Home / Artikel / Mendeteksi Dini Hipoksia Senyap

Mendeteksi Dini Hipoksia Senyap

Covid-19 menjadi mesin pembunuh yang luar biasa, dengan menarget organ paru-paru. Karena begitu banyak pasien tak pergi ke RS sampai pneumonia mereka berkembang dengan sangat berat dan membutuhkan bantuan ventilator.

Perkembangan Covid-19 terus berbiak ke fenomena baru yang kian penuh tantangan. Diberitakan, ada tiga pasien tampak tanpa gejala di Banyumas yang tiba-tiba meninggal.

Menurut keterangan Bupati Banyumas Achmad Husein, sebelum meninggal ketiganya nampak gembira saja, tak mengalami gejala batuk, flu dan panas seperti pasien Covid-19 lazimnya. Tetapi saturasi oksigennya (persentase sel darah merah yang mengikat oksigen) terus menurun, hingga akhirnya gagal bernapas. Pemeriksaan kemudian mengonfirmasi ketiganya positif Covid-19. Inilah yang kemudian ramai disebut sindrom “happy hipoxia”.

Sindrom ini dikabarkan banyak menimpa pasien Covid-19 meskipun sebelum pandemi hal ini dapat dijumpai juga seperti pada kasus infeksi paru lain, atelektasis, dan pirau intrapulmoner. Namun ini menjadi booming karena di latar belakangi pandemi Covid-19 saat ini.

Intinya, sindrom ini mengecoh orang yang terpapar, seolah tidak ada masalah pada pernapasan, dan tampak sehat-sehat saja. Namun kemudian situasi berubah drastis, pasien tiba-tiba kesulitan bernapas dan dalam sekejap gagal bernapas hingga kematian menjemput.

Wajar bila media secara hiperbolik ikut menggencarkan istilah “happy hipoxia”. Yakni, kondisi orang mengalami hipoxia atau kekurangan oksigen, tetapi seolah tetap merasa happy atau baik-baik saja. Penderita tak merasa mengalami masalah, padahal nyawanya terancam.

Kalangan medis sudah jauh sebelumnya menyatakan ancaman ini dengan sebutan yang lebih realistis, yaitu “silent hipoxia” (hipoksia tersembunyi atau hipoksia senyap). Istilah silent merujuk pada tak adanya gejala sesak dengan kondisi tubuh yang hipoksia, walau disertai gejala lain seperti panas dan batuk pilek.

Bagaimana pasien Covid-19 mengalami “hipoksia senyap” ini? Seperti diketahui, Covid-19 sangat dominan menyerang sel pernapasan. Bentuk berat dari infeksi saluran napas ini adalah pneumonia (radang paru-paru). Pneumonia yang diakibatkan oleh Covid-19 ini berjalan sangat cepat dan sering berakibat fatal, terutama pada kelompok rentan seperti mereka yang sebelumnya memiliki penyakit penyerta (komorbid) apalagi di antara mereka yang masuk kelompok manula. Mulanya mereka tak merasa terjadi apa-apa, menjadi sedemikian cepat, ganas, dan mengecoh.

Perubahan drastis ini terjadi dalam jangka sering kurang dari seminggu. Sampai-sampai pasien tak menyadari bahwa dirinya sedang terkena serangan hebat dan radang parunya sudah masuk kategori berat. Serangannya bisa terasa sangat tiba-tiba dan langsung sesak napas berat. Dokter pun tidak punya banyak kesempatan untuk mempertahankan pasien agar bisa bernapas.

Menentang biologi dasar
Secara umum, pengertian hipoksia adalah kondisi seseorang kekurangan oksigen pada jaringan tubuhnya (saturasi oksigen kurang dari 90 persen), salah satunya bisa akibat pengaruh perbedaan ketinggian. Ini bisa dialami oleh pendaki gunung yang sangat tinggi yang oksigennya menipis, tetapi belum melakukan persiapan dan penyesuaian tubuh (aklimatisasi). Pada kasus yang fatal bisa berakibat koma, bahkan sampai kematian. Namun, jika kemudian pendaki dibawa ke tempat yang lebih rendah, berangsur tubuhnya akan normal kembali.

Kondisi seperti ini juga bisa terjadi saat seseorang terkena radang paru karena Covid-19. Radang paru karena Covid-19 ini varian baru dari radang paru yang sudah ada selama ini. Fenomena ini banyak dilaporkan sebagian besar rumah sakit yang banyak dari pasien gawatnya terkena radang Covid-19.

Ada yang menarik, banyak pasien yang “tidak merasakan” keluhan pernapasan, tetapi ternyata terkena radang paru Covid-19. Varian kasusnya bisa bermacam-macam. Ada pasien dengan hasil rontgen paru yang awalnya menunjukkan radang ringan, tetapi hanya dalam hitungan hari berubah drastis. Begitu di-rontgen ulang beberapa hari kemudian, nampak radang parunya sudah sangat berat.

Contoh lain, ada pasien dilakukan CT scan untuk memeriksa lukanya akibat jatuh. Hasil CT scan ternyata juga menunjukkan ada radang paru. Ada lagi, pasien lanjut usia yang pingsan tanpa diketahui sebabnya, dan pasien lain pengidap diabetes. Saat keduanya diperiksa dan dirontgen dadanya, ternyata keduanya terkena Covid-19. Yang mengejutkan, mereka umumnya tak melaporkan keluhan pernapasan, meskipun kadar oksigen dalam darahnya di bawah normal.

Ini semua menggambarkan keunikan radang paru karena Covid-19, yang sebelumnya relatif tak terjadi pada gejala radang paru selama ini. Bagaimana itu semua bisa terjadi? Secara umum, pneumonia adalah infeksi paru-paru, kantung udara terisi dengan cairan atau nanah. Pasien mengalami nyeri dada dan sesak napas. Tetapi pada kasus pneumonia karena Covid-19, awalnya pasien tak merasa sesak napas. Pada tubuh normal dan sehat, saturasi oksigen dalam sel dan jaringan tubuh berkisar 95-100 persen.

Jika kadar oksigen drop sampai di bawah 90 persen, secara umum seseorang akan mulai merasa sesak napas. Jika drop sampai 50 persen, makin berat sesak napasnya. Tetapi anehnya, pada kasus Covid-19, saat kadar oksigennya drop hingga di bawah 90 persen, bahkan sampai 50 persen pun, belum merasakan keluhan sesak napas sehingga tak sadar dan tak merasa terkena radang paru.

Ketika akhirnya diperiksa ke dokter, radang parunya sudah pada tingkat gawat. Sebuah studi yang diterbitkan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine seperti dikutip CNN Indonesia mengulas sindrom silent hipoxia ini. Menurut Martin J Tobin, dokter spesialis paru yang juga penulis studi itu, sindrom ini membingungkan banyak dokter, karena bertentangan dengan konsep biologi dasar. Dalam beberapa kasus, pasien tak merasakan sesak napas, tak terganggu aktivitasnya. Saat saturasi oksigen drop, alarm di otak tidak merespons sampai oksigen ke level yang sangat rendah yang sangat membahayakan.

Dari berbagai laporan, mereka yang kena pneumonia Covid-19 mengalami demam, batuk, sakit perut dan kelelahan, sampai akhirnya sudah dalam kondisi kritis kehabisan napas saat datang RS.

Alasan mengapa banyak pasien Covid-19 meninggal mendadak padahal sebelumnya tak merasa sesak napas (silent hypoxia), sampai saat ini belum jelas.

Secara fisiologi, di dalam tubuh manusia terdapat suatu sistem keseimbangan yang berperan dalam menjaga fungsi fisiologis tubuh untuk beradaptasi. Termasuk, beradaptasi terhadap perubahan ketinggian yang tiba-tiba.

Jika seseorang yang bertempat tinggal di Jakarta dengan ketinggian lima meter dari permukaan laut lalu pergi naik pesawat dengan ketinggian 9.000 meter dari permukaan laut, maka setelah mendarat bisa terasa pusing, mual, dan telinga berdengung seperti tertutup udara. Tetapi kondisi ini segera berangsur normal kembali setelah beradaptasi.

Oleh karena itu, kasus hipoksia ini tidak terjadi pada orang yang sudah terbiasa hidup di dataran tinggi. Sedangkan untuk pendaki gunung, diperlukan pos-pos pemberhentian agar tubuh bisa beradaptasi dengan makin tipisnya kandungan oksigen di udara.

Berdasarkan asas Le-Chatelier, dengan berkurangnya gas oksigen berarti keseimbangan akan bergeser ke kiri, dan berakibat kadar HbO2 (haemoglobin, sel darah merah) di dalam darah menurun. Akibatnya, suplai oksigen ke seluruh jaringan akan berkurang. Inilah yang mengakibatkan terjadinya rasa mual, pusing, telinga berdengung, dan perasaan tidak enak pada tubuh.

Kondisi ini membawa tubuh beradaptasi dengan memproduksi haemoglobin sebanyak-banyaknya. Dengan meningkatnya konsentrasi haemoglobin, akan menggeser kesetimbangan kembali ke kanan dan HbO2 akan meningkat kembali seperti semula. Penyesuaian ini berlangsung sekitar 2-3 minggu. Rata-rata penduduk yang tinggal di dataran tinggi memiliki kadar haemoglobin lebih tinggi dibanding penduduk yang tinggal di dataran rendah.

Bagaimana jika paru-paru terserang virus Covid-19? Ada sel-sel paru yang memproduksi surfaktan, zat penting yang membantu alveoli (kantung udara) tetap terbuka saat kita mengembus napas. Saat virus Covid-19 menginfeksi paru hingga mengakibatkan radang, pada semua komponen paru termasuk surfaktan itu. Mengingat peran surfaktan yang penting sehingga bila surfaktan musnah, kantung udara mengempis, dan kadar oksigen turun drastis atau drop.

Kita bernapas menyerap O2 (oksigen), dan mengeluarkan CO2 (karbondioksida) dengan kemampuan CO2 keluar adalah 20 kali lebih mudah dari masuknya O2. Secara alamiah respons alarm berupa sesak distimulasi oleh sensor di otak yang mendeteksi tingginya konsentrasi CO2 bukan O2. Pada awal periode serangan Covid-19, kondisi paru-paru masih belum berubah, seperti normal yaitu CO2 masih bisa dikeluarkan namun masuknya O2 sudah mulai terganggu (menuju hipoksia).

Kondisi CO2 yang masih rendah tak mengakibatkan respons sesak napas. Pasien tetap merasa normal dan nyaman. Inilah kondisi palsu yang mengecoh. Tanpa disadari, rupanya tubuh diam-diam menoleransi kondisi kadar oksigen dalam darah yang drop ini. Terjadilah “silent hypoxia” atau hipoksia senyap.

Kondisi ini berlanjut, makin banyak kantung udara yang kempis, radang paru makin parah hingga berdampak pada terganggunya jalur pengeluaran CO2 dan disertai anjloknya saturasi oksigen ke level sangat rendah (kurang dari 50 persen). Saat itulah pasien mulai merasakan sesak dengan terganggunya organ tubuh yang lebih parah. Pasien akhirnya akan bernapas lebih keras dan lebih dalam untuk menyedot oksigen yang sangat kurang dengan kondisi CO2 yang akhirnya sudah sangat menumpuk sekali.

Sayangnya kondisi itu sudah sangat terlambat dan membuat usaha napas bantuan sia-sia. Kondisi semakin parah, cairan menumpuk dan paru-paru menjadi kaku, CO2 menumpuk karena tak bisa dikeluarkan semua, hingga pasien gagal napas akut karena kadar oksigennya sangat rendah dan berbahaya. Akhirnya pasien butuh ventilator.

Dari banyak laporan, penggunaan ventilator ini tak banyak membantu pada pasien yang sudah sampai tahap akut. Inilah kemungkinan yang menjelaskan, mengapa banyak pasien Covid-19 meninggal mendadak, padahal sebelumnya tak merasakan keluhan sesak napas. Hipoksia senyap, yang semula kurang dirasakan, berkembang cepat menjadi gagal napas.

Deteksi mudah oksimetri
Covid-19 menjadi mesin pembunuh yang luar biasa, dengan menarget organ paru-paru. Karena begitu banyak pasien tak pergi ke RS sampai pneumonia mereka sudah berkembang dengan sangat berat, banyak yang berakhir dengan ventilator. Inilah mengapa banyak RS kedodoran karena kekurangan ventilator. Pasien secara darurat datang ke RS ketika paru-parunya sudah sangat kepayahan.

Dari penjelasan di atas, maka metode sederhana untuk mengidentifikasi kecurigaan secara dini pasien Covid-19 bergejala seperti panas, batuk pilek, diare adalah dengan memantau saturasi oksigen dan denyut nadi, dengan oksimetri (oximeters). Ini cara identifikasi awal, sambil menunggu tes PCR (polymerase chain reaction), yang dinilai akurat mendeteksi Covid-19. Oksimetri ditempatkan di ujung jari untuk mengukur kadar oksigen dan peningkatan detak jantung.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang pernah positif Covid-19, menggunakan alat sederhana ini untuk memantau kondisi detak jantung dan pernapasannya. Cara sederhana ini bisa membantu menyelamatkan pasien sekaligus mengefisienkan sistem manajemen RS dalam penanganan klinik.

Oksimetri, yang bisa didapat di apotek, bisa menjadi alat sederhana tapi efektif untuk memonitor secara mandiri kemungkinan terkena hipoksia, sebelum diperlukan ke RS. Cara deteksi dini ini, akan menghindari ketergantungan pada penggunaan mesin bantu pernapasan atau ventilator setiap saat. Di tengah kondisi terus memantau angka penderita positif Covid-19, baik bergejala maupun tanpa gejala, semakin mendesak adanya peringatan dini untuk keselamatan diri dan orang-orang di sekitar kita.

Djoko Santoso, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Sumber: Kompas, 15 September 2020

Share
x

Check Also

Menyoal Kenetralan Pendidikan

Riset pendidikan matematika telah mengungkapkan secara jelas bahwa mengajar matematika merupakan ”highly political act” atau ...

%d blogger menyukai ini: