Jaga Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi

- Editor

Jumat, 21 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laju pembangunan tidak boleh sekadar berorientasi pertumbuhan ekonomi. Keseimbangan ekologi harus dijaga agar daya dukung lingkungan di sekitar lokasi pembangunan itu lestari dan meminimalkan potensi bencana alam.

Penari dari Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung, menampilkan tari klasik Jawa Barat dalam konferensi internasional

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGAPenari dari Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung, menampilkan tari klasik Jawa Barat dalam konferensi internasional “Dinamika Politik Hijau” di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (20/4). Penampilan tari tradisional dalam ajang internasional menjadi salah satu cara mengenalkan kekayaan budaya Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Nilai ekonomi yang diambil harus seimbang dengan ekologi yang dipertahankan,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Apik Karyana dalam konferensi internasional “Dinamika Politik Hijau” di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (20/4).

Apik mencontohkan kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di sejumlah daerah. Dari sekitar 17.000 DAS di Indonesia, 108 DAS dalam kondisi kritis. Luas hutan juga terus berkurang akibat alih fungsi lahan. Hal itu dipicu pertambahan jumlah penduduk, pemanfaatan lahan untuk pertanian, dan pengelolaan lahan yang tidak memperhatikan konservasi.

Data Kementerian Kehutanan menyebutkan, pada 1985-1997 pengurangan luas hutan di Indonesia 22,46 juta hektar atau rata-rata 1,87 juta ha per tahun. Pada 1997-2000, penurunan luas hutan menjadi 2,84 juta ha per tahun (Kompas, 20/3/2017).

Apik menambahkan, pemerintah tengah berupaya mencegah luas hutan tidak terus berkurang. Sejumlah kebijakan telah dibuat untuk meningkatkan tata kelola hutan dan lahan.

Beberapa di antaranya, kata Apik, berupa moratorium izin baru di lahan gambut dan hutan primer serta pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Sarekat Hijau Indonesia Chairil Syah berharap konferensi ini bisa mencari solusi guna mencegah kerusakan lingkungan. Jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, dampaknya buruk bagi masa depan semua manusia di bumi ini. “Mari membangun komitmen untuk menjaga bumi keseluruhan,” ucapnya. (TAM)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 April 2017, di halaman 13 dengan judul “Jaga Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Masalah Keagenan Pembiayaan Usaha Mikro pada Baitul Maal wa Tamwil di Indonesia
Perkembangan Hidup, Teknologi dan Agama
Jembatan antara Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Manusia dalam Al-Qur’an
AI di Mata Korporasi, Akademisi, dan Pemerintah
Ancaman AI untuk Peradaban Manusia
Tingkatkan Produktivitas dengan Kecerdasan Artifisial
Menilik Pengaruh Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan
Daftar Peraih Nobel 2024 beserta Karyanya, Ada Bapak AI-Novelis Asal Korsel
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 16 Februari 2025 - 09:06 WIB

Masalah Keagenan Pembiayaan Usaha Mikro pada Baitul Maal wa Tamwil di Indonesia

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:57 WIB

Perkembangan Hidup, Teknologi dan Agama

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:52 WIB

Jembatan antara Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Manusia dalam Al-Qur’an

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:48 WIB

AI di Mata Korporasi, Akademisi, dan Pemerintah

Minggu, 16 Februari 2025 - 08:44 WIB

Ancaman AI untuk Peradaban Manusia

Berita Terbaru

Berita

Perkembangan Hidup, Teknologi dan Agama

Minggu, 16 Feb 2025 - 08:57 WIB

Berita

AI di Mata Korporasi, Akademisi, dan Pemerintah

Minggu, 16 Feb 2025 - 08:48 WIB

Berita

Ancaman AI untuk Peradaban Manusia

Minggu, 16 Feb 2025 - 08:44 WIB