Home / Artikel / Magellan dan Tidore: Titik Temu Timur-Barat

Magellan dan Tidore: Titik Temu Timur-Barat

Menyongsong peringatan ke-500 tahun ekspedisi laut pengeliling pertama dunia, Fernan Magellan, yang akan diselenggarakan Kerajaan Spanyol pada 2021, di Indonesia telah diawali oleh Pemerintah Kota Tidore Kepulauan bekerja sama dengan Komite Seni dan Budaya Nusantara dengan mengadakan seminar nasional pada 12 Februari lalu di Soasio.

Dengan tema ”Tidore-Ternate, Titik Temu Peradaban Timur- Barat”, seminar bertujuan menggali nilai dan semangat dari peristiwa spektakuler sejarah itu sebagai inspirasi dan motivasi untuk merancang dan memajukan pembangunan kawasan Indonesia timur, khususnya Tidore di masa depan.

Lintasan sejarah
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dalam pidato kuncinya menyambut baik tema seminar ini. Pertama, karena perspektif yang menekankan ”titik temu” menjadi penting sebagai keseimbangan untuk memahami sejarah kepulauan Nusantara yang umumnya dilihat dari sudut ”Eropa-sentris” atau ”Indonesia-sentris”. Kedua, agar dijadikan ”semangat zaman baru” sebagai penggerak kegiatan ekonomi kreatif dan kepariwisataan yang mengacu pada nilai-nilai sejarah, kebudayaan, dan tradisi masyarakat Kepulauan Maluku.

Demikian pula Wali Kota Tidore Kepulauan Ali Ibrahim yang mengemukakan agar momen ”500 Tahun Ekspedisi Magellan” nanti bergaung dan bermanfaat bagi kemajuan kawasan timur Indonesia, khususnya Maluku dan Tidore sendiri. Artikel ini mencoba merangkum substansi makalah penulis dengan pemikiran dan gagasan yang berkembang dalam seminar.

Agaknya tidak ada sejarah kawasan di Nusantara yang sebegitu rumit terkait konflik dan perang antarbangsa Eropa dan antarkekuasaan lokal seperti terjadi di Kepulauan Maluku dalam abad ke-16 sampai ke-18. Kehadiran empat bangsa besar Eropa saling berkelindan dan bergantian melakukan persekutuan atau perseteruan dengan Ternate dan Tidore karena faktor rempah, khususnya cengkeh dan pala.

Setelah menaklukkan Melaka, Portugis tiba di Ternate pada 1512 dan 10 tahun kemudian Spanyol di Tidore. Magellan sesungguhnya telah tiba pertama di Ternate bersama armada Portugis yang dipimpin Antonio de Serrao. Sekembali dari Ternate, sebagai orang Portugis, Magellan mengusulkan kepada rajanya, Manuel, untuk mendapat dukungan pelayaran ke Maluku tidak sebagai pelayaran Vasco da Gama ke arah timur. Namun, Raja Portugis menolak dengan dugaan karena alasan pelayaran ke barat, melintasi Atlantik dan Pasifik, suatu hal yang mustahil.

Kekecewaan Magellan justru memperkuat tekadnya untuk membuktikan bahwa rute pelayaran yang dipilihnya itu lebih singkat sampai di Maluku sekaligus membuktikan bahwa bumi itu bulat. Sementara itu, Raja Spanyol Charles I, yang cemburu terhadap Portugis karena lebih dahulu memperoleh keuntungan besar dari rempah, mensponsori proyek ekspedisi Magellan.

Terdiri atas lima armada, pelayaran Magellan mulai bergerak pada September 1519 dari Spanyol melintasi Atlantik,
menyusuri bagian timur Amerika Selatan sampai di ujung selatan, lalu memasuki Pasifik, maka tibalah di kepulauan Filipina
sekarang. Di sinilah, dalam usia 41 tahun, Magellan tewas pada 1521. Dua kapal yang masih bertahan, Trinidad dan Victoria, kemudian menuju Kepulauan Maluku.

Armada Spanyol tiba di Tidore pada November 1521 dan diterima dengan baik oleh Almansyur, Sultan Tidore. Dalam catatan orang Spanyol, Tidore telah lama berperang melawan Ternate. Tajamnya konflik antarkeduanya merupakan arus utama sejarah kawasan ini. Oleh karena itu, berdamai dengan sejarah untuk membangun keseimbangan baru dan kesejahteraan bersama merupakan pelajaran dari masa lampau yang sangat berharga.

Adalah kapal Victoria dipimpin Elcano yang akhirnya selamat kembali tiba di Sevilla pada 1522 dan dielu-elukan raja serta rakyat Spanyol. Meskipun Magellan tewas, dihitung dari pelayaran pertamanya ke Maluku pada 1512, berarti dialah orang pertama Eropa yang mengelilingi bumi. Dari pengalaman pelayaran Magellan itu pula fakta mengatakan bahwa jika berjalan ke timur kita akan kehilangan sehari, tetapi sebaliknya jika berjalan ke barat.

Episentrum yang hilang
Lalu, apa yang dapat dimaknai terkait peringatan ”500 tahun Magellan” bagi Indonesia? Peristiwa spektakuler sejarah dunia itu diharapkan dapat jadi momentum untuk ”mengembalikan” Tidore-Ternate sebagai episentrum perdagangan rempah dunia. Meskipun konteks tantangan zaman kini sudah jauh berubah, semangat sejarah mestinya dapat dihidupkan terlebih untuk mendukung perwujudan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Terkait hal itu, Wali Kota Tidore Kepulauan sudah mulai menggagas perluasan dermaga dan pengembangan kapasitas Pelabuhan Trikora di Tidore, yang akan disinggahi 40 kapal dari Spanyol menapaktilasi ekspedisi Magellan ke Tidore pada 2021. Pelayaran akan melalui 12 negara dan 23 kota. Titik tujuan pelayaran bersejarah tersebut berakhir di Tidore.

Bukan tidak mungkin dengan semangat ”jalur rempah” yang direkonstruksi sebagai tema narasi keindonesiaan, kelak ia akan mampu menggerakkan jaringan tol laut untuk pembangunan kawasan timur Indonesia yang masih banyak tertinggal. Tidak hanya itu, bangsa yang mengaku nenek moyangnya pelaut itu pun diharapkan bukan lagi sebagai penonton, melainkan aktif menggerakkan roda perekonomian dunia melalui jalur-jalur lautnya.

Susanto Zuhdi, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

Sumber: Kompas, 26 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: