Home / Artikel / Mencari Teman di Alam Semesta

Mencari Teman di Alam Semesta

Catatan Iptek
Manusia sudah berabad-abad merindukan kehadiran makhluk lain di semesta. Seiring dengan perkembangan peradaban, lahirlah mitos-mitos kehidupan di awan.

Dari masyarakat Maya, Romawi dan Yunani kuno, Mesir, India, China, bahkan juga Nusantara, selalu ada kisah tentang dewa- dewi penghuni langit. Mereka bisa tinggal di Mars, Venus, Jupiter, atau Bulan yang paling banyak hikayatnya.

Suku Maya mengenal dewi Bulan bernama Ixchel, orang Romawi dan Yunani menyebutnya Selene, atau Chang’e menurut kepercayaan China kuno, dan Rona menurut kepercayaan suku Maori di Selandia Baru. Meski manusia berhasil mendarat di Bulan dan membuktikan semua itu mitos belaka, orang tetap memandang Bulan sebagai sumber cinta dan kesuburan.

Namun, kemudian orang juga paham, butuh banyak persyaratan agar ada makhluk hidup di planet lain seperti di Bumi. Atmosfer, air, suhu, dan periode orbit pendek adalah di antaranya. Oleh karena itu, manusia—karena percaya tidak sendirian di semesta—mengarahkan pencarian ke planet-planet lain dalam galaksi Bimasakti, bahkan ke sistem tata surya lain.

Badan Aeronautika dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) adalah yang paling aktif mengeksplorasi. Tahun 1992, misalnya, NASA mengoperasikan teleskop radio berdaya tinggi di observatorium Mojave Desert, California, dan di hutan lebat Puerto Riko.

JAXA, UNIVERSITY OF TOKYO AND COLLABORATORS–Citra asteroid Ryugu yang dipotret menggunakan teleskop-kamera navigasi optik (ONC-T) yang ada di wahana antariksa Hayabusa2. Citra ini diambil pada Selasa (26/6/2018).

Kedua teleskop bertugas mendeteksi pelbagai gelombang yang berlalu lalang di antariksa, siapa tahu ada yang berasal dari peradaban lain. Dalam berbagai pengamatan sebelumnya, ilmuwan telah merekam sedikitnya 70 gelombang radio yang mengisyaratkan suatu pola komunikasi.

NASA melanjutkan keingintahuannya tentang semesta dengan proyek lain: Kepler. Observatorium antariksa itu bekerja sepanjang 2009-2018. Tugas Kepler adalah menemukan planet-planet seukuran Bumi yang mengorbit bintang dalam galaksi Bima Sakti dan ia sukses menjalankan tugasnya.

Hingga pertengahan Maret 2018, Kepler telah menemukan 2.342 eksoplanet dan mengungkap kehadiran 2.245 lainnya. Eksoplanet adalah planet yang berada di luar sistem tata surya. Lalu dicarilah planet-planet yang bisa dihuni dengan memenuhi syarat-syarat ini: tidak terlalu jauh dari bintang agar tidak terlalu panas, tetapi cukup panas untuk menghasilkan air di lautan sehingga bisa mendukung kehidupan.

Dua tahun lalu, NASA mengumumkan bahwa mereka mungkin menemukan planet mirip Bumi, yang mengorbit Proxima Centauri. Calon Bumi baru ini disebut Proxima b dengan ciri-ciri 1,3 kali lebih masif dari Bumi dan berjarak 7,5 juta kilometer dari bintang induknya. Bandingkan dengan Bumi yang berjarak 149,6 juta kilometer dari Matahari. Namun, periode orbit Proxima b lebih lama: 11,2 kali lipat hari di Bumi.

Mendekati akhir umur Kepler, NASA pada April lalu telah meluncurkan TESS (Transiting Exoplanet Survey Satellite). TESS didesain untuk memantau 500.000 bintang-bintang terdekat berikut planet-planet yang mengorbitnya, menjangkau antariksa 400 kali lebih luas dari Kepler, dan fokus pada planet-planet yang mirip Bumi, baik ukuran maupun kondisinya.

Kemarin (Selasa, 31/7/2018), penanggung jawab Program Eksplorasi Eksoplanet NASA, Elizabeth Landau, mengabarkan, TESS telah merekam ”konser” antariksa yang tak pernah berhenti. Meski manusia tidak mampu mendengarnya, ternyata bintang-bintang terbesar menghasilkan suara terendah dan terdalam, mirip dengan tuba dan bas. Sementara bintang-bintang kecil menghasilkan suara tinggi seperti flute. Matahari pun menghasilkan ribuan jenis gelombang suara, memantul dan bergema di dalam sistem tata surya kita.

Ternyata alih-alih menemukan gelombang komunikasi dari makhluk lain di antariksa, astronom menemukan konser harmoni antarbintang, suatu revolusi di bidang astronomi. Dengan mendengarkan konser ini, astronom dapat menentukan bintang terbuat dari apa, berapa umur, besar, dan kontribusinya dalam evolusi galaksi Bimasakti. Seperti sistem seismologi yang bisa membantu memprakirakan gempa dan aktivitas perut Bumi lainnya, memahami harmoni konstelasi bintang—disebut asteroseismologi—membantu memahami cara kerja bintang-bintang dan aktivitas semesta.–AGNES ARISTIARINI

Sumber: Kompas, 1 Agustus 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Inovasi Farmasi-Alat Kesehatan

Ada kesempatan dalam kesulitan. Pandemi Covid-19 ini membuka peluang bagi kita untuk meraih kesempatan menjadi ...

%d blogger menyukai ini: