Home / Artikel / Lejitkan Imunitas dengan Sikap Optimistis

Lejitkan Imunitas dengan Sikap Optimistis

Sejumlah besar riset menyimpulkan bahwa sikap optimis mampu melejitkan imunitas atau berpengaruh pada peningkatan kualitas imunitas selular. Sikap optimis mampu menekan stres tubuh, mengatasi radikal bebas dalam tubuh.

Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo umumkan sendiri dua orang warga negara Indonesia yang positif terinfeksi virus korona pada Senin awal Maret lalu.

Relawan dari sejumlah organisasi menyemprotkan disinfektan di sejumlah fasilitas umum di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Minggu (15/3/2020). Penyemprotan disinfektan seperti pada kursi, tiang listrik, tempat sampah, dan jembatan penyeberangan orang ini sebagai upaya dan antisipasi penyebaran virus korona baru atau Covid-19 di tempat-tempat umum. Penyemprotan dilakukan di sepanjang jalan dari Kawasan Kota Tua hingga Patung Kuda di Kawasan Monumen Nasional.–Kompas/Heru Sri Kumoro–15-03-2020

etika mengumumkan, presiden terlihat tenang. Sikap tenang atau optimis hal yang sangat diperlukan dari seorang pemimpin negara. Terlebih di saat dunia diselimuti kekhawatiran yang mengglobal.

Ketenangan dan sikap optimis masyarakat dibutuhkan karena terkait imunitas. Selain melakukan berbagai upaya medis, masyarakat perlu menjaga imunitas tubuh masing-masing dalam menghadapi wabah penularan virus. Imunitas adalah kekebalan individu terhadap penyakit. Imunitas mengenali penyakit, melokalisir, melemahkan dan atau melenyapkannya.

Secara umum imunitas tubuh diperoleh melalui dua jalan, didapat atau bawaan. Bawaan, bila semenjak lahir inidividu memiliki imunitas tersebut. Imunitas jenis ini umumnya berasal dari sel-sel darah putih, imunitas selular. Imunitas didapat, ialah imunitas yang tidak dibawa sejak lahir. Misalnya, imunitas terhadap cacar, campak, TBC, dll. umumnya berasal dari produk sel, imunitas humoral.

Sesuai perkembangan ilmu medis, imunitas didapat dibuat dengan cara merangsang individu menggunakan kuman yang dilemahkan. Disebut vaksinasi. Vaksin adalah sediaan biologis, berupa kuman yang dilemahkan atau bahan yang berasal dari kuman penyakit.

Pemberian vaksin ditujukan untuk memberikan kekebalan aktif yang didapat, kebal terhadap penyakit tertentu. Tujuannya supaya individu memiliki imunitas, memproduksi bahan imunitas, tetapi individu tersebut tidak menjadi sakit.

JALAA MAREY / AFP–Ilmuwan Israel bekerja di laboratorium MIGAL Research Institute di Kiryat Shmona di Israel, Minggu (1/3/2020). MIGAL menjadi salah satu lembaga yang sedang mengembangkan vaksin untuk covid-19.

Vaksinasi tidak boleh diberikan kepada seseorang yang sedang menderita sakit. Misalnya anak-anak yang sedang panas atau kondisi tubuh dalam keadaan lemah. Karena selemah apa pun kuman penyakit yang dimasukkan ke dalam tubuh, masih mungkin tubuh tidak mampu menangkalnya. Tubuh tidak mampu meproduksi imunitasnya.

Pemberian vaksin ditujukan untuk memberikan kekebalan aktif yang spesifik terhadap penyakit tertentu. Kehebatan vaksin juga terbatas pada penyakit infeksi. Penyakit metabolik, seperti diabet, jantung koroner, stroke, ginjal tidak bisa dikebalkan melalui vaksin.

Keunggulan optimis
Secara alami tubuh telah membawa imunitasnya sendiri. Imunitas yang dibawa tubuh bisa meredakan penyakit infeksi secara umum, infeksi apa saja. Imunitas tubuh juga bisa menahan penyakit metabolik. Pendek kata imunitas alami tubuh mampu menjaga tubuh dari gangguan penyakit apa pun. Untuk itu selain vaksinasi, upaya yang sangat baik adalah meningkatkan imunitas tubuh secara alami.

Bahkan pada perkembangan ilmu medis terkini, imunoterapi dipilih sebagai obat utama untuk menanggulangi penyakit keganasan kanker. Imunoterapi ditujukan agar tubuh pasien mampu melakukan upaya pertahanan terhadap sel-sel ganas, mampu membersihkan sel-sel kanker melalui sistem imunitasnya.

Terdapat sejumlah besar riset yang menyimpulkan bahwa sikap optimis mampu melejitkan imunitas. Jurnal ilmiah international besutan Elsevier, Personality and Individual Differences, mempublikasi pengaruh optimis terhadap peningkatan kualitas imunitas selular.

Cancer Journal besutan PubMed Central (PMC-NCBI), mengungkap kelebihan terapi peningkat imunitas selular pada kanker dibandingkan vaksin. Sikap optimis merupakan peningkat imunitas yang signifikan.

Lena Brydon dkk. menajamkan temuan peran sikap optimis dalam mempertinggi imunitas tubuh melalui riset molekulernya. Mereka mempublikasikan hasil temuan ilmiahnya melalui jurnal Brain, Behavior, and Immunity (Elsevier).

Riset molekuler pada periode terakhir tidak hanya menemukan peran optimis terhadap imunitas tubuh menghadapi penyakit infeksi. Riset yang melibatkan lebih 200 ribu peserta dari Amerika Serikat (AS), Eropa, Israel dan Australia, melibatkan peserta laki dan perempuan, menemukan bukti bahwa optimis mampu menurunkan resiko penyakit jantung dan stroke sampai 35 prosen. Temuan ini dipublikasikan tahun 2019 pada jurnal medis Journal of the American Medical Association (JAMA) Network Open.

Sesungguhnya optimis adalah keyakinan akan hasil atau dampak baik atas apa pun. Setiap apa pun diyakini mengandung sisi untung, menyenangkan, membahagiakan serta mensejahterakan.

Sikap optimis mampu menekan stres tubuh. Stres yang rendah dibuktikan dengan rendahnya radikal bebas. Radikal bebas mengoksidasi (membakar, merusak) sering disebut sebagai oxidant. Radikal bebas membakar apa saja yang bersinggunan dengannya. Obat yang digunakan untuk mengatasi kelebihan radikal bebas dipasarkan sebagai anti oksidan atau anti radikal bebas.

Pada saat radikal bebas rendah, tubuh justru memiliki derajat imunitas yang tinggi. Jadi pada orang optimis selain kadar radikal bebasnya rendah, yang berarti orang tersebut awet muda, imunitas tubuhnya tinggi, berarti orang tersebut sulit sakit.

Banyak cara untuk melejitkan sikap optimis. Antara lain dengan mengulang kata-kata yang bernilai optimis. Kata yang diulang-ulang akan diafirmasi tubuh. Kata yang diulang-ulang membawa kepada keyakinan, berdampak kepada perilaku, berwujud dalam seluruh aktivitas tubuh, termasuk aktifitas imunitas tubuh. Optimis menguatkan imunitas sebagaimana sejumlah besar temuan ilmiah di atas.

Kalau begitu betapa pun sudah dilakukan semua upaya, optimis terus kita jaga!

(Abdurachman Guru Besar FK Unair; Anggota Dewan Pakar IDI Jatim; President Asia Pacific International Congress of Anatomist-6)

Sumber: Kompas, 16 Maret 2020

Share
x

Check Also

Masa Depan Pendidikan Tinggi dan Universitas

Banyak ahli membayangkan sebuah dunia di mana universitas dan perusahaan bekerja sama untuk menata kembali ...