Delapan puluh delapan tahun lalu, 17 tahun sebelum Indonesia merdeka, puluhan pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda di Jakarta. Mereka membangun kesadaran ”berbeda tetapi satu”, yang ampuh mengawal perjalanan bangsa yang merdeka kemudian. Kini, meneropong masa depan, para peneliti berprestasi percaya kebangkitan bangsa, di antaranya melalui sains.
Tengoklah betapa banyak pelajar meraih pencapajan terbaik dalam kompetisi internasional. Mereka menjadi kampiun.
Sebagian di antara mereka kini duduk di kampus-kampus terbaik di sejumlah negara maju. Ada, juga yang menjadi peneliti termasuk di Lembah Silikon, AS, ”gudang” industri berbasis teknologi, seperti komputer dan semikonduktor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti dikatakan para peneliti dengan jejaring lintas negara, akan menjadi penentu daya saing global. Beberapa isu besar kini menjadi ”bahasa” global: kecukupan pangan, energi, dan obat-obatan.
Dalam konteks pangan, energi, dan obat-pbatan, sumber daya alam Tanah Air sangatlah menjanjikan. Kekayaan hayati Indonesia menjadi buruan para peneliti, di antaranya dari AS, Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, dan Tiongkok. Kekayaan alam ini menjadi surga riset.
”Kita bisa optimistis menjadi negara maju, bukan berkembang lagi. Pesimistisnya, jika yang sudah ditata tidak didukung kebijakan,”kata Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) Eniya Listiani Dewi di Jakarta, Rabu (19/10). Eniya, pakar bidang bahan komposit, dikukuhkan sebagai profesor riset pada Desember 2015.
Peraih Habibie Award tahun 2010 itu menekuni sel bahan bakar (fuel cell), menghasilkan energi dengan bahan bakar hidrogen ramah lingkungan karena limbahnya air murni. Sejak lulus SMA, sepuluh tahun ia belajar kimia terapan di Jepang lewat beasiswa program Science and Technology Advance Industrial Development Kementerian Negara Riset dan TeknoIogi, semasa dipimpin BJ Habibie.
Sejak menjabat, perempuan 42 tahun itu menuntut peneliti di kedeputiannya bekerja keras agar riset menghasilkan produk komersial. ”Saya bangga karena peneliti TAB menghasilkan lima royalti tahun ini,” tutur Eniya.
Tim peneliti obat herbal menyalurkan hasil riset ke PT Deltomed Laboratories guna memproduksi obat herbal terstandar (OHT) anti kolesterol, ”Lipidcare”. Salah satu bahan bakunya labu Siam (Sechium edule). Tim lain menyalurkan inovasi formula OHT ”Fitoestrogen” berbahan kelabat (Trigonella foenum-graecum L), kepada PT Indofarma. Obat itu menyeimbangkan siklus hormonal wanita, mengobati penyakit degeneratif, dan kosmetika alami.
BPPT juga mentransfer teknologi produksi garam farmasi ke PT Kimia Farma, yang berlanjut ke pembanguan pabrik berkapasitas 2.000 ton per tahun di Jombang, Jawa Timur. Garam farmasi bahan baku infus, cuci darah, dan obat lain.
”Tahun 2045 (100 tahun Indonesia merdeka), Indonesia akan dibanjiri produk obat berbahan herbal, produksi anak bangsa, dengan bahan alam asli Indonesia,” ujarnya. Saat itu pula, mayoritas bahan baku obat disediakan industri dalam negeri. Sekarang, lebih dari 90 persen bahan baku obat masih diimpor.
Selain itu, BPPT juga meneken kontrak kerja sama dengan PT Sari Alam Nusantara yang akan memproduksi beras sagu yang berdasar teknologi yang dikembangkan BPPT.
Di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), para peneliti bioteknologi bekerja sama dengan Jepang dalam proyek Innovative Bio-Production in Indonesia (iBioI). Mereka membangun biokilang terpadu untuk mendorong pemanfaatan biomassa menggunakan mikroba super, dalam memproduksi bahan bakar nabati dan biokimia.
Nantinya, seperti dipaparkan manajer proyek iBioI, Yopi Sunarya, pemanfaatan mikroba unggul dalam proyek itu juga bisa menghasilkan bioplastik dan biokimia untuk bahan pangan, obat, dan bahan bangunan (Kompas, 15/3).
Terkait manfaat ekonomi produk berbasis mikroba, hal itu dapat dilihat pada pasar global produksi biokatalis atau enzim berbasis mikroba yang mencapai 4 miliar-5 miliar dollar AS pada 2015. Biokatalis dibutuhkan di bidang pangan, obat, dan energi.
Puspita Lisdiyanti, peneliti senior pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, optimistis dengan masa depan riset di tahun 2045. Syaratnya, seluruh pemangku kepentingan satu visi dan konsisten. “Itu kalau kita mau maju,” ujar ilmuwan yang lama belajar di Jepang itu.
Pada bidang antibiotik, kata Puspita segmen pasar saat ini lebih dari 55 miliar dollar AS. Industri bioteknologi berbasis mikroba dikuasai Jepang, Jerman, Tiongkok, dan India. Mereka menyadari masa depan ekonomi dunia yang berbasis pada kekayaan hayati yang diolah (bioresources).
Di tengah optimisme itu, keberpihakan dan visi riset pemerintah disoal. Para pemangku kepentingan mungkin sepaham bahwa riset bahan bakar terkendala pertumbuhan ekonomi. ”Yang kurang, bukti keberpihakannya,” kata Koordinator Sains dan Masyarakat Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (Almi) Roby Muhammad, yang mendalami ilmu sosial komputasi. Almi beranggotakan 40 peneliti dari berbagai latar belakang keilmuan dengan publikasi internasional dan memiliki jejaring global.
Menyelesaikan studi strata 1 dan strata 2 bidang fisika di Institut Teknologi Bandung, Roby melanjutkan studi doktor bidang sosiologi di Universitas Columbia, AS. Ia melihat, riset masa depan adalah riset sinergis, tidak mengotak-kotakkan. Ia kini terlibat riset pengembangan program yang bisa menyaring konten negatif di media sosial. Kajiannya, bagaimana menjejak penyebaran berita bohong (hoax) dan fitnah agar tak menyebar ke banyak gawai pintar yang memicu konflik di masyarakat.
Berbekal keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia pilihan, Indonesia sebenarnya mempunyai masa depan gemilang. Jika saja visi dan misi pemerintah sejalan dengan upaya menjadikan riset sebagai bahan bakar pembangunan, 100 tahun kemerdekaan RI adalah kisah tentang bangsa maju. (GALUH BIMANTARA/ GESIT ARIYANTO)
Sumber: Kompas, 28 Oktober 2016