Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

- Editor

Senin, 13 November 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendidikan menjadi hal utama bagi keluarga Prof. Dr. Bambang Hariyadi. Meski berasal dari keluarga kurang mapan secara finansial, semangat untuk mengenyam pendidikan sangat luar biasa.

Keinginannya mengenyam pendidikan patut dicontoh generasi muda. Walaupun dari keluarga kurang mampu, keinginan Bambang untuk menempuh studi hingga perguruan tinggi tidak pernah surut. Persoalan ekonomi bukan penghambat meraih cita-cita.

Selain karena kegigihannya untuk terus giat belajar, motivasi dari kekuarga menjadi modal utama meraih kesuksesan. Warga Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, itu tidak menyangka kini dinobatkan sebagai guru besar di Universitas Trunojoyo Madura (UTM). ”Nasihat orang tua yang selalu saya pegang teguh untuk melanjutkan studi,” ucapnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

BERSAHAJA: Prof. Dr. Bambang Hariyadi saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/10). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)

Alumnus SMAN 1 Pamekasan itu tergolong sosok jenius. Indikasinya, saat menempuh pendidikan di tingkat SMA, dia selalu berprestasi. Baginya, semua itu tidak terlepas dari peran penting guru yang telah telaten mendidiknya dengan tulus.

Setelah lulus dari SMAN 1 Pamekasan, Bambang memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Pada 1992, dia mendaftar di Universitas Brawijaya (UB) Malang melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). ”Alhamdulillah saat itu diterima di UB Malang. Saat itu bersamaan juga diterima di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang,” kenangnya.

Perjuangan Bambang dimulai saat menapakkan kaki di UB. Saat itu, dia harus berpikir keras untuk menghasilkan cuan. Sebab, dia berkeinginan kuliah tanpa membebani keluarga. Akhirnya, dia memutuskan kuliah sambil berjualan batik asli Pamekasan. Itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sembari mencari peluang beasiswa kala itu.

Sejak kuliah hingga sukses menyandang gelar doktor, dia tidak mengeluarkan biaya kuliah karena berhasil mendapatkan beasiswa. Selain karena kegigihannya untuk menambah ilmu, dia menyatakan bahwa doa tulus kedua orang tuanyalah yang mengantarkannya bisa sukses seperti sekarang.

”Saya bermimpi untuk menjadi inspirasi di keluarga. Apalagi, saat itu saya merupakan satu-satunya orang yang berhasil menyandang gelar sarjana. Alhamdulillah, setelah itu banyak kerabat saya yang kuliah,” ucapnya.

Sejak kuliah di UB Malang, Bambang memilih berteman dengan orang yang dianggap lebih pintar darinya. Saat menyandang predikat S-1, dia sudah berteman dengan orang-orang yang sudah kuliah magister. Saat kuliah magister, Bambang berteman dengan para doktor. ”Saya menargetkan bisa menjadi seorang profesor pada usia 50 tahun. Saat berusia 47 tahun, saya mulai merintis dan membuat berbagai karya tulis. Alhamdulillah qadarullah, akhirnya terwujud,” ucapnya.

Guru besar di bidang akuntansi itu menaruh harapan besar bagi anak didiknya dan kaum remaja untuk tidak mudah menyerah. Apalagi, takut dengan kondisi kehidupan yang dijalani. ”Yakinlah bahwa setiap keinginan yang disertai dengan niat lillah akan selalu diberi jalan oleh Allah. Jika ada kemauan, lakukan saja. Insyaallah pasti ada jalan,” sambungnya.

Pemikiran yang telah dihasilkan Bambang di bidang akuntansi keuangan salah satunya adalah pemakna kinerja perusahaan. Dia menemukan alat bernama Political Ekonomy of Shariah Accounting (Pesa). Dalam karyanya itu, dia ingin membuktikan bahwa penilaian kinerja perusahaan juga dilihat dari berbagai perspektif. Misalnya, dari perspektif keadilan.

”Selain itu, saya mengkritisi penyusunan laporan keuangan yang dipaksa untuk diseragamkan. Misalnya, standar akuntansi yang harus disepadankan, baik itu di masjid, yayasan, UMKM, maupun BUMDes,” katanya.

Bagi Bambang, semestinya laporan keuangan itu disederhanakan berbasis kearifan lokal di setiap daerah. ”Tujuannya, memudahkan masyarakat dalam penyusunan laporan keuangan,” terangnya.

Ina Herdiyana

Sumber: RadarMadura.id, Rabu, 25 Oktober 2023

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Masalah Keagenan Pembiayaan Usaha Mikro pada Baitul Maal wa Tamwil di Indonesia
Perkembangan Hidup, Teknologi dan Agama
Jembatan antara Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Manusia dalam Al-Qur’an
AI di Mata Korporasi, Akademisi, dan Pemerintah
Ancaman AI untuk Peradaban Manusia
Tingkatkan Produktivitas dengan Kecerdasan Artifisial
Menilik Pengaruh Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan
Daftar Peraih Nobel 2024 beserta Karyanya, Ada Bapak AI-Novelis Asal Korsel
Berita ini 65 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 16 Februari 2025 - 09:06 WIB

Masalah Keagenan Pembiayaan Usaha Mikro pada Baitul Maal wa Tamwil di Indonesia

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:57 WIB

Perkembangan Hidup, Teknologi dan Agama

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:52 WIB

Jembatan antara Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Manusia dalam Al-Qur’an

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:48 WIB

AI di Mata Korporasi, Akademisi, dan Pemerintah

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:44 WIB

Ancaman AI untuk Peradaban Manusia

Berita Terbaru

Berita

Perkembangan Hidup, Teknologi dan Agama

Minggu, 16 Feb 2025 - 08:57 WIB

Berita

AI di Mata Korporasi, Akademisi, dan Pemerintah

Minggu, 16 Feb 2025 - 08:48 WIB

Berita

Ancaman AI untuk Peradaban Manusia

Minggu, 16 Feb 2025 - 08:44 WIB