Home / Artikel / Pendidikan, Penelitian, dan Kebangsaan

Pendidikan, Penelitian, dan Kebangsaan

Kesadaran berbangsa erat kaitannya dengan pendidikan dan penelitian, dua bidang yang membutuhkan banyak pembenahan. Butuh strategi baru untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kembali dalam pendidikan dan penelitian.

Kesadaran kebangsaan kenyataannya tidak berdiri sendiri dan tidak bisa dipisahkan dari faktor lain dalam kehidupan bermasyarakat dari bidang ekonomi, budaya, hingga agama. Jiwa patriotisme terutama saat ini erat kaitannya dengan pendidikan dan penelitian.

Bagaimana pendidikan, baik formal maupun informal, dilaksanakan akan memengaruhi bagaimana cinta Tanah Air itu diwujudkan dan ditanamkan dari generasi ke generasi. Pendidikan itu sendiri pada era global yang penuh persaingan ini bergantung pada bagaimana penelitian itu digalakkan.

Kita sering mendengar teguran dari para pengamat dan visi pemimpin negeri ini bahwa pendidikan kita, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, membutuhkan banyak jurus pemecah kebuntuan. Jujur saja, materi pendidikan formal kita kadang kala terasa terpisah dari dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari. Target dan goal pendidikan kita sering terdengar terlalu muluk, dan karena itu membutuhkan upaya pembumian. Metode kelas terasa formal dan kurang dinamis.

Tidaklah sulit membayangkan, betapa berlebihnya beban mata pelajaran di kelas, bahkan setelah tingkat perguruan tinggi dengan sistem satuan kredit semester (SKS). Ini terasa benar jika dibandingkan dengan perguruan tinggi di Singapura atau Australia yang memilih jumlah pelajaran sedikit, tetapi lebih fokus dan mendalam.

Tentu universitas-universitas di Indonesia di semua kementerian tidak bisa mengurangi tugas-tugas itu secara mandiri karena regulasi dan peraturan yang ada berlaku secara nasional dan jelas. Jika kita impikan sebuah reformasi, strategi ini membutuhkan kearifan yang penuh tantangan, taktik yang bijak, dan langkah yang hati-hati sehingga tidak menimbulkan efek guncangan.

Salah satu yang kiranya perlu menjadi perhatian para pengambil kebijakan, pendidik, dan pemimpin lembaga semua lini adalah kecenderungan metode hafalan, doktriner, dan dogmatis. Porsi berpikir kritis, jiwa penelitian, petualangan, dan kemandirian masih perlu digenjot.

Perguruan tinggi menerima mahasiswa baru yang sudah terlatih dengan menghafal materi. Menanamkan jiwa berpikir logis, mandiri, merdeka, dan semangat untuk penelitian dan penemuan secara mendadak pada saat mahasiswa yang sudah selesai masa remajanya adalah beban yang terlalu berat. Maka kearifan dalam memilih strategi untuk reformasi pendidikan perlu pemikiran yang mendalam.

Para mahasiswa, bahkan yang sudah menjadi sarjana, kurang suka membaca. Rata-rata mereka tidak berusaha untuk memperluas bahan bacaan, dengan lemahnya minat untuk mencari hal-hal baru, tidak bersemangat untuk mengamati, dan maka mempunyai daya juang penelitian dan inovasi tidak tinggi. Banyak survei membuktikan bahwa minat baca bangsa Indonesia di titik bawah.

Benar bahwa penerbit di Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung terus memproduksi buku-buku populer. Namun, penulis baru tidak banyak tumbuh. Kita mudah menghafal di luar kepala para penulis lama dalam bidang tertentu, tetapi angkanya juga terus tergerus. Jika produksi tulisan tidak melimpah, dan kualitasnya juga mengulang-ulang, yang lebih memprihatinkan lagi adalah minat membaca. Buku-buku kita kekurangan pembaca.

Etika dan etos akademik
Penelitian kita belum ditopang oleh jiwa pencarian yang haus dengan penemuan dan inovasi. Penelitian kita masih sebatas formal dan mengarah pada langkah administrasi. Pada dasawarsa terakhir kabar baik memang nyata, meningkatnya kuantitas jurnal bereputasi di dalam negeri dan penerbitan artikel ilmiah di tingkat dunia dari para dosen di perguruan tinggi kita. Situs web seperti Sinta, Google, Scimago, dan Scival menunjukkan itu. Namun, perbaikan lebih lanjut membutuhkan perubahan etika dan etos akademik.

Jiwa nasionalisme kita dalam dunia pendidikan hendaknya ditunjukkan lewat karya nyata yang akan mengangkat bangsa ini di mata dunia. Cinta Tanah Air perlu dibuktikan dengan pemberdayaan sumber manusia yang sesungguhnya dalam dunia pendidikan melalui produksi pengetahuan, penelitian, dan inovasi yang bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Patriotisme ditumbuhkan tidak hanya dengan slogan dan doktrin. Kita saksikan sudah terlalu banyak dogma menghinggapi kehidupan masyarakat dan keagamaan kita. Budaya oral yang berlebihan banyak menutupi pengembangan potensi dan mengalahkan rasionalitas.

Cara berpikir kritis dan mandiri tempatnya terlalu sedikit di ruang publik. Semua perdebatan di media sosial didasari emosi dan semangat kelompok berlebihan serta tidak ada cek dan kontrol dengan pola pikir sehat. Yang berkembang bukan pengetahuan, tetapi pengetahuan yang semu (baca: pseudo-sains).

RISTEK/BRIN—-Perbandingan jumlah peneliti per satu juta penduduk.

Para cendekiawan dan pendidik Tanah Air kiranya bisa menangkap peluang dan menyiasati tantangan dalam kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2021, berupa peleburan empat lembaga dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yaitu Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Bagaimana kita bisa menanamkan nilai-nilai kebangsaan kembali dalam pendidikan dan penelitian dengan strategi baru? Tentu saja sekadar metode hafalan lima sila dan tafsir butir-butir yang telah dilakukan pemerintah Orde Baru secara doktriner, dogmatis, dan ideologis ada akhirnya, dan kita semua sudah belajar kelemahan-kelemahannya.

Al Makin, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Editor: YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 8 Juni 2021

Share
%d blogger menyukai ini: