Home / Artikel / Minyak Nabati Masa Depan

Minyak Nabati Masa Depan

Restoran cepat saji seperti Kentucky, Wendys, McDonald, dan sejenisnya, beberapa tahun terakhir ini mulai menggunakan minyak goreng yang disebut canola, kanola atau rapeseed oil. Bahkan McDonald sudah 100 persen menggunakan minyak kanola.

Kanola, tanaman semusim yang dibudidayakan di AS, Kanada serta beberapa negara Eropa, merupakan hasil silangan colza (sejenis kanola setempat di daratan Cina dan India, yaitu Brassica campestris dan Brassica napus), satu keluarga dengan kobis, kol bunga, sawi, patsai.

Bagi petani AS, tanaman kanola menjadi babak baru mereka. Apalagi kanola memberikan pertimbangan ekonomis yang luas, di antaranya:

  1. Hasil minyak kanola lebih tinggi daripada biji tanaman lain (lihat tabel)
  2. Harga minyak kanola hampir sama dengan minyak kedelai, minyak kapas dan minyak bunga matahari.
  3. Ampas biji kanola yang sudah diambil minyaknya, sangat baik untuk bahan pakan ternak dengan harga yang sama seperti ampas kedelai.
  4. Kandungan mikroba ampas kanola, juga jamur penghasil mikotoksin penyebab kanker hati ternak lebih sedikit dibanding ampas kacang tanah, kedelai ataupun kapas
  5. Budidaya kanola lebih mudah dan sederhana

Walau biji kanola sudah lama digunakan sebagai sumber minyak nabati, penggunaan secara langsung sebagai minyak goreng dan campuran dalam pembuatan makanan sangat terbatas. Di dalam minyaknya masih terkandung senyawa beracun dalam bentuk: asam erusik dan glukosinolat yang membahayakan kalau dimakan oleh manusia dan hewan ternak.

Namun demikian tanaman kanola yang sekarang banyak dibudidayakan terutama di AS, Kanada dan beberapa negara Eropa, merupakan hasil-silang.

Hasilnya kandungan senyawa berbahaya lebih rendah sehingga aman untuk dimakan manusia maupun ternak.
Di AS dan Kanada saja, tercatat lebih dari 10 lembaga dan perusahaan bibit tanaman yang terus menerus meneliti dan mengembangkan tanaman kanola untuk mendapat bentuk daan sifat pertumbuhan lebih baik, produksi lebih tinggi, kandungan senyawa berbahaya di dalam minyak lebih rendah dan aman dikonsumsi.

BIBIT unggul kanola yang dihasilkan Allelix untuk Frito-Lay (perusahaan raksasa AS dalam bidang minyak nabati) misalnya, kandungan asam oleik yang semula hanya 60 persen meningkat lebih baik menjadi 180 persen. Sedang kandungan linolik yang semula tinggi (10 persen) sekarang turun menjadl 3,5 persen saja. Menurut data USDA’s Federal Grain Inspection Service, kanola-kanola unggul yang sekarang banyak dibudidayakan di AS memiliki kandungan kimia yang sangat aman, antara lain minyak erusik maksimum 2 persen dan glukosinolat hanya 30 mikromal/g.

Yang paling menggembirakan, kalau selama ini minyak nabati dituduh sebagai penyebab peningkatan kolesterol pada manusia, ternyata pada biji kanola unggul kandungan asam lemak saturated yang tadinya 6 persen sekarang meningkat menjadi 10 persen hingga aman untuk pemakannya.

Dengan alas an-alasan inilah banyak perusahaan makanan jadi mulai mengalihkan penggunaan minyak nabati yang semua dari kedelai, kapas, kacang tanah dan sebagainya, ke kanola.

Bagi AS sendiri, karena produksi minyak kanola masih terbatas sedangkan permintaan pasar terus meningkat, setiap tahun harus mengimpor antara lain dari Kanada. Masyarakat AS saat ini merupakan pangsa pasar yang potensial untuk produk kanola, mulai dari minyak sampai ampasnya.

Tim peneliti dari Universitas Idaho, AS, bahkah meneliti banyak kanola sebagai bahan bakar untuk mesin diesel. Dengan nama biodiesel tim Idaho sudah berhasil menggunakannya untuk uji coba 1000 jam mesin diesel, hasilnya memuaskan.

Bagaimana kemungkinan budidaya tanaman kanola di Indonesia?

Walau masih permulaan, uji coba penanaman (belum pembudidayaan) di beberapa tempat sekitar Lembang dan Cisarua, Kabupaten Bandung sudah dimulai sejak beberapa tahun ini.

Dengan ketinggian batang tanaman 30-40 cm, Sama dengan ketinggian batang sawi atau petsai, sudah beberapa kali panen biji. Walau secara agronomis belum layak untuk dikatakan berhasil karena memerlukan waktu dan terkait dengan varietas yang cocok, faktor lingkungan (iklim kelembabm), dan jenis tanah.

Yang pasti, bukannya tdak mungkin membudidayakan kanola di Indonesia. Soalnya keluarganya seperti sawi, petsai, kubis, dan sebagainya sudah bisa ditanam petani sayuran di Lembang, Pengalengan, maupun kawasan Puncak.

(H Unus Suriawiria, dosen senior ITB, mendalami bioteknologi dan agroindustri)
Sumber: Kompas, Selasa, 14 Juli 1998

Perbandingan Hasil Minyak

Jenis tanaman

% minyak

Penggunaan

1. Bunga matahari 32 – 45 Minyak goreng, margarine, bahan obat-obatan, campuran salads, dsb
2. Kacang kedelai 21 – 26 Minyak goreng, margarine, campuran salads, obat-obatan, dsb
3. Kanola 40 – 45 Minyak goreng, margarine, campuran salads, juga untuk minya pelumas dan pembuatan bahan bakar diesel (biodiesel)
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: