaha perusahaan rintisan. Mereka menolak tawaran menjadi pegawai negeri, bahkan juga pegawai dari perusahaan besar dan mapan. Suatu hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kecenderungan ini di antaranya tentu saja disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi. Semakin mudah dan semakin personal setiap orang dalam mengakses teknologi melahirkan banyak peluang baru yang menggiurkan.

Keberanian untuk menjadi entrepreneur, terutama bagi kalangan muda, adalah sesuatu yang patut dihargai. Namun, ada baiknya juga jika kita menilik lebih dalam realitas yang dihadapi perusahaan-perusahaan start up atau rintisan, terutama yang berada di Indonesia. Dengan demikian, keputusan diambil berdasarkan fakta dan data yang lengkap.

Daftar orang terkaya
Masuknya sejumlah pengusaha muda dari perusahaan-perusahaan rintisan dalam daftar orang-orang terkaya dari Indonesia belakangan ini menjadi faktor lain yang memotivasi kawula muda Indonesia. Keberhasilan para pengusaha muda ini kerap didasari oleh inovasi-inovasi yang mengagumkan.

Namun, penting untuk diingat bahwa inovasi sendiri sebetulnya masih belum cukup. Keberhasilan yang diraih para pengusaha muda ini digapai setelah mereka bersusah payah melewati berbagai badai tantangan dan rintangan.

Kunci keberhasilan adalah semangat juang dan passion. Jika kita memiliki ide dan konsep atas sebuah inovasi, tetapi tidak memiliki passion, kita akan mudah menyerah saat menghadapi berbagai masalah pelik yang menantang.

Memiliki konsep dan ide yang inovatif seiring dengan passion memang merupakan modal awal, tetapi ini semua masih jauh dari cukup untuk meniti keberhasilan sebagai pengusaha perusahaan rintisan.

Hampir semua pendiri (founders) perusahaan digital dan rintisan yang saat ini tengah berkibar memiliki etos kerja luar biasa: sangat disiplin dan pekerja keras. Salah satu dari pendiri tersebut sering kali bercerita kepada saya bagaimana pada awal saat meniti usahanya, mereka bekerja siang malam tanpa henti.

Untuk melepas penat, mereka hanya dapat mengambil satu dua jam berjalan mengelilingi Pondok Indah Mall. Itu pun tanpa berbelanja apa-apa karena pada saat itu mereka tidak memiliki banyak uang di saku. Artinya, untuk menjadi pengusaha perusahaan rintisan, terutama pada tahapan awal, harus bersedia bekerja siang malam dan hidup serba pas-pasan, bahkan mungkin serba kekurangan.

Saat perusahaan mulai menggeliat, bukan berarti tantangan semakin berkurang. Sebaliknya, seiring pertumbuhan perusahaan, akan semakin banyak pula tantangan. Pada intinya, start up atau bukan, tetaplah sebuah perusahaan yang memiliki berbagai faktor yang harus dikelola dengan baik. Mulai dari perencanaan keuangan, kemampuan manajerial, penerapan pembukuan dan pengeluaran yang disiplin, pengaturan sumber daya manusia, keuletan menghadapi berbagai permasalahan legal dan perizinan, melakukan eksekusi strategi bisnis, dan banyak lagi.

Perlu bantuan
Di antara para pendiri perusahaan rintisan, banyak yang tak memiliki kemampuan di bidang-bidang tersebut di atas. Ini menjadi salah satu alasan mengapa mayoritas dari perusahaan rintisan akhirnya gulung tikar.

Perusahaan yang akhirnya tutup itu mungkin pendirinya memiliki konsep yang inovatif dan dengan passion yang luar biasa pula. Namun, dalam perjalanan, perusahaan itu tidak berhasil menggalang dana untuk kebutuhan modal. Atau, setelah mendapatkan modal, pendirinya tidak mampu mengelola keuangan dengan baik. Bisa juga pendiri memiliki konsep dan ide yang inovatif, tetapi tidak berhasil dalam mengelola operasional perusahaan dengan baik.

Hanya terdapat satu solusi dari permasalahan di atas, yaitu para pendiri tersebut harus mencari bantuan. Hal ini terkesan sangat mudah secara konsep, tetapi praktiknya tidak semudah itu.

Pertama, bagi seorang pendiri untuk dapat mengakui bahwa dia tidak memiliki keahlian di bidang tertentu dan perlu mencari bantuan dari orang lain, dibutuhkan kerendahan hati (humility).

Kedua, bagaimana seorang pendiri dapat meyakinkan seseorang dengan talenta yang baik di sebuah bidang untuk bergabung dengannya?

Tentu saat mencari talenta, diharapkan individu tersebut memiliki kemampuan yang terbaik, tidak hanya asal-asalan. Namun, untuk seseorang dengan kemampuan yang begitu tinggi, sangat mungkin orang tersebut telah memiliki jabatan yang cukup mapan di perusahaan yang cukup mapan pula. Mungkinkah individu tersebut mau melepas semuanya untuk bergabung dengan perusahaan rintisan yang cenderung masih tidak stabil dan berisiko? Bahkan, gaji yang ditawarkan pun mungkin jauh lebih rendah dari jabatan sebelumnya.

Apa dampaknya? Akhirnya banyak pendiri perusahaan rintisan mengambil sumber daya manusia asal-asalan. Akibat lebih lanjut tentu saja adalah produktivitas perusahaan terpuruk dan akhirnya gagal.

Untuk dapat memperoleh talenta yang terbaik, pendiri perusahaan harus memiliki jiwa yang besar, penuh kerendahan hati, dan dengan visi yang kuat mampu memberikan makna lebih bagi kandidat yang ditarget.

Tantangan lain
Seiring pertumbuhan perusahaan, akan terdapat tantangan lain. Contohnya, akan sangat mungkin bagi pendiri menemukan bahwa talenta yang dimiliki tidak lagi sesuai. Semakin besar sebuah perusahaan, semakin banyak dan beragam pula tantangan yang dihadapi.

Pada saat itulah pendiri akan menghadapi tantangan yang sulit. Di satu sisi, perusahaan membutuhkan talenta dengan kemampuan yang lebih tinggi.

Di sisi lain, mengambil sumber daya manusia baru dapat berarti menggeser posisi beberapa karyawan yang telah menjadi bagian dari perusahaan selama beberapa tahun terakhir, umumnya sudah seperti keluarga bagi sang pendiri.

Sering kali menjadi sangat sulit untuk memilih antara teman seperjuangan atau masa depan perusahaan. Terlebih jika yang dibutuhkan adalah pergantian sebagian besar dari manajemen perusahaan. Perlu diingat, pegawai baru dengan tingkat kemampuan yang lebih baik sekalipun berisiko menghilangkan kultur perusahaan. Padahal, kultur ini sering merupakan salah satu alasan penting bagi keberhasilan perusahaan rintisan melewati masa-masa awal yang penuh tantangan.

Selain itu, terdapat pula berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh seorang pendiri sendiri. Salah satu contohnya adalah dengan berkembangnya perusahaan, bukan tidak mungkin diperlukan audiensi dengan pejabat-pejabat kelas atas.

Saat tumbuh semakin besar, sangat mungkin seorang pendiri diundang menjadi pembicara atau bertemu dengan pejabat-pejabat kelas atas. Tentu, semua ini tidak harus dilakukan oleh pendiri.

Namun, sebagai seorang pendiri, terdapat ikatan emosional yang kuat dengan perusahaan. Pada saat menjelaskan jalan sejarah perusahaan, seorang pendiri yang andal akan dapat melakukannya dengan jauh lebih bermakna dibandingkan dengan seorang pegawai.

Saat beraudiensi dengan misalnya seorang menteri atau bahkan presiden, selayaknya dihadiri oleh pendiri, bukan seorang pegawai. Yang menjadi pertanyaan, dapatkah pendiri tersebut semakin mengasah kemampuannya seiring kebutuhan dengan berkembangnya perusahaan?

Kesiapan hadapi krisis
Pada akhirnya, terdapat sebuah tantangan terhadap perusahaan rintisan di Indonesia yang belum banyak disadari. Banyak dari perusahaan rintisan yang kita kenal saat ini dibentuk setelah krisis keuangan global pada tahun 2008. Sekalipun terdapat perusahaan-perusahaan rintisan yang mungkin sudah dibentuk sebelum terjadinya krisis tersebut, mereka relatif masih berskala sangat kecil pada saat itu. Artinya, sebagian besar, mungkin seluruh, perusahaan rintisan yang kita kenal hari ini sebenarnya belum pernah melalui masa krisis yang berarti.

Menjadi sebuah pertanyaan tersendiri apakah perusahaan-perusahaan ini siap dan memiliki kapasitas yang cukup apabila suatu hari krisis keuangan ataupun krisis ekonomi melanda dunia atau Indonesia?

Semua masalah yang saya gambarkan di atas tidak bermaksud sama sekali untuk memupus harapan atau melemahkan semangat. Bahkan, semua perihal di atas diutarakan guna menggambarkan tingginya rasa kagum saya terhadap para pengusaha perusahaan rintisan, terutama mereka yang telah berhasil membuat berbagai pencapaian dan perusahaannya telah masuk dalam jajaran ”unicorn” (perusahaan rintisan dengan valuasi di atas 1 miliar dollar AS).

Kita semua tentu berharap bahwa Indonesia akan melahirkan lebih banyak lagi pengusaha perusahaan rintisan. Melahirkan lebih banyak lagi perusahaan rintisan yang berhasil.

Namun, ada baiknya, sebelum memulai, dapatkanlah semua informasi dan fakta atas apa yang akan dihadapi ke depan sehingga dapat memformulasikan perencanaan yang sesuai. Lupakanlah romantisisme Silicon Valley atau kisah-kisah sukses karena bisa saja konteks dan tantangannya berbeda.

Teddy Oetomo Chief Strategy Officer PT Bukalapak.com

Sumber: Kompas, 4 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: