Kesempatan Kerja Pendidikan Vokasi

- Editor

Rabu, 10 April 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas melakukan uji benturan pada produk veleg mobil untuk mendapatkan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) di Laboratorium PT TUV Rheinland Indonesia, Jakarta, Rabu (17/12). Pemerintah memberlakukan wajib SNI terhadap 544 produk untuk mencegah serbuan impor dan produk kualitas rendah di pasar domestik. Produk wajib SNI itu terdiri dari tekstil dan produk tekstil (TPT), elektronik, dan mainan anak. Jumlah SNI di sektor TPT mencakup 521 produk, mainan anak 21 produk, dan elektronik 2 produk.

Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)
24-12-2104

Petugas melakukan uji benturan pada produk veleg mobil untuk mendapatkan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) di Laboratorium PT TUV Rheinland Indonesia, Jakarta, Rabu (17/12). Pemerintah memberlakukan wajib SNI terhadap 544 produk untuk mencegah serbuan impor dan produk kualitas rendah di pasar domestik. Produk wajib SNI itu terdiri dari tekstil dan produk tekstil (TPT), elektronik, dan mainan anak. Jumlah SNI di sektor TPT mencakup 521 produk, mainan anak 21 produk, dan elektronik 2 produk. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS) 24-12-2104

Penyelenggaraan pendidikan vokasi yang dimaksudkan mempermudah transisi dari pendidikan ke dunia kerja hingga kini belum berjalan mulus. Bahkan, transisi pendidikan ke dunia kerja itu lebih mudah bagi pendidikan umum, yang notabene siswanya tak dibekali keterampilan tertentu. Hal ini tecermin dari angka pengangguran SMA yang lebih rendah daripada SMK. Hasil Sakernas Agustus 2018 menunjukkan, angka pengangguran SMA (7,95 persen) lebih rendah daripada pengangguran SMK (11,24 persen).

Atas dasar itu, pemerintah dalam pembangunan SDM 2019 berupaya memprioritaskan pendidikan vokasi dan ini diharapkan dapat menjadi peta jalan pengembangan SDM ke depan yang akan dituangkan di RPJMN 2020-2024. Ada tiga poin rencana penting untuk perkuat pendidikan vokasi: (1) sinkronisasi pendidikan dan pelatihan agar selaras; (2) mencegah mismatch dunia kerja dan sektor pendidikan; (3) menetapkan kurikulum yang menekankan pada aspek magang, jika perlu hingga luar negeri.

Langkah ini mirip penyelenggaraan pendidikan vokasi di banyak negara Eropa. Adapun penyelenggaraannya menganut dual system, yaitu pendidikan vokasi secara ekstensif disertai keterlibatan siswa magang di perusahaan. Meski persiapan penyelenggaraan pendidikan vokasi tampak lebih baik, untuk mewujudkannya masih ditentukan faktor lain, yaitu keseimbangan pendidikan vokasi antarsektor dan kontinuitas kapabilitas lulusan vokasi dalam bekerja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk mewujudkan keseimbangan pendidikan vokasi antarsektor, pemerintah perlu memetakan kebutuhan tenaga kerja di setiap daerah berdasarkan potensi unggulan setiap daerah. Dengan pemetaan kebutuhan itu secara otomatis akan merepresentasikan kebutuhan tenaga kerja di setiap sektor dan tak hanya terkonsentrasi pada sektor tertentu, misalnya sektor industri. Dalam konteks ini, penyelenggaraan pendidikan vokasi diharapkan bisa merambah sektor lain, seperti pertanian, pertambangan, perdagangan, konstruksi, angkutan, keuangan, dan jasa kemasyarakatan.

Jika pendidikan vokasi terkonsentrasi, misalnya, hanya pada industri, hal itu akan menyebabkan kecilnya kesempatan lulusan vokasi bekerja di sektor lain dan menimbulkan ketimpangan pemenuhan tenaga kerja antarsektor. Bahkan, hal itu berpotensi memperlebar ketimpangan kesejahteraan antara perdesaan dan perkotaan.

Hal ini mengingat lokasi kegiatan industri umumnya di perkotaan sehingga akan kian meningkatkan produktivitas perkotaan. Bahkan, hal itu akan memicu laju urbanisasi hingga ke level tidak terkontrol, yang akan menyebabkan pemerintah kota kian sulit memenuhi kebutuhan hidup warganya, seperti perumahan, air bersih, pendidikan, dan kesehatan.

Untuk mewujudkan kontinuitas kapabilitas lulusan vokasi dalam bekerja, perlu ada upaya penyegaran pengetahuan serta keterampilan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Hal ini mengingat pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menjalani pendidikan pada awalnya link and match dengan kebutuhan dunia kerja, secara perlahan menjadi mismatch karena perkembangan pengetahuan dan teknologi (Hanushek et.al, 2015). Akibatnya, seiring perjalanan waktu, lulusan pendidikan vokasi akan mengalami penurunan kapabilitas dalam bekerja.

Negara yang banyak mengandalkan kemajuan iptek, seperti AS, kini malah gencar mengurangi keberadaan pendidikan vokasi dan kembali ke pendidikan umum (general education). Alasannya karena siswanya telah dibekali pengetahuan yang lebih luas, termasuk pengetahuan dasar matematika sehingga akan lebih mudah mengadopsi perkembangan pengetahuan dan teknologi (Hanushek et.al, 2015). Secara faktual, itu juga sejalan dengan pernyataan Krueger dan Kumar sebelumnya (2004) yang menyebutkan pendidikan umum secara spesifik mengajarkan berpikir analitik, sedangkan pendidikan vokasi mengajarkan keterampilan tertentu.

Boleh jadi rendahnya angka pengangguran SMA ketimbang SMK karena lulusan SMA lebih fleksibel terhadap kebutuhan dunia kerja. Sebelum mencari pekerjaan, lulusan SMA ditengarai melakukan persiapan dengan menambah pengetahuan melalui kursus keterampilan, seperti komputer, pembukuan, dan bahasa asing.

Maka, atas dasar itu, untuk meningkatkan peran pendidikan vokasi, pemerintah perlu melakukan persiapan matang, antara lain dengan mengupayakan pendidikan vokasi ke seluruh sektor serta mencari cara agar pengetahuan dan keterampilan pekerja lulusan vokasi selalu dapat diperbarui sesuai perkembangan kemajuan iptek. Pemerintah juga diharapkan dapat menciptakan iklim kerja yang mengadopsi promosi dan pengembangan karier lulusan vokasi agar mereka tak selamanya berkutat menjadi pekerja kerah biru (blue collar).

Razali Ritonga Pemerhati Fenomena Sosial-Kependudukan. Alumnus Georgetown University, AS

Sumber: Kompas, 10 April 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Duel di Jalur Hijau: Baterai Lithium-ion vs Hidrogen dalam Masa Depan Transportasi
Meniti Karier sebagai Insinyur Kendaraan Listrik. Panduan Lengkap dari Nol hingga Ahli
Menjadi Detektif Masa Depan. Mengenal Profesi Data Scientist yang Sedang Hits!
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Kamis, 5 Maret 2026 - 09:00 WIB

Duel di Jalur Hijau: Baterai Lithium-ion vs Hidrogen dalam Masa Depan Transportasi

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:38 WIB

Meniti Karier sebagai Insinyur Kendaraan Listrik. Panduan Lengkap dari Nol hingga Ahli

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB