Home / Artikel / Manusia yang Kecewa, Kemuliaan yang Terlupakan

Manusia yang Kecewa, Kemuliaan yang Terlupakan

Semua ikhtiar keras ini didasarkan pada keyakinan bahwa keberadaan merupakan struktur yang selaras sepenuhnya. Sekarang kita mempunyai alasan untuk menjauhkan diri dari keyakinan ini — Einstein, 1934

Dalam tulisan bagian pertama, kita telah sepakat, bahwa harapan manusia untuk menempati pusat semesta tidaklah beralasan. Bahkan, semesta sen-diri, tidak mempunyai pusat. Bumi kita sama saja dengan benda-benda lain pengisi semesta, tidak ada kerebihan apa-apa. Kenapa harus ada lokasi istimewa untuk bumi, hanya karena bumi dihuni oleh manusia? Berdasarkan kenyataan ini, para kosmolog mengembangkan Prinsip Lokasi: “Kita tak mungkin mempunyai lokasi khusus dalam jagad”. Prinsip ini, bukan satu-satunya prinsip yang tidak sependapat, kalau kita diberi keistimewaan. Einstein adalah orang pertama yang menyadari itu, bahwa “semua tempat di dalam semesta adalah sama”. Kosmolog Edward Milne , tahun 1933, melengkapi pendapat Einstein dan menyebutkan Prinsip Kosmologi.

Menurut Prinsip Kosmologi, dimana pun kita berada dalam semesta ini pada suatu waktu, ke arah mana pun kita memandang, semesta senantiasa sama. Ini, berarti, semesta serba sama dan isotropis. Prinsip ini pun menjamin, bahwa hukum alam yang berlaku di setiap bagian semesta, selalu sama. Tentu, hukum ini bisa saja berubah, tapi dalam kurun pengamatan tertentu; kemana pun kita pergi, hukum alam tidak berubah. Dalam alam serba sama, semua tempat serupa, dan penghuninya patuh pada hukum evolusi yang sama.

Tapi, alam serba sama, bisa juga anisotropis. Misalnya, anda berlayar di lautan luas. Angin yang bertiup searah akan menyebabkan ombak bergulung ke satu arah. Lautan tetap serba sama, karena arah gelombang sama, tapi lautan tidak lagi isotropis. Di satu arah ombak datang, di arah yang berlawanan, ombak pergi. Demikian juga, semesta yang tak serba sama, bisa juga isotropis di satu tempat, tapi tidak di seluruh tempat. Secara lokal, semesta memang tidak iso-tropis dan homogen; lihat saja gumpalan materi, bintang dan planet yang tersebar tidak merata.

Suatu Kebetulan?
Prinsip kosmologi, kini, mendasari semua pemikiran kosmologi modern. Penemuan radiasi gelombang pendek, oleh Arno Penzias dan Robert Wilson tahun 1965, menjamin kebenaran Prinsip ini. Penzias dan Wilson, tak sengaja, mendeteksi radiasi bersuhu 3° K yang tersebar merata di seluruh bagian langit. Para kosmolog sepakat, bahwa energi dingin ini, merupakan sisa-sisa proses awal jagad yang suhunya amat tinggi. Karena semesta mengembang, suhu radiasi menurun.

Penemuan radiasi latar belakang sekaligus menunjukkan, bahwa isotropis, merupakan gejala semesta yang timbul sejak lampau. S.W. Hawking menghitung, bahwa isotropis yang diamati sekarang, hanya mungkin tercapai kalau di masa lalu semesta mengembang dengan kecepatan yang tepat. Kalau laju pengembangan ditambah, semua materi alam akan cerai berai, sehingga galaksi tidak mungkin terbentuk. Tapi, sebaliknya, kalau laju geralcnya terlalu lambat, gravitasi sempat bekerja menarik materi, sehingga dalam sekejap semesta ambruk lagi.

Dalam modelnya, Hawking meninjau kosmos ketika suhunya masih sepuluh milyar derajat, yaitu sedetik setelah Dentuman Besar (Big Bang). Ia, kemudian, mengurangi laju pengembangan semesta waktu itu dengan faktor sepersejutajuta (misalnya, dari 100 km/detik, menjadi 99,999999999999 km/detik). Apa yang terjadi? Dalam semesta, tidak akan pernah ada galaksi, bintang, planet, gunung, ikan paus, ular, apalagi manusia. Karena seratus ribu tahun setelah Dentuman Besar, semesta mulai amb ruk menuju keadaan sebelum Dentuman Besar Padahal, waktu itu,suhunya masih sepuluh ribu derajat.

Kenapa kecepatan pengembangan begitu ‘pas’? Hanya karena dalam alam semesta yang mengembang seperti itu , kehidupan cerdas akan lahir. Jadi, keberadaan manusia menuntut beberapa syarat pada semesta. Kalau syarat tidak terpenuhi, kesadaran tidak bisa hadir. Syarat itu, antara lain, harus ada sistem terikat gravitasi, misalnya bintang dan planet. Bintang merupakan sumber tenaga bagi sebuah planet —bahkan tanpa bintang, planet tidak pernah ada. Setelah planet terbentuk, harus ada skala waktu yang cukup panjang, sehingga kehidupan biologis punya kesempatan untuk berevolusi pada planet yang sudah “matang” untuk itu.

Pengamatan astronomis, menunjukkan, bahwa laju pengembangan alam semesta memang amat dekat dengan harga kritis. Kalau laju itu berkurang sedikit saja, syarat kedua tidak akan pernah dipenuhi. Kalau terlalu cepat, syarat pertama yang tidak terpenuhi. Penulis dapat menulis di AKU TAHU, dan ada yang akan membacanya, karena alam semesta mengembang dengan kecepatan ‘pas’ sehingga tidak runtuh. Tas’- nya laju pengembangan hanya salah satu contoh “kebetulan” yang ada di masa muda alam semesta. “Kebetulan”, karena sukar sekali mencari alasan kenapa alam semesta menjadi seperti sekarang.

Apalagi kalau kita juga meninjau bilangan-bilangan ajaib semesta (lihat Mengenang Karya Paul Dirac, AKU TAHU/ Des ’84 hal 48). Bilangan ajaib menyatakan hubungan antara satu tetapan semesta dengan tetapan lain, misalnya c (kecepatan cahaya) dengan G (tetapan gravitasi). Tetapan alam tidak berubah sejak semesta masih amat muda. Kalau kita yakin akan kebenaran teori inflasi Guth (lihat AKU TAHU/September ’84 hal 50), maka pada masa inflasi itulah tetapan alam ditentukan, yaitu ketika umur alam semesta baru seperseratus milyar trilyun trilyun detik.

Inflasi mendadak pada ukuran semesta menyebabkan Gaya Paduan Agung pecah menjadi gaya elektromagnetik, gaya kuat-dan gaya lemah. Gravitasi telah memisahkan diri lebih dulu: gaya inilah yang kini mengatur semua kegiatan alam’s semesta, dan memegang peranan penting dalam proses penyenipumaan dan pengembangan semesta. Kenapa ketika perpecahan Gaya Paduan Agung menghasilkan tetapan ajaib itu? Karena tidak ingin mencari jawab bagi pertanyaan yang salah, maka cara yang terbaik adalah mengakui Prinsip Antropik. Sebutan ini diusulkan oleh Brandon Carter (1974). Menurut Prinsipk Antropik, kesadaran dapat hadir, karena semesta mendukung kehadirannya. Pada tahun 1961, R.H. Dicke pemah pula menyatakan hal serupa. Kata Dicke, yang betul bukannya “Inilah semesta, maka harus seperti apakan manusia?”, melainkan “Inilah manusia, maka harus seperti apakah semesta?”

Jelasnya, kita boleh menyusun pertanyaan seperti ini: (/) Apa manfaatnya semesta tanpa keperdulian terhadap semesta itu sendiri?; Tetapi: (2) Keperdulian menuntut ke-hadiran kehidupan; (3) Kehidupan menuntut kehadiran unsur-unsur yang lebih berat daripada hidrogen; (4) Produksi unsur-unsur berat menuntut adanya reaksi termo-nuklir; (S) Reaksf termonuklir di pusat bintang memerlukan beberapa milyar tahun sampai terbentuk unsur berat; dan (6) Beberapa milyar tahun tidak mungkin tercapai kalau laju pengembangan semesta terlalu lambat. Jadi, kenapa semesta seperti ini? Karena, hanya dengan begini manusia bisa hidup. Hawking sendiri setuju dengan Prinsip Antropik. Baginya, laju kritis semesta merupakan konsekuensi dari kehadiran kita semua.

Kita boleh mengulang apa yang dikatakan Wheeler (lihat AKU TAHU/Januari ’84 hal 33), bahwa manusia bukan sekedar pengamat gejala alam, bangunan semesta sejak detik pertama penciptaah. Bunga mawar hanya ada dalam semesta kita; jadi, kalau seseorang diberi bunga mawar, ia pasti berada dalam semesta kita. Semesta lain punya hukumnya sendiri, dan kita tidak tahu apa-apa tentang hu-kum di sana. Yang jelas, kondisinya bedainan, bilangan ajaibnya pun berlainan (kalau sama, tentu kita sudah mengenal penghuninya).

Manusia Si Pemberi Makna
Banyak orang merasa kecewa, karena bumi tidak men-dapat keistimewaan lokasi. Tapi, kemuliaan bumi memang tidak ditentukan oleh lokasinya dalam semesta, melainkan karena di bumi kehidupan berkembang mencapai tingkat tertinggi: kesadaran. Dan kesadaran inilah, yang lahir sekitar satu setengah juta tahun lalu, yang ikut meran-cang pembentukan semesta sekitar 15 milyar tahun lalu.

Tanpa benaknya, semesta menjadi tidak berarti. Siapa akan bertanya tentang penciptaan? Siapa akan mencari jawab pada alam? Siapa akan memanfaatkan kemewahan alam? Dengan segala tingkah polahnya, manusia memberi makna pada semesta yang melahirkannya. Gogito ergo mundus talis est, aku berfikir, maka dunia ada seperti ini. Amin.

Oleh Karlina Leksono

Sumber: Majalah AKU TAHU/Maret 1986

Share
%d blogger menyukai ini: