Home / Artikel / Penurunan Ragam Hayati di Seputar Rumah

Penurunan Ragam Hayati di Seputar Rumah

PADA abad ke-18, passenger pigeon di AS begitu banyaknya sehingga mampu menutupi kota pada waktu burung ini terbang mencari tempat tidur pada sore hari. Populasi spesies ini di Amerika Utara luar biasa banyaknya, diduga berkisar 2 1/4 milyar ekor, sehingga barangkali tak pernah terlintas bahwa burung sejenis merpati ini akan punah. Perburuan terus-menerus agaknya takkan mengakibatkan penurunan jumlah yang berarti. Tak akan? Semua orang lantas terhenak seteIah mengetahui bahwa satu abad berikutnya ternyata hanya tinggal seeker passenger pigeon betina, Martha, di Kebun Binatang Cincinnati. Pada waktu itu Martha mati pada tanggal 1 September 1914, baru disadari bahwa kepunahan spesies dapat terjadi di depan mata, di seputar rumah.

Di seputar rumah kita diam-diam juga terjadi penurunan ragam hayati. Sekitar tahun 1970-an, pada malam hari tak pernah sepi dari suara-suara. Yang paling sering adalah suara musang yang bergentayangan di atas atap rumah sampai mencuri ayam. Burung hantu, katak, jangkrik dan belut masih sangat mudah dicari. Siang hari juga masih banyak burung mondar-mandir. Alap-alap masih sering tampak terbang berputar-putar mencari anak ayam. Burung walik masih mudah diburu. Pak tani juga masih disibukkan dengan ulah bondol, pipit, gelatik, peking, dan manyar yang menjarah padi. Raja udang sering mengintip di pinggir balong, siap mencuri ikan. Juga jenis-jenis hahayaman, tilil, beker, kokondangan, pecuk dan kuntul baheula merupakan pemandangan yang biasa terlihat di sawah.

Beberapa jenis ternak juga telah mulai berkurang. Angsa dan menthok menjadi semakin langka. Binatang-binatang kecil seperti kutu busuk dan kutu rambut tak bisa lagi ditemukan di kota. Jenis buah-buahan juga banyak yang mulai menghilang di pasar. Kesemek, buah genit yang selalu disaput bedak, sudah lama tak tampak. Srikaya, kecapi, asam keranji, lobi-lobi, juwet, delima, kupa, bisbul, wuni dan kemlaka mulai sirna dari peredaran. Jenis-jenis tanaman tempo doeloe seperti jengger ayam, pacing, sosor bebek, sangga langit, kembang cokelat dan tapak dara sulit dicari Iagi.

Evolusi ragam hayati
Saat ini, ragam hayai (biodiversity) merupakan topik hangat dalam bidang ekologi dan konservasi biologi. Ragam hayati adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan derajat keanekaragaman makhluk hidup, yang mencakup jumlah dan frekuensi gen, spesies dan ekosistem. Dalam tulisan ini, istilah ragam hayati dibatasi pada tingkatan spesies.

Catatan fosil telah membuktikan bahwa ragam hayati di muka bumi ini sealu mangalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Selama sejarah bumi yang berusia 41/4 milyar tahun ini, ragam hayati pelan-pelan meningkat, menurun dengan adanya kepunahan masal, meningkat lagi, berkurang karena kepunahan masal, dan seterusnya. Bahkan kepunahan masal yang paling parah, yaitu pada periode Permian (240 juta tahun yang lalu), telah memusnahkan sekitar 80 persen dari organisme laut yang-ada. Diperlukan sekitar 5 juta tahun untuk memulihkan ragam hayati dengan status kelimpahan seperti semula.

Dari catatan fosil juga dapat disimpulkan bahwa kepunahan spesies adalah suatu hal yang lumrah. Jika dihitung-hitung, ragam hayati yang ada sekarang, yaitu diduga sekitar 1,4 juta spesies, barangkali hanya menduduki proporsi 0,1 persen dari jumlah seluruh spesies yang pernah ada di muka bumi.

Mengapa kita sekarang sibuk mengurusi penurunan ragam hayati? Padahal, kapunahan adalah suatu proses alami dan kepunahan bisa diikuti oleh pemulihan ragam hayati melalui proses spesiasi (pembentukan spaies baru). Apalagi kalau hipotesa Gaia-nya Lovelock benar, maka bumi ini sasungguhnya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri.
Proses penurunan ragam hayati yang sedang berjalan sekarang ini berbeda dengan kepunahan prasejarah. Dahulu kala, kepunahan merupakan reaksi terhadap perubahan lingkungan (iklim, kandungan atmosfer, tumbukan dengan meteor, dan lain-lain). Campur tangan manusia tidak ada. Sekarang manusialah penyebab utama berkurangnya ragam hayati, melalui kegiatan pembukaan lahan, perburuan, penebangan hutan, pencemaran lingkungan dan lain-lain. Jadi, kepunahan bukanlah suatu proses yang alami lagi.

Laju kepunahan rata-rata saat ini diduga sekitar satu dari seribu spesies per tahun. Sebelum manusia ada, laju kepunahan rata-rata hanya terjadi pada satu dari satu juta spesies (Wilson, 1988). Ini berarti bahwa manusia telah mempercepat laju kepunahan jenis menjadi seribu kali lipat!

Ragam hayati dan selera masyarakat
Ragam hayati spesies di seputar kita agaknya tak lepas dari pengaruh selera masyarakat. Sudah bukan rahasia lagi bahwa selera masyarakat kota ini sedang mengacu ke dunia barat. Kita amati saja kecenderungan masyarakat dalam memilih jenis buah-buahan. Buah-buahan impor belakangan ini merajai pasar swalayan, sementara buah lokal makin terdesak dan hanya bisa dicari di pasar-pasar tradisional. Sekarang kita mudah mencari seedless, grape, kiwi fruit, tangerine, pear, peach, atau strawberry di pasar-pasar swalayan. Sayuran impor seperti paprika, artichoke, sugar beet, lettuce, broccoli, juga bertambah banyak.

Selera masyarakt terhadap tanaman hias juga mulai beralih. Pekarangan kita lebih banyak ditanami tanaman hias ‘masa kini’ seperti senecio, violces, calathea, maranta, peperomia. Padahaltanaman hias tempo doeloe tak kalah cantiknya dan bahkan banyak yang berkhasiat. Jengger ayam dapat menghentikan pendarahan, pacing dapat meluruhkan air kemih, alpulaka berkhasiat menyembuhkan sakit tenggorok, sosor bebek membantu menghilangkan nyeri lambung dan muntah darah, pacar air berguna untuk mempermudah persalinan, sedangkan tapak dara ternyata mengandung komponen antikanker (Wijayakusuma dkk 1992, 1993).

Daftar spesies impor, akan bertambah panjang bila kita memasukkan binatang peliharaan, baik jenis-jenis burung, ikan di akuarium, ataupun mamalia kecil dan reptil dalam terarium. Di samping itu, kita telah atau sedang mencoba-coba menanam beberapa jenis buah asing (exotic). Melon barangkali merupakan contoh buah asing yang mulai banyak diminati masyarakat. Buah yang luarnya mirip cantalouge tapi rasanya lebih dekat ke honeydew ini sudah dibudidayakan di mana-mana. Baby corn juga demikian.

Barangkali memang sudah sifat manusia untuk merasa ’bosan’ dengan apa yang sudah dimiliki. Sementara kita mulai beralih pada buah-buah ’Barat’, orang-orang Amerika dan Eropa juga beralih pada buah tropia seperti pepaya, nenas, nangka, durian, pisang, belimbing dan mangga. Tanaman hias tropika seperti beringin, iler, bambu, kacapiring, puring dan bunga sepatu malahan disukai mereka.

Menuju pelestarian spesies di seputar kita
Penambahan jumlah spesies atau kultivar buah-buahan yang yang beredar di pasar sebetulnya malah menambah kekayaan ragam hayati. Yang patut dikhawatirkan adalah bahwa penambahan ini akan melangkakan atau bahkan memusnahkan spesies asli yang kita miliki.

Pengalaman telah menunjukkan bahwa spesies yang mempunyai nilai ekonomis tinggi cenderung diusahakan besar-besaran melalui pola penanaman monokultur yang relatif lebih rentan terhadap hama dan penyakit. Akibatnya pestisida lebih sering digunakan dengan dosis yang semakin tinggi, mengingat bahwa hama dan penyakit semakin kebal terhadap zat-zat beracun. Akumulasi zat-zat yang bersifat racun ini tentu saja akan mengancam manusia sebagai rantai terujung dalam jaringan ekosistem. Untuk itu kegiatan penganekaragaman tanaman dapat membantu mengurangi dampak yang sering terjadi.

Rekayasa genetika juga diperlukan sehingga buah-buahan asli kita bertambah manis, bijinya sedikit dan lebih sering berbuah, sehingga dapat bersaing dengan asing. Yang penting lagi, selera masyarakat harus bisa dibentuk agar tidak mengarah pada ”luar negeri minded”. Kampanye penggunaan dan penanaman spesies asli perlu digalakkan. Kebun dan hutan kita memiliki buah dan sayuran asli yang tak kalah lezatnya dengan buah dan sayur impor.

Impor buah-buahan asing tidak hanya akan mendesak keberadaan buah tradisional, tetapi juga akan mematikan usaha petani buah. Sementara itu, penanaman jenis asing tanpa perencanaan matang juga berbahaya mengingat resikonya yang tinggi. Kegiatan introduksi ini bisa diibaratkan sebagai permainan roulette yang bersifat stokastik dan sulit diduga hasilnya. Sudah banyak contoh yang membuktikan bahwa jenis asing dapat menyebarkan penyakit baru kepada jenis asli. Introduksi spesies juga bisa gagal dan jenis asing bahkan dapat menjadi gulma yang memusingkan (eceng gondok), mengalahkan jenis asli yang ada (ikan carp yang mendesak populasi trout di AS) atau malahan merusak ekosistem (keong mas yang lolos ke sawah dan menghabiskan padi, kelinci di Australia yang menghabiskan rumput ternak di padang-padang penggembalaan).

Pelestarian spesies yang dianggap hama memang selalu menjadi dilema. Jika ular sawah terlalu bannyak, petani takut pergi ke sawah. Tapi kita sering lupa bahwa jika ular sawah berkurang, hama tikus akan bertambah banyak sehingga pada akhirnya kita akan rugi juga. Keseimbangan ekosistem agaknya merupakan kunci pokok dalam mengelola jumlah satwa liar.

Wilaya perkotaan juga perlu ditanami dan disediakan wilayah-wilayah hijau terbuka. Taaman-taman di AS, misalnya dapat menjadi habitat yang baik untuk grey squirrel, cottonail rabbit, woodchuck, chipmunk, weasel, skunk, raccoon, dan berjenis-jenis burung. Kita pun dapat menghadirkan satwa liar di seputar kita melalui pembinaan habitat serta pendidikan dan penyuluhan tentang cinta satwa.

Pelestarian spesies di hutan dan kawasan konservasi memang lebih dibebankan pada pemerintah melalui pengelolaan dan pengaturan yang bijak. Kita pun sebetulnya juga punya tugas penting: melestarikan apa yang ada di seputar kita agar dapat dipelajari sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik, seperti yang telah kita sepakati bersama dalam KTT Bumi tahun lalu: save it, study it, use it.

Ani M. Pakpahan, staf pengajar pada Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan IPB.

Sumber : Kompas, Kamis, 22 April 1993

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Data Berkualitas untuk Indonesia Maju

Inkonsistensi data merupakan salah satu isu data yang penting di Indonesia, yang disebabkan antara lain ...

%d blogger menyukai ini: