Home / Artikel / Hepatitis B, Problema Dunia

Hepatitis B, Problema Dunia

HEPATITIS yang disebabkan oleh virus, merupakan penyakit endemis di Indonesia dan hampir sepanjang tahun ditemukan penderitanya di hampir semua rumah sakit kota-kota besar. Hepatitis berarti radang atau pembengkakan hati. Sedangkan hepatitis B merupakan proses peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Peradangan hati atau hepatitis itu sendiri dapat disebabkan oleh banyak hal di samping virus hepatitis, misalnya bakteri, amuba, alkohol maupun obat-obatan. Jadi virus hepatitis merupakan salah satu penyebab saja dari peradangan hati, namun demikian merupakan penyebab yang paling sering.

Menurut laporan WHO (Badan Kesehatan Sedunia), sekitar dua juta orang di dunia meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini. Karena itulah hepatitis B merupakan problema kesehatan di dunia. Di Indonesia, diperkirakan satu dari setiap 10-20 orang (5 – 10% penduduk) adalah pengidap kronis. Sisanya adalah mereka yang rentan terhadap penyakit ini, atau sudah pernah terinfeksi dan sembuh.

Sejauh ini dikenal tiga macam virus hepatitis, yaitu hepatitis A, hepatitis B, hepatitis non A non B (NANB). Menurut penemuan terakhir, ada lagi jenis virus lain, yakni hepatitis Delta. Namun di antara keempat tipe tersebut, maka yang dianggap sebagai masalah infeksi virus paling serius adalah hepatitis B. Hal ini disebabkan karena perjalanan klinis penyakit hepatitis B yang tidak dapat diramalkan dan sangat bervariasi bisa menjadi akut, subklinis, kronis sepanjang tahun dan bahkan bisa membawa kematian. Komplikasi serius dan dampak infeksi kronis hepatitis B beraneka ragam, namun yang paling populer ada-lah Sirosis Hepatis yakni jaringan hati yang telah diganti dengan jaringan ikat serta kanker hati atau Hepatoma.

Lesu dan Cepat Lelah
Infeksi sementara (hepatitis virus akut) umumnya mudah dikenali karena gejalanya yang khas, yaitu mirip gejala flu disertai lemas. mual dan tidak nafsu makan. Seringkali pada kasus yang berat menyebabkan muntah-muntah. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan “penyakit kuning,” karena berubahnya warna kulit dan bola mata menjadi kekuning-kuningan. Bagaimanapun beratnya keluhan. bila tidak terlalu fatal, sebagian besar dari penderitanya (90%) akan sembuh.

Bentuk yang kronik (infeksi menetap), gejalanya kurang khas dan sukar dikenali. Kadang-kadang tanpa gejala dan keluhan. Kerapkali baru diketahui lewat pemeriksaan general check-up. Penderitanya sering tidak mengakui dan tidak merasakan keluhan. Namun perlu waspada terhadap gejala lesu dan cepat lelah, mudah mengantuk, merasa tidak fit atau tenaga berkurang. Sebenarnya kalau diketahui lebih dini, perjalanan penyakit yang sangat panjang segera dikenal dan tindakan pencegahan pun telah dapat dimulai.

Dalam kenyataannya, ada orang terserang virus hanya menjadi sakit sementara lalu sembuh, sedangkan orang lain menjadi kronik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi demikian, di antaranya adalah keadaan daya tahan tubuh (imunitas), umur saat terkena in-feksi serta jenis kelamin. Seseorang dengan daya tahan tubuh yang baik, jarang menjadi kronik. Tentu saja keadaan daya tahan yang baik ini bisa dicapai jika seseorang dalam keadaan yang sehat, kondisi gizi yang prima serta mengikuti cara hidup sehat.

Ternyata umur pada saat terkena infeksi sangat berperan untuk menimbulkan keadaan kronik. Jika infeksi VHB terjadi pada masa bayi dan anak-anak, keadaan kronik lebih sering timbul dibandingkan bila. infeksi terjadi pada masa dewasa. Sebagai contoh infeksi pada bayi dari ibu hamil dengan VHB (+) yang ditularkan pada bayinya, maka kemungkinan menjadi kronik lebih besar dibandingkan bila infeksi terjadi pada masa dewasa, bisa sampai 6 – 9 kali lebih besar.

Di samping itu, keadaan kronik lebih jarang ditemukan pada wanita dibandingkan dengan pria. Ternyata infeksi VHB memang lebih sering ditemukan pada pria dibandingkan wanita.

Penularan Ibu ke Bayi
Penyakit hepatitis B memang bukan penyakit keturunan. Meskipun demikian para ibu hamil yang merupakan pembawa virus hepatitis B dapat merupakan ancaman bagi bayi-bayinya sendiri. Ibu ini dapat menularkan virus hepatitis B (VHB) pada bayi-bayi mereka selama proses persalinan. Cara penularan infeksi dari ibu ke anak secara demikian dikenal sebagai penularan VHB secara perinatal atau vertikal. Penularan seperti ini merupakan masalah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Pembawa VHB berpotensi menularkan virus ini kepada anggota keluarga lain maupun orang di sekitarnya. Khususnya, bagi pembawa VHB yang wanita, mempunyai risiko mengekalkan siklus penularan lewat jalan perinatal. Maka tidak mengherankan bila pada anggota keluarga dari seorang wanita pembawa VHB, ditemui ibu serta anak-anaknya sebagai pembawa VHB pula. Hal ini memberikan kessan bahwa infeksi VHB diwariskan turun temurun dari ibu ke anak, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Para pembawa VHB dapat dikenali dengan ditemukan adanya suatu komponen protein virus yang disebut antigenpermukaan (HBs Ag) pada pemeriksaan darah mereka. Pada sebagian besar kasus, pembawa VHB tidak menyadari bahwa mereka adalah pembawa virus hepatitis B, karena tidak ada tanda atau keluhan padahal sangat potensial untuk menularkannya.

Apabila ibu-ibu yang melahirkan sudah diketahui membawa VHB, maka dapat segera diambil tindakan pencegahan terhadap infeksi VHB pada bayi-bayi mereka yang baru lahir. Dewasa ini pemeriksaan untuk mengenali para ibu pembawa VHB sudah tersedia dengan biaya yang terjangkau. Lebih penting lagi, imunisasi efektif untuk mencegah penularan VHB perinatal sudah pula tersedia, sehingga upaya pencegahan infeksi VHB dapat berjalan lebih baik lagi.

Di samping penularan dari ibu ke bayi waktu persalinan (perinatal), juga melalui kulit dan selaput lendir. Penyebaran melalui kulit yang nyata misalnya transfusi darah yang mengandung VHB atau jarum injeksi bekas penderita atau pengandung VHB. Sedangkan penyebaran melalui selaput lendir antara lain melalui mulut atau kontak seksual. Penyebaran melalui mulut bisa terjadi jika bahan yang mengandung VHB sampai pada langit-langit atau selaput lendir mulut. Penularan oleh ludah melalui berciuman agaknya jarang terjadi, kecuali bila terdapat luka pada mulut. Sedangkan penyebaran melalui kontak seksual dapat terjadi karena air mani atau cairan vagina. kemungkinan mengandung virus.

Vaksinasi Hepatitis B
Karena belum ada obatnya, maka vaksinasi hepatitis B sebagai upaya pencegahan merupakan pilihan yang terbaik. Di Indonesia kini tersedia dua pilihan vaksin hepatitis B, yang pertama berasal dari plasma dan kedua dari ragi melalui proses rekayasan genetik.

Vaksin hepatitis B asal plasma dibentuk dari darah manusia. Dari darah penderita diambil an-tibodi HBsAg (Hepatitis surface Antigen) untuk kemudian diolah dan dijadikan vaksin. Sedangkan vaksin asal ragi dibuat tanpa melibatkan virus secara utuh, melainkan hanya dari sebagian saja. Potongan virus ini digabungkan dengan bakteri E coli dan dibiakkan dalam sel ragi. Dengan cara demikian dihasilkan jenis HBsAg yang sama.

Vaksinasi hepatitis B umumnya diberikan sebanyak tiga kali. Vaksinasi kedua diberikan satu bulan setelah yang pertama, sedangkan yang ketiga disuntikkan sekitar lima bulan setelah yang kedua. Vaksinasi ini dapat melindungi seseorang sampai 95%. Selain itu, vaksinasi hepatitis B juga mencegah terjadinya radang hati yang kronis serta kanker hati.

Prioritas vaksinasi ini adalah mereka yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi. Kelompok risiko tinggi untuk menderita hepatitis B adalah bayi lahir dari ibu pengidap HBsAg, dalam lingkungan keluarga ada pengidap, para petugas laboratorium, para dokter, perawat serta pelacur. (dr Anies).

Sumber: Suara Merdeka, 15 September 1990

Share
%d blogger menyukai ini: