Home / Artikel / Penyakit Cacing Hati Mengintai Manusia

Penyakit Cacing Hati Mengintai Manusia

Saat pemeriksaan organ liver sejumlah hewan kurban beberapa waktu lalu, ditemukan cacing hati (28/10). Juga pada hewan kurban setahun silam. Namun, fenomena ini tidak serta merta mengindikasikan peningkatan prevalensi penyakit infeksi cacing hati pada populasi hewan ternak yang berpotensi menular ke tubuh manusia yang sehat.

Penyakit cacing hati (fascioliasis) merupakan zoonosis yang disebabkan oleh hewan parasit dan Fasciola gigantica. Fasciola adalah cacing trematoda dengan tubuh berbentuk seperti daun. Hidup anaerob dalam saluran empedu hewan herbivora maupun manusia. Fasciola hepatica berukuran panjang 3 cm dan lebar 1,5 cm. Sedangkan Fasciola gigantica panjang tubuh hingga 7,4 cm. Fasciola gigantica cenderung pada ternak, kerbau, unta, babi hutan di Afrika, Asia dan Hawaii, serta menimbulkan masalah kesehatan di Jepang dan benua Amerika.

Sekitar 40 negara di dunia tercatat sebagai endemisitas fascioliasis hepatica, tersebar di Eropa, kawasan Karibea, Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah, Asia, terutama di lokasi ternak skala besar. Kejadian fascioliasis hepatica pada ternak herbivora juga meningkat seiring dengan bertambahnya sistem irigasi pertanian dan meluasnya lahan tanam yang dialiri.

Sementara itu, hewan vertebrata herbivora yang rentan terinfeksi cacing Fasciola hepatica adalah domba, kambing, sapi, kelinci, rusa dan kuda. Habitat dan kebiasaan pakan hewan merupakan faktor yang menentukan kecenderungan untuk terinfeksi. Hewan domba pada daerah becek (wetland) yang mengonsumsi rumput lebih sering terinfeksi ketimbang kambing yang pakannya berupa tanaman perdu. Pada lahan kering tidak ditemukan fascioliasis lantaran siklus hidup Fasciola tidak berkembang.

Penularan penyakit cacing hati ke tubuh manusia bukan lewat konsumsi daging atau jerohan hewan ternak. Sebab tubuh manusia terinfeksi bilamana mengonsumsi sayuran mentah yang dipanen dari daerah endemis penyakit cacing hati atau meminum air yang terkontaminasi metaserkaria (larva cacing hati). Sulit menentukan prevalensi fascioliasis lantaran sebagian besar asimtomatis. Tetapi, Yamaguchi (1981) memperkirakan sekitar 1300 kasus fascioliasis parah pada manusia seantero dunia.

Manifestasi Klinis

Fascioliasis hepatica pertama kali dideskripsikan oleh Jehan de Brie pada tahun 1379. Sedangkan fasciolisis gigantica (the giant liver fluke) oleh Cobbold pada 1856. Terdapat kesamaan manifestasi klinis fasciloliasis hepatica dengan gigantica. Pada hewan, gejala fascioliasis akut berupa bentuk invasi traumatis pada parenkim hati oleh cacing hati. Trauma dan reaksi peradangan menimbulkan rasa sakit di daerah perut dan sering diikuti kematian ternak dalam beberapa hari.

Fascioliasis kronis cacing hati dewasa menyebabkan kalsifikasi dan fibrosis serta pembesaran saluran empedu. Kerugian ekonomi berupa penurunan berat badan ternak dan produksi susu, serta kematian karena infeksi sekunder dan parasit itu sendiri.

Lantaran tempat bermukim cacing hati pada saluran empedu dan organ liver, maka gejala klinis fascioliasis merupakan gejala penyakit akibat gangguan aliran empedu dan fungsi liver pada manusia. Gejala klinis akut pada manusia rata-rata bersifat subklinis. Fase akut dialami selama migrasi parasit (immature flukes) dari duodenum ke saluran empedu intrahepatik (dalam organ liver) lewat rongga peritoneum dan parenkim liver.

Gejala akut berupa demam hingga 40  derajat celcius, nyeri perut terlokalisir pada ulu hati atau perut kanan atas, dan muntah. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan leukositosis dengan dominasi eosinofil hingga 90 persen dari total leukosit (eosinofilia absolut).

Stadium kronis sebagian besar tidak menimbulkan gejala (asimtomatis). Bila bergejala berupa penurunan berat badan  karena malanutrisi akibat gangguan pencernaan makanan, kolangitis, ikterus obstruktif akibat sumbatan aliran empedu, hepatomegali hingga ruptur hepar yang menjadi penyebab kematian penderita.

Cacing hati dapat juga bermukim pada organ otak, paru, jantung, bola mata, jaringan subkutan, sehingga disebut fascioliasis ektopik. Gejala klinisnya sesuai dengan kelainan pada organ yang terkena. Khusus di daerah timur Tengah dijumpai laringofaringitis yang disebut halzoun (sufokasi) akibat mengonsumsi jerohan liver mentah yang mengandung terinfeksi cacing hati dewasa. Cacing ini melekatkan diri pada mukosa faring sehingga menimbulkan peradangan akut pada saluran napas dan mengakibatkan kesulitan bernapas maupun menelan.

Diagnosis dan Terapi

Diagnosis pasti bila ditemukan telur cacing hati di dalam tinja penderita atau aspirasi cairan empedu. Tes serologis, USG dan CT Scan hanya membantu pemastian diagnosis. Pada stadium akut, diagnosis sulit dipastikan lantaran tidak ditemukan telur cacing hati pada tinja penderita. Namun trias klinis berupa demam tinggi, nyeri perut kanan atas, dan eosinofilia absolut merupakan karakteristik untuk mengarahkan pada dugaan fascioliasis. Untuk stadium kronis, diagnosis pasti ditentukan dengan menemukan telur cacing hati pada tinja.

Pengobatan dengan obat antitrematoda (trematosida) golongan diklorofenol (bithionol). Triclabendazole sudah resisten di Irlandia, Inggris, dan Australia. Praziquantel tak efektif untuk fascioliasis. Nitazoxanide ditoleransi dengan baik dan efektif, baik pada orang dewasa maupun anak.

Prognosis baik bila pasien tersembuhkan dengan terapi obat antitrematoda, meskipun masih mungkin terjadi infeksi ulang di kemudian hari. Sebaliknya, prognosis buruk tergantung pada keparahan kerusakan liver maupun saluran empedu. Tindakan medis operasi pengangkatan kandung empedu direkomendasikan.

Pencegahan jangka panjang tergantung pada eradikasi penyakit cacing hati pada hewan herbivora. Pemusnahan keong sukar dilaksanakan. Infeksi pada manusia dapat dicegah dengan mrnghindari konsumsi sayuran air yang mentah atau meminum air yang tercemar metacerkaria.(11)

F Suryadjaja  adalah  dokter  pada  Dinas  Kesehatan  Kabupaten  Boyolali

——————-

Tidak Mudah Menginfeksi

KEMUNGKINAN  terinfeksi tidak tergantung kepada jumlah kista metaserkaria yang masuk ke dalam saluran cerna saat mengonsumsi sayuran mentah (terutama selada air) atau meminum air yang terkontaminasi.

Seekor hewan coba di laboratorium bisa terserang fascioliasis parah tatkala menelan 40 kista metaserkaria. Sebaliknya, mencampuri pakan hewan coba dengan 10.000 kista hanya menimbulkan gejala ringan fascioliasis.

Untuk bertahan hidup di dalam tubuh hewan atau manusia, cacing Fasciola membutuhkan nutrisi yang terlarut dalam cairan empedu. Karena itu, cacing Fasciola dominan bermukim di kandung empedu, saluran empedu dan organ liver.

Siklus Hidup

Hewan ternak atau manusia yang terinfeksi cacing hati melepaskan ke lingkungan habitatnya lewat tinja. Telur yang matang (matur) menetas dan melepaskan mirasidium. Untuk mempertahan hidup, mirasidium harus menginfeksi keong (genus Lymnaea) sebagai hospes intermediat.

Dalam tubuh keong, mirasidium berkembang menjadi redia dan akhirnya serkaria. Keluar dari tubuh keong, serkaria melepaskan ekornya untuk berwujud metaserkaria (metacercaria). Dalam habitat air yang lambat alirannya, larva metaserkaria ini menempel pada permukaan tanaman air, rumput dan berbatuan.

Hewan ternak maupun manusia terinfeksi bila mengonsumsi sayuran atau meminum air yang mengandung metaserkaria. Sesampai di saluran cerna, metaserkaria menembus dinding usus dua belas jari (duodenum) dan tiba di rongga peritoneum. Selanjutnya menembus kapsul organ liver untuk mencapai parenkim liver dan akhirnya menyusup ke dalam saluran empedu, bahkan kandung empedu untuk menjadi cacing hati dewasa. Cacing dewasa bertelur. Dengan bantuan aliran empedu, telur tiba di lumen duodenum lewat Ampula Vateri untuk selanjutnya keluar dari tubuh lewat tinja.

Nutrisi  Empedu

Perlu waktu 3-4 bulan agar metaserkaria bisa menembus dinding duodenum dan bermukim di dalam lumen saluran empedu dalam bentuk cacing dewasa. Dalam saluran empedu kelinci, cacing hati bertahan hidup hingga 3 tahun dan domba hingga 5 tahun. Sedangkan pada manusia hingga 13 tahun. Untuk mempertahankan hidup bertahun-tahun dalam tubuh manusia maupun hewan, cacing hati memerlukan nutrisi yang terlarut dalam cairan empedu.

Lewat ampula Vateri, lumen duodenum dibanjiri oleh cairan empedu sehingga memungkinkan metaserkaria hidup berbulan-bulan. Namun sesampai di dalam rongga peritoneum dan parenkim hati, banyak metaserkria yang mati karena ketiadaan cairan empedu. Dengan demikian menjadi barier alamiah dimana metaserkaria tidak mencapai saluran empedu. Berita gembiranya, meskipun tertelan metaserkaria belum tentu terinfeksi cacing hati secara klinis.(F Suryadjaya -11)

Sumber: Suara Merdeka, 7 November 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: