Mengkritisi Sains Pengalih Perhatian

- Editor

Rabu, 13 Juni 2012

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konflik kepentingan bukan hanya monopoli politik. Urusan yang satu ini juga menggerus otoritas ilmiah, seperti yang terungkap dalam buku The Cigarette Century: The Rise, Fall, and Deadly Persistence of the Product that Defined America. Ditulis oleh Prof Allan M Brandt, Dekan Sekolah Pascasarjana Seni dan Sains Universitas Harvard, tahun 2007, isinya menyoroti kontroversi industri rokok dan apa yang disebut diversionary science atau sains untuk mengalihkan perhatian.

Kontroversi sains memang banyak contohnya. Yang pernah populer di dunia medis Indonesia, misalnya, terapi air seni dan terapi khelasi dengan EDTA untuk mengikat radikal bebas. Akan tetapi, sampai hari ini sebenarnya ilmuwan juga belum bersepakat dalam banyak hal, termasuk keamanan tanaman transgenik. Bisa dimaklumi jika diskusi tentang bahaya rokok juga berlarut.

Bedanya, kontroversi rokok melibatkan dana yang tak terbatas karena didukung oleh industri besar. Maka, muncullah apa yang disebut Brandt sebagai argumen ”pesanan”. Argumen ini biasanya didukung dengan data-data yang seolah sudah teruji, padahal belum diterima dalam komunitas ilmiah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak berubah

Hampir 20 tahun lalu, dalam laporan yang berjudul ”Industri Rokok Mulai Lancarkan Kampanye Tandingan” (Kompas, 13/9/1992), saya mengutip pendapat Prof Ian Hindmarch, pakar psikofarmakologi manusia Universitas Surrey, Inggris. Ia mengatakan, ”Untuk mengatasi stres, silakan merokok. Merokok bisa mengurangi kelelahan, ketegangan, dan nikmat rasanya. Sebagai obat antiansietas dan hipnotik, nikotin lebih baik dibandingkan obat-obat penenang.”

Dalam acara Far East Media Briefing on Smoking Issues yang diadakan PT BAT Indonesia di Nusa Dua, Bali, awal September 1992, Hindmarch juga menyebutkan bahwa nikotin memperbaiki daya refleks bagi perokok yang mengendarai mobil karena kemampuannya mengerem mendadak lebih baik daripada orang yang tidak merokok.

Dapat diduga, acara yang diikuti para wartawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Hongkong itu merupakan kampanye tandingan agar media dan wartawan tidak mudah percaya pada tudingan kalangan medis bahwa nikotin itu adiktif dan bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, baik pada perokok aktif maupun pasif. Inilah sains untuk mengalihkan perhatian, persis seperti yang dikatakan Brandt, alat utama industri rokok untuk menangkal isu bahaya nikotin dan asap rokok lingkungan.

Selain Hindmarch, masih ada beberapa pakar yang didatangkan BAT dari Amerika Serikat dan Inggris. Salah satunya adalah Prof Philip Witorsch, dokter pakar paru di Universitas George Washington, yang menafikan atau mengecilkan bahaya asap rokok, termasuk asap rokok lingkungan (environmental tobacco smoke/ETS atau secondhand smoke) di ruang tertutup bagi bukan perokok.

Munculnya isu ETS dan passive smoking memang membuat takut industri rokok AS. Mereka khawatir akan muncul banyak reaksi dari masyarakat awam dan memperkuat alasan pemerintah negara bagian ataupun federal untuk mengatur kawasan bebas rokok.

Benar saja, karena ETS resmi terbukti menimbulkan kanker paru dan menewaskan ribuan non-perokok yang terpaksa menjadi perokok pasif (involuntary smokers). Industri rokok AS yang selama satu abad berjaya di negeri itu akhirnya dijatuhi vonis membayar ganti rugi miliaran dollar AS kepada korban-korban perokok aktif dan pasif, termasuk kru pesawat terbang dan pekerja di tempat-tempat hiburan.

Industri rokok AS juga diwajibkan mengirimkan semua dokumen rahasia internal mereka ke negara dan kini dokumen-dokumen itu dapat diakses siapa pun. ”Inilah salah satu ironi terbesar dalam sejarah perusahaan modern,” tulis Brandt.

Dalam berbagai pengadilan negara bagian ataupun federal AS pada dekade 1980-1990-an juga terbukti bahwa industri-industri rokok AS melakukan pembohongan publik, terutama menyangkut tiga isu: bahwa nikotin bersifat adiktif,

asap rokok lingkungan dapat membahayakan dan mematikan perokok pasif, serta upaya membidik pasar perokok muda.

Ternyata, sampai kini persoalan tidak berubah. Bedanya, medan dan arena peperangan terhadap pro-kontra rokok dialihkan industri rokok AS dan multinasional lain ke negara-negara yang lemah hukumnya, termasuk Indonesia. Sepintas terjadi aliran modal asing ke industri nasional, tetapi sebenarnya kepentingannya tetap sama: dikonsumsi sebanyak mungkin oleh warga Indonesia.

Terbelah dua

Yang lebih menyedihkan, masyarakat Indonesia dalam isu rokok terbelah menjadi dua kubu, pro-kontra. Kita bisa menyaksikan berbagai judul buku pro-kontra rokok, termasuk yang dapat digolongkan sebagai sains untuk pengalih perhatian, yang mengangkat ”inovasi” terapi balur dan pengasapan dengan asap rokok kretek untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Mantan Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Kartono Mohamad menyatakan bahwa ”inovasi” itu bukanlah sains dan kalau digunakan untuk menerapi manusia perlu bukti ilmiah serta harus diawasi IDI ataupun pemerintah. Ketua PB IDI saat ini, dr Prijo Sidipratomo, ketika dihubungi, kemarin, menyatakan, ia sudah pernah memanggil penulis buku tersebut ke Kantor IDI Pusat tahun 2011.

Dalam acara yang juga dihadiri Prof Dr Sangkot Marzuki, pakar biologi molekuler dan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), muncul rekomendasi untuk memublikasikan temuan itu di jurnal-jurnal ilmiah dan AIPI bersedia membantu.

Sayang, publikasi di jurnal ilmiah ini tak pernah muncul. Yang terjadi justru terus berlanjutnya kebijakan yang membebaskan promosi dan iklan masif industri rokok. Akibatnya, jumlah perokok di kalangan remaja dan anak-anak di Indonesia terus meningkat menjadi jutaan orang. Barangkali, inilah kemenangan diversionary science. (IRWAN JULIANTO)

Sumber: Kompas, 13 Juni 2012

Informasi terkait

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Berita ini 11 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Senin, 27 Juli 2026 - 18:53 WIB

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Berita Terbaru

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB

Artikel

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Senin, 27 Jul 2026 - 18:53 WIB

Berita

Terkubur untuk Hidup

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:20 WIB

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB