Home / Artikel / Mau ke Mana Setelah SMA?

Mau ke Mana Setelah SMA?

MENJELANG akhir masa belajar di SMP sesungguhnya sudah harus memutuskan akan meneruskan pelajaran ke perguruan tinggi (PT) apabila kita bercita-cita meneruskan belajar di SMA Umum (SMAU). Andaikata tidak demikian, maka yang terbaik untuk dimasuki ialah SMA Kejuruan (SMAK). Akan tetapi pola mengambil keputusan seperti ini jarang terjadi pada masa ini. Karena itu di SMAU pada saat ini akan ada siswa yang memang telah bertekad untuk melanjutkan pelajaran ke PT akan tetapi akan adapula yang sebenamya masuk karena ikut-ikutan atau didorong saja.

Demikian pula di SMAK pada saat ini akan ada siswa yang memasuki sekolah itu karena yakin bahwa belajar di PT ada di luar jangkauannya. Akan adapula yang terpaksa masuk karena tidak dapat diterima di SMAU, walaupun ia sebenarnya ia ingin melanjutkan ke PT. Dari mereka yang memasuki SMAK karena merasa bahwa belajar di PT ada di diluar jangkauannya dapat kita bedakan mereka yang sudah yakin tidak akan kuat belajar di PT karena prestasi akademiknya tidak mendukung. Adapula yang prestasi akademiknya sebenarnya mendukung akan tetapi keadaan ekonominya yang kurang meyakinkannya untuk dapat belajar lebih lama lagi di PT.

Oleh karena itu baik di SMAU maupun di SMAK ada siswa yang kemampuan akademiknya cukup baik untuk melanjutkan pelajarannya di PT, walaupun yang di SMAU mungkin saja secara formal telah dipersiapkan lebih baik untuk menghadapi pendidikan akademik di PT. Tetapi juga baik di SMAU maupun di SMAK juga terdapat siswa yang kemampuan akademiknya tidak sesuai untuk melanjutkan pelajaran di PT. Untuk SMAK bagaiannya mungkin sekali lebih besar daripada untuk SMAU, sedangkan di SMAU sendiri bagiannya beragam bergantung dari tingkat kefavoritannya. Pada SMA. yang dimasuki oleh lulusan-lulusan terbaik SMP prestasi mereka yang lebih siap untuk belajar di PT akan jauh lebih tinggi dari pada SMA yang hanya mendapatkan siswa yang prestasi akademiknya termasuk rendah di SMP. Pola itu tampak dengan jelas dari jangkauan NEM Total (NEMT) SMP para siswa baru yang diterimadi SMAU.

Dengan demikian, kalau seorang siswa SMA bertanya-tanya di dalam dirinya apa yang sepatutnya dilakukan setelah menyelesaikan pelajaran di SMA, sebaiknya ia dapat menilai kemampuannya sendiri. Menilai kemampuan sendiri memang sulit dan dapat membuatnya terperosok. Kalau ia menilai dirinya lebih tinggi dari kemampuannya yang sebenarnya ia akan terperosok karena menghadapi kekecewaan tidak dapat meraih apa yang diharapkannya. Kalau ia menilai dirinya terlalu rendah, maka ia tidak dapat mengembangkan kemampuannya dengan sebaik-baiknya dan ia akan terperosok ke dalam jurang kekecewaan juga.

Tulisan ini dimaksudkan untuk membantu lulusan SMA menilai dirinya sendiri apakah ia termasuk cukup baik untuk memilih pendidikan jalur akademik di PT ataukah ia sebaiknya memilih pendidikan pasca-SMA yang lebih bersifat siap-pakai. Untuk keperluan itu akan dibahas persyaratan apa yang diperlukan sebagai persiapan belajar pada jalur akademik dan persiapan apa yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan siap-pakai.

DAYA NALAR, SIKAP INGIN TAHU, DAN CEKATAN
Adanya ujian saringan masuk ke PT didampingi oleh adanya kegiatan bimbingan test dengan tujuan melancarkan jalan seseorang untuk memasuki gerbang PT sering mengecoh kita semua bahwa yang penting agar kita dapat berhasil di PT adalah nilai-nilai ujian yang tinggi. Sesungguhnya, nilai rapor dan NEM yang tinggi hanyalah merupakan ukuran ketekunan belajar. Ketekunan memang diperlukan agar dapat menuntut ilmu dengan berhasil di PT. Akan tetapi, perlu disadari bahwa pendidikan akademik di PT dimaksudkan untuk membentuk seseorang menjadi penemu dan pengembang pengetahuan.

Untuk keperluan ini diperlukan lulusan SMA yang tinggi daya nalar dan sikap ingintahunya agar dapat dilatih daya cipta yang tinggi. Bagi pendidikan yang mengarah ke pengembangan pengetahuan menjadi teknologi di samping itu diperlukan pula kecekatan tangan seperti untuk pendidikan sarjana teknik mesin dan elektronika, dokter gigi, dokter ahli bedah, sarjana pertanian pemulia tanaman. Serta kesigapan fisik seperti untuk sarjana arkreologi, sarjana geologi dan sarjana biologi-lapangan.

MENGUKUR DAYA NALAR DAN PERINGKAT KEMAMPUAN
Nilai rapor dan nilai ujian akhir yang tinggi memang akan sangat membantu bagi lulusan SMA yang ingin menjadi mahasiswa di PT karena dapat mencerminkan kemampuan bernalar dan rasa ingin tahunya. Dari beberapa kajian yang dibuat diperoleh gambaran bahwa nilai rapor yang tidak kurang untuk matematika, fisika, dan kimia di kelas 1 SMA merupakan petunjuk bahwa seseorang memiliki daya nalar matematika yang memadai.

Kalau hal itu kemudian dikaitkan dengan NEM SMP yang diperolehnya setahun sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa lulusan SMP dengan NEM yang tinggi untuk Matematika dan IPA setahun kemudian di SMA akan terjuruskan ke jurusan A1, sedangkan yang NEM IPA-nya saja yang tinggi dengan atau tidak didampingi dengan NEM Bahasa Inggris yang tinggi, akan terjuruskan ke jurusan A2. Dengan perkataan lain, pola prestasi di SMP sebenarnya sudah dapat menjadi petunjuk apakah seorang siswa adalah bahan untuk PT atau bukan. Kalau kemudian disepakati bahwa SMAU adalah jembatan menuju PT, pola perolehan nilai di SMP itu juga sebenarnya dapat dipakai untuk menyimpulkan apakah seorang siswa SMP wajar memasuki SMAU.

Untuk jurusan A3 tidak diadakan kajian khusus. Akan tetapi agaknya dapat diperkirakan bahwa dari siswa jurusan A3 dan A4, yang agaknya akan dapat berhasil di PT ialah mereka yang menilai rapor dan NEM Matematika dan bahasa Inggrisnya tidak bernilai kurang. Kalau nilai rapor dan NEM rendah secara merata untuk baik mata pelajaran MIPA, IPS, maupun Bahasa, maka hal itu adalah petunjuk bahwa siswa SMA itu sebenarnya telah keliru menempuh jalan memilih SMAU sebagai sambungan pendidikan dari SMP.

Dari sejarah perolehan nilainya di SMP dan kemudian di SMAU seorang siswa dapat mencoba menilai dirinya sendiri apakah ia termasuk golongan yang daya nalarnya cukup. Sesungguhnya setiap lulusan SMAU yang tidak mendapatkan kesulitan dengan kemampuan bernalarnya yang diukur oleh prestasinya dalam bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam serta bahasa inggris, tidak akan menghadapi kesulitan mengikuti pendidikan akademik di PT di program studi apa pun, karena baik nalar matematika maupun nalar verbalnya jalan. Yang mungkin akan menjadi masalah baginya hanyalah tingkat keingintahuan dan kecekatannya.

Kalau seorang lulusan SMA hanya kuat dalam bidang biologi dan bahasaInggris saja, yang biasanya juga diiringi dengan prestasi yang tinggi dalam pelajaran ilmu-ilmu sosial, maka nalar verbalnya lebih lancar daripada nalar matematikanya. Kalau nilai matematikanya tidak bemilai kurang, maka ia besar kemungkinannya akan berhasil mempelajari bidang-bidang yang memerlukan kemampuan verbal yang tinggi, seperti biologi, sebagian ilmu-ilmu pertanian, aan ilmu-ilmu sosial yang bersifat kuantitatifseperti arkeologi dan ekonomi. Kalau nilai matematikanya lemah, maka bidang sifatnya merupakan pemecahan soal-soal rutin. Kalau sering dihadapi dalam latihan jawabannya dapat diterka dengan cepat. Ketiga pemenang A, B, dan C telah menjawab semua soal rutin itu dengan cepat, akan tetapi D telah menjawabnya dengan melalui proses berpikir terlebih dahulu. Karena itu ia kalah cepat. Anggota juri keempat menyisipkan dalam butir-butir uji yang diajukan itu permasalahan yang tidak dapat diterka yang agaknya sesuai baginya adalah ilmu-ilmu sosial yang bersifat deskriptif dan lebih banyak memerlukan nalar verbal daripada nalar matematika.

SIKAP INGIN TAHU DAN DAYACIPTA
Pada suatu ketika ada suatu lomba tangkas Matematika dari para peserta telah terpilih empat orang finalis. Empat anggota dewan juri kemudian menguji keempat finalis itu sendiri-sendiri. Tiga orang anggota dewan juri sepakat bahwa pemenang pertama, kedua, ketiga, dan keempat berturut-turut ialah A, B, C, dan D.

Anggota juri yang keempat menetapkan bahwa pemenang pertama, kedua, ketiga, dan keempat masing-masing ialah D, A, B, dan C. Tentu saja akhirnya yangputusan ketiga anggota juri yang pertama yang berlaku.

Mengapa sampai terjadi perbedaan penilaian seperti itu? Ketiga anggota juri pertama mengajukan butir uji yang dengan mudah karena memerlukan usaha penerapan, analisis, dan sintesis. Soal-soal seperti itu ternyata hanya dapat dijawab dengan baik oleh peserta D karena ia memiliki rasa ingintahu yang lebih tinggi. Orang ini lebih besar peluangnya untuk berhasil dengan baik menempuh pendidikan tinggi. Dalam kenyataannya ia memang sudah menjadi mahasiswa tingkat empat di program studi keteknikan mekanik pada suatu institut teknologi terkenal kelas dunia di pantai barat Amerika Serikat.

Hikmah yang ingin dikemukakan dengan contoh ini ialah bahwa nilai yang tinggi pada rapor maupun NEM hanya mencerminkan kemampuan siswa mencernakan dengan baik pelajaran yang telah ditedmanya. Tingginya nilai itu belum tentu juga mengukur sikap ingin tahu dan daya ciptanya dalam bidang pelajaran itu. Kalau butir uji yang diajukan hanya mengukur permasalahan yang dapat
diselesaikan dengan mengingat kembali pelajaran yang telah diterima sebelumnya, nilai perolehan sama sekali tidak mengukur sikap’ ingin tahu dan kemampuan berinovasi.

Karena itu, apakah siswa itu mempunyai sikap ingintahu yang tinggi ataukah ia sebenamya hanya lebih suka menggunakan pengetahuannya secara rutin, hanya dapat diukur oleh siswa itu sendiri. Kalau cara belajarnya sedemikian rupa sehingga ia selalu mempertanyakan semua pelajaran yang dihadapinya, maka hal itu adalah pertanda bahwa sikap ingintahunya, dan besar kemungkinan juga dayacipta dan sikap inovasinya tinggi. Siswa seperti ini agaknya akan dapat menjadi sarjana penemu atau pengembang pengetahuan baru apabila ia melanjutkan pelajaran di PT yang bersifat akademik. Misalnya saja menjadi ahli kimia yang menemukan senyawa kimia baru yang bermanfaat untuk industri atau menjadi ahli teknik penerbangan yang menciptakan rancangan bentang-sayap yang baru untuk pesawat terbang yang dapat melandas di landasan rumput yang pendek.

Kalau cara belajarnya untuk memperoleh hasil ujian yang baik adalah melalui penugasan pelajaran melalui usaha menghafal dan menguasai berbagai penerapannya, maka pekerjaan yang paling tepat baginya ialah pada kegiatan-kegiatan teknis yang rumit dan memerlukan kecermatan dan tanggung jawab yang tinggi, tetapi bersifat rutin. Misalnya saja menjadi penerbang, navigator, atau nakhoda.

KECEKATAN
Untuk berbagai pekerjaan tertentu kemampuan akademik yang tinggi ataupunpenguasaan pengetahuan teknis yang mendalam saja belum cukup sebagai prasyarat keberhasilan belajar. Bayangkanlah seorang mahasiswa teknik informatika atau elektronika yang sangat pandai tetapi tidak terampil menyolder ataupun selalu mendapat kesulitan meletakan mikrocip pada papan-induk. Sepandai-pandainya ia menguasai elektronika, ia tidak akan mampu membuat prototipe peralatan rancangannya. Demikian pula halnya dengan seorang mahasiswa kedokteran gigi yang tidak dapat mengarahkan bor atas dasar arahan yang diberikan oleh bayangan cermin. Apapula jadinya dengan mahasiswa kedpkteran yang tidak tahan melihat darah segar dan membedah mayat.

Selain itu, setelah seorang menyelesaikan pendidikannya dari PT, masih ada faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam pekerjaannya. Sebagian orang senang menekuni sesuatu permasalahan yang sempit, tetapi sebagian lagi lebih senang menangani permasalahan yang jangkauannya luas. Sebagai contoh dapat dikemukakan mengenai seorang dokter ahli telinga, hidung, dan tenggorok (THT) yang sejak masa mudanya senang akan matematika. Hanya keinginan orangtua saja yang menyebabkan menjadi dokter. Demikianlah pada suatu ketika sebagai dokter THT terkenal di Amsterdam, ia telah memenangkan suatu sayembara matematika yang jawabannya dipublikasikannya di majalah matematika.

Seorang guru besar matematika dari Universitas Amsterdam membaca makalah itu dan mendatanginya di tempat praktek. Ia mengatakan bahwa bahan makalah itu cukup baik untuk dikembangkan menjadi desertasi. Tanpa berpikir panjang lagi dokter THT itu menjual izin prakteknya dan kembali mendaftar sebagai mahasiswa pasca sarjana. Enam bulan kemudian ia selesai dengan desertasinya dan diangkat menjadi gurubesar matematika di Fakultas Pertanian Bogor. Ketika saya tanyakan kepadanya mengapa ia datang ke Indonesia bukan sebagai dokter ahli THT yang pasti penghasilannya jauh lebih lebih besar dari pada gurtibesar matematika ia tertawa. Jawabannya ialah bahwa sebagai dokter THT dunianya hanya terbatas pada telinga, hidung, dan tenggorok orang yang sakit. Sebagai guru besar matematika dunianya hanya dibatasi oleh daya khayalnya.

Kebalikannya, orang yang lebih senang menekuni permasalahan renik secara mendalam tidak akan tahan apabila diminta bekerja menangani persoalan yang luas jangkauannya dan saling berkaitan dengan permasalahan lain. Andaikan saja dokter THT tadi tidak mengambil spesialisasi THT melainkan Penyakit Dalam atau Kesehatan Masyarakat, mungkin saja ia tidak menganggap perlu mengubah profesinya menjadi ahli matematika.

Bangku yang tersedia di Perguruan Tinggi (PT) tidak sebanyak lulusan SMA yang ingin mendudukinya. Selain itu minat lulusan SMA memasuki PT maupun program studi di dalam PT itu berbeda-beda. Oleh karena itu, apabila seorang lulusan SMA mengetahui bahwa ia tidak tergolong yang terbaik di kelas, adalah suatu perbuatan sia-sia baginya apabila ia mem aksa hanya ingin masuk ke suatu PT yang banyak sekali peminatnya. Dengan demikian sangatlah berguna baginya apabila sebelum menentukan pilihan ia menyadari berapa peluangnya untuk dapat lulus dari ujian saringan memasuki PT tertentu.

MELAMAR KE PT MANA?
Kita telah membahas cara-cara menilai diri sendiri agar dapat memutuskan apakah kita akan mencoba bekerja saja setelah lulus dari SMAU, ataukah akan meneruskan pelajaran ke PT yang bersifat akademik ataukah profesional. Akan tetapi setelah itu kita masih akan terbentur pada permasalahan PT mana yang akan kita jadikan sasaran lamaran kita. Strategi memilih PT sasaran ini erat sekali hubungannya dengan kemampuan seseorang menilai dengan tepat peringkat kemampuan akademiknya sendiri. Peringkat kemampuan akademik ini berkat dengan kesiagaannya secara akademik untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi dengan berhasil.

Mari kita definisikan kesiagaan akademik pelamar ke PT sebagai suatu nilai yang mengukur kesiagaannya untuk dapat berhasil baik menempuh program akademik di PT. Nilai 0 menyatakan bahwa ia sama sekali tidak mempunyai dasar dan nilai 1 menyatakan bahwa ia memiliki kesiagaan yang terbaik. Kalau ukuran ini kita lambangkan dengan X, maka nilainya menyebar di dalam selang tertutup <0,1>. Di dalam populasi seluruh lulusan SMA kita anggap bahwa persebaran nilai X ini setangkup dari 0 hingga dengan 1, dan modusnya serta rataannya berimpit pada X = +.

Dalam kenyataanya, lulusan SMA mengetahui bahwa PT tertentu sulit dimasuki karena pelamarnya banyak. Karena itu dari populasi yang setangkup itu, hanya terutama mereka yang tingkat kesiagaan tinggi saja yang berani melamar. Pola persebaran tingkat kesiagaan akademik para pelamar ke PT seperti itu dengan demikian bergeser modus dan rataannya ke kanan.

Pada ekstrem yang lain ada PT yang tidak akan dimasuki lulusan SMA kalau tidak terpaksa. Karena itu dapat diterima bahwa yang melamar ke PT semacam itu hanyalah mereka yang merasa yakin tidak dapat diterima di PT golongan pertama tadi. Persebaran tingkat kesiagaan akademik para pelamar ke golongan PT seperti itu dengan demikian memiliki modus dan rataan yang bergeser ke kiri.

Di antara kedua ekstrem ini ada PT yang cukup banyak diminati calon dengan tingkat kesiagaan akademik yang tinggi, tetapi jumlahnya masih di bawah daya tampung perguruan tinggi itu. Karena itu juga selain calon yang tingkat kesiagaan akademiknya tinggi, mereka yang termasuk rata-rata dan di bawah rata-rata pun berani melamar ke PT semacam itu. Akibatnya persebaran nilai X para calon yang melamar ke PT semacam itu sama dengan pola persebaran di dalam populasi asal.

FUNGSI SEBARAN BETA
Fungsi sebaran teori yang dapat kita gunakan sebagai model persebaran tingkat kesiagaan akademik para pelamar itu ialah yang daerahnya berkisar dari 0 hingga 1 dan sifatnya kontinu. Fungsi ‘Beta’ memenuhi syarat untuk itu. Bentuknya ialah sebagai berikut:
‘a f = ‘/(‘+a) modus = (`-1)/(`+a-2)

2 4 1/3 ¼ (I)
4 4 ½ ½ (II)
4 2 2/3 ¾ (III)

Pada Gambar 1 persebaran nilai X dalam populasi asli yang setangkup dengan pasangan parameter (4,4). Di bawahnya tercantum ketiga jenis persebaran nilai X untuk pelamar-pelamar ketiga jenis PT itu.

HASIL SIMULASI
Berdasarkan pola minat memilih calon mahasiswa ke PT Negeri dan PT Masyarakat, suatu simulasi telah menemukan pola kesiagaaan akademik mahasiswa yang akhirnya dapat diterima di PT-PT sema,cam itu. Berdasarkan data masukan yang ada, agaknya 100% mahasiswa yang diterima di PT golongan III terdiri atas pemuncak 5% tingkatan nasional. ITB, Fak.Teknik UI, UGM, Tirsakti, dan UNPAR, Fak. Kedokteran UI, UGM, dan UNAIR, serta Fak. Ekonomi UI, UGM, dan UNPAR, agaknya termasuk golongan ini. Oleh karena itu seorang lulusan SMA yang termasuk peringkat 20% tertinggi misalnya kecil peluangnya untuk dapat menembus dinding PT semacam itu. Mereka yang berasal dari peringkat 5% saja masih ada yang diterima.

ITS agaknya termasuk ke golongan II. Demikian pula halnya dengan IPB, apabila penerimaan dilakukan dengan menggunakan sistem undangan bebas dari ujian saringan masuk. Apabila sistem seleksi dilakukan hanya menggunakan ujian saringan masuk saja, IPB akan termasuk golongan I saja dan mau tak mau akan menerima cukup banyak mahasiswa dari kelompok di bawah rata-rata. Dengan termasuk ke dalam golongan II, kira-kira 40% masukannya terdiri atas pemuncak 5% tingkat nasional dan sisanya pemuncak 15%.

Yang menyedihkan ialah golongan I, yang adakalanyamasih kemasukan mahasiswa dengan tingkat kesiagaan akademik jauh di bawah rata-rata. Akan tetapi ternyata pula bahwaPT seperti ini dapat dengan cepat berubah pola kesiagaan akademik masukannya. Di kelompok PT Negeri Indonesia bagian Barat ada suatu fakultas yang akhir-akhir ini tenaga akademiknya sudah banyak yang bergelar Master dan Doktor. Pada tahun yang lalu mereka harus menyisihkan 10 dari setiap 11 orang pelamar. Tekanan seleksi seperti ini akan menggeser kedudukan PT tersebut dari golongan I ke golongan II, apalagi kalau akhirnya lulusan fakultas seperti itu sangat banyak diminta dalam pasar tenaga kerja. Oleh karena itu bagi mereka yang merasa tidak termasuk peringkat pemuncak tertinggi akan tetapi masih tergolong di atas rata-rata, diperlukan mata yang jeli dan telinga yang tajam untuk menemukan fakultas-fakultas yang sedang berkembang seperti ini.

TEKANAN SELEKSI TERLALU LUNAK
Pendapat umum adalah bahwa kita harus menambah perguruan tinggi agarmeningkatkan daya tampung. Akan tetapi kalau kita ingat apa akibatnya tehadap pola kesiagaan akademik para mahasiswa baru, strategi itu tidak boleh diikuti. Sesungguhnya, jika dipandang dari segi lulusan baru SMA yang tersedia setiap ,tahunnya di Indonesia, banyaknya yang diterima di PT di Indonesia ini jauh lebih tinggi persentasinya daripada misalnya di Amerika Serikat. hal itu berarti bahwa di Indonesia jauh lebih banyak mahasiswa yang peringkatnyadi bawah rata-rata yang akhirnya terterima dalam program akademik di PT, sedangkan sudah menjadi kenyataan bahwa pendidikan akademik sangat berlawanan dengan filsafat berprestasi pas-pasan. (The University has no place for mediocrity). Masuknya terlalu banyak mahasiswa dari kelompok kesiagaan akademik 1/2 ke dalam sistem pendidikan tinggi dengan sendirinya akan mcnimbulkan masalah dalam usaha-usaha peningkatan mutu akademik lulusannya.

KESIMPULAN
Mendapatkan STTB dari SMA belum menjadi jaminan bahwa pemegangnya memiliki kesiagaan untuk belajar di PT. Ada sebagian lulusan SMA yang seyogianya membangun masadepannya bukan dengan berusaha menjadi mahasiswa di PT, yaitu mereka yang lemah penguasaan kemampuan komunikasi ilmiah maupun sosialnya, yaitu matematika dan bahasa. Bagi yang memiliki kesiagaan akademik yang cukup untuk meneruskan pelajaran di PT, maka dari yang terbaik, yaitu yang baik dayanalar metematika maupun dayanalar verbalnya sama kuatnya, perlu diketahui bahwa dari segi akademik mereka dapat berhasil diprogram studi harus dilakukan dengan seksama dengan memperhatikan kekuatan dan kelemahan khusus mereka masing-masing.

Selain itu ada sikap dan ketrampilan khusus tertentu yang seyogianya sudah dimiliki seseorang sebelum ia memasuki jenjang pendidikan tinggi. Mereka yang berniat menjadi penemu dan pengembang pengetahuna harus terbiasa akan slfat ingintahu, sedangkan untuk beberapa profesi tertentu ketrampilan hasta adalah suatu persyaratan yang mutlak harus dimiliki. Bagi mereka yang tergolong berprestasi di atas rata-rata tetapi tidak termasuk golongan pemuncak diperlukan suatu kedewasaan sikap untuk tidak “ngotot” berusaha memasukio PT favorit. Sebaiknya mereka menggunakan akal sehat untuk menemukan fakultas-fakultas yang sedang berkembang yang kini belum termasuk favorit akan tetapi masadepannya cerah.

Oleh: Andi Hakim Nasoetion, mantan Rektor IPB

Sumber: Majalah AKUTAHU/JUNI 1990

Share
%d blogger menyukai ini: